NKCTH – Human Rights?

Komentar terhadap tulisan Bung Usman Hamid. Baca disini

Saya nonton film ini di bioskop yang penuh penonton, duduk di baris belakang bersama istri. Hanya berbekal info: “katanya bagus”. Sisanya biar nasib yang membawa.

Bioskop adalah ekosistem dengan komponen pop corn, softdrinks, french fries menyatu dengan reaksi alami sekitar: gumam, tawa, bahkan jerit penonton. Buat saya nonton ke bioskop bertujuan untuk menikmati solidaritas sosial sementara sekaligus anonim dan menghibur. Proses nonton di bioskop adalah ritual. Saya bukan tipe penonton rewel analitis. Biasanya gampang dibikin nangis oleh film. Tapi ritual NKCTHI ini punya gangguan yang membuat saya mulai membahas hal-hal yang nggak ada untuk diada-adakan alias rewel . Jadinya seperti ini:

Gangguan pertama. Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini menggunakan teknik kilas balik yang baru saya sadari setelah 10 menit film ini main. Bisa jadi karena kilas baliknya keseringan, sampai saya pikir ada dua keluarga. Baiklah, sebuah keluarga yang tumbuh dengan masalah-masalah rumah tangga. Walau belum tahu, apa sih sebetulnya masalah keluarga ini.

Keluarga ini terdiri dari bapak, ibu, dan tiga anak yang tinggal serumah. Keluarga yang berusaha bahagia. Bapak adalah seorang pemarah, posesif, penuh aturan. Anak sulungnya yang bernama Angkasa kerja di dunia tata panggung hiburan. Anak keduanya Aurora adalah seniman yang sedang membina karir, anak ketiganya, Awan adalah arsitek yang baru mulai bekerja. Sosok ibu tidak dominan dan banyak diam. Film ini penuh adegan marah-marah di rumah karena tokoh ayah yang over-protective terhadap anak terutama anak bungsu. Sementara kondisi Jakarta tidak memungkinkan untuk sang kakak sulung harus jemput-jemput adik tepat waktu. Si anak tengah lebih banyak berdiam di rumah menyiapkan pameran perdananya. Adegan-adegan yang memperpanjang adalah Awan yang sedang dekat dengan cowok yang bekerja sebagai manajer band. Gambaran keluarga di kota besar yang normal bagaikan tetangga kita di sebelah rumah. Tidak ada ketagihan narkoba, dikejar debt collector, korban pelanggaran HAM, trauma kekerasan seksual, perselingkuhan, penyakit, cacat badan, cacat mental, dan lain-lain. Ayahnya biasa-biasa saja. Tidak terjerat kemiskinan. Karyawan kantor tipikal kelas menengah, punya rumah, ada istri, ada anak-anak sehat yang berprestasi. Sebagai anak-anak mereka rileks karena steril dari stigma sosial seksualitas LGBTQ, misalnya.

Gangguan kedua: Jadi itu masalahnya? Itulah anehnya. Di masa lalu Awan tidak lahir sendiri. Dia punya satu saudara kembar yang meninggal di RS persis setelah lahir. Kematian ini dirahasiakan kepada Aurora dan Awan. Hanya Angkasa dan tentu ibu yang tahu, tapi selalu dilarang buka mulut. Kematian itu membekas pada bapak sehingga jadi posesif dan pemarah. Bukankah Tuhan masih memberi satu anak sehat untuk dibawa pulang ke rumah? Apakah jadi masalah?

Keluarga selalu punya duka. Kematian karena alasan alami walau pedih, adalah duka yang sangat sosial. Sehingga kesedihan itu sebetulnya cepat disembuhkan oleh keluarga yang masih hidup, tetangga, dan perjalanan hidup dengan pengalaman baru. Selalu ada yang membasuh, sehingga kesedihan berubah menjadi rasa syukur kepada kehidupan dan rasa manis mengenang yang meninggal. Apalagi kembarannya Awan, belum cukup untuk meninggalkan duka mendalam. Bahkan dia belum pernah berinteraksi sosial dengan keluarganya. Kita tidak asing dengan keguguran, bukan?

Sebagai penonton generasi 80-an, saya masih latah mencari moral of the story dari sebuah film. Tokoh ayah menggambarkan seorang lelaki yang tidak pandai mensyukuri apa yang dipunyai. Banyak kisah gelap bertema keluarga yang layak film, tapi bukan ini. Kalau saja bayi yang meninggal itu bangkit gentayangan menuntut hak hidup, now we are talking.

Apa yang menyebabkan Usman Hamid menganggap film NKCTH sebagai pintu untuk memahami Human Rights Indonesia ? Atau saya yang ketiduran di bioskop?

Diskusi tentang HR bermuara pada pelanggaran-palanggaran hukum yang melibatkan aktor-aktor institusi negara (aparat) sebagai pelaku kejahatan terhadap rakyat. Ketika negara menjadi aktor kejahatan terhadap rakyat, kejahatan itu dilindungi oleh undang-undang, ideologi negara, diperkuat dengan persenjataan negara, dan sejumlah kapital untuk memudahkan aksi-aksi menjadi sistemis, terorganisir. Bahkan kuasa negara memungkinkan untuk membuat sebuah kejahatan yang bersamaan dengan jalannya waktu tanpa pengusutan, dianggap menjadi normalitas hidup. Posisi korban selamanya menjadi korban yang bersalah, sementara posisi pelaku ongkang-ongkang kaki hidup aman. Setidaknya inilah sisi tergelap dalam kasus pelanggaran HR Indonesia tahun 1965.

Angkasa dan Bapaknya tidak terkait dengan histori pelanggaran human rights Indonesia. Mungkin mereka menjadi massa mengambang yang bingung walau tidak digelisahkan oleh issue tersebut.

Ingin kabur dari bioskop, tapi susah karena duduk terlalu belakang dan penonton ekstra penuh. Mereka menikmati dan memuji. Saya teralienasi sambil tendang-tendang kaki istri.

Anthropologist.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: