Ada di mana dunia maya itu?
Kita sudah terlanjur setuju bahwa internet adalah realita alternatif. Dia adalah jagad yang tercipta karena relasi-relasi antar mesin, sebuah dunia dibalik monitor LCD. Dia tidak nyata tapi ada. Cyberspace memang dipopulerkan oleh film fiksi ilmiah ketika komputer tidak lagi berdiri sendiri, tapi menjadi jaringan yang saling terhubungkan. Maka ketika listrik mati, ketika jaringan utama collapse, atau bahkan ketika orang-orang log-off, dunia itu menyempit – bahkan bisa bubar. Maka itu internet identik dengan dunia virtual. Atau sesuatu yang (sebatas) meniru persis dunia dan berfungsi sebagaimana dunia, tapi sesungguhnya “menipu” karena dia bukan dunia. Tapi apakah dunia virtual itu benar-benar berbeda dengan dunia tempat kita bernafas sehari-hari? Read more... (1046 words, estimated 4:11 mins reading time)
Solo – Poltabes Surakarta meminta kepada pengurus Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan di Kota Solo untuk menghentikan program penjualan paket buka seharga Rp 500. Alasannya demi menjaga kondusivitas karena ada sejumlah elemen masyarakat yang tidak setuju dengan kegiatan tersebut. http://is.gd/2Ef4S
Manusia adalah satu spesies yang membeda-bedakan spesiesnya sendiri dengan batas-batas sosial, agama, kelas, ras dan entah apa lagi. Sekelompok orang beragama yang direstui polisi merasa berpahala dan dicintai Tuhan ketika yakin bahwa menerima pertolongan dari umat berbeda agama adalah dosa.
Sungguh mentalitas yang sangat kerdil. Tuhan merekapun mungkin kerdil. Tapi Tuhanku tidak, sebab dia berbisik padaku tanpa embel-embel agama untuk mencintai semua orang tanpa kecuali. Read more... (162 words, estimated 39 secs reading time)
Identitas: hubungan sosial tidak pernah cukup.
Menanggapi siaran Roby Muhamad, saya tulis tanggapan singkat.
Relasi sosial dalam artian hubungan jaring-menjaring memang turut membentuk identitas seseorang. Ini sesuatu yang penting sekali dipahami untuk menjelaskan pada kaum esensialis (pemuja keutuhan identitas) bahwa identitas selamanya fluktuatif dan sementara sebagaimana hubungan sosial sangat dinamis.
Namun apa yang ingin saya tawarkan, adalah sisi lain dari identitas yang berada dalam proses pencarian terus-menerus dalam mengisi subjek (personhood, katakanlah). Ini menyangkut pada persoalan esensi bagaikan botol air yang tak pernah penuh. Keindonesiaan adalah contoh yang baik. Apa yang Roby Muhamad tawarkan adalah rasa kenyamanan karena relasi sosial. Namun bagaimana menjelaskan keinginan sangat subjektif (individual basis) untuk terus menggali keindonesiaan dalam diri terlepas dari banyaknya teman friendster+facebook kita? Read more... (349 words, estimated 1:24 mins reading time)