Tag Archive: malaysia


Berita emosional invasi teritorial Malaysia seakan bagai lagu lama menyeruak kembali di media. Minggu (9/10/2011) kemarin, Komisi I DPR mengatakan wilayah RI di Camar Bulan Malaysia hilang 1400 hektar dan di Tanjung Datu pantai RI hilang 80.000 meter persegi. Sentimen kebangsaan Indonesia hadir dalam menebalnya persoalan “kita” dan “mereka” dalam bentuk rasa gusar. Di sinilah nasionalisme bekerja, yaitu dalam membangun aspek identitas diri dengan menyentuh ruang-ruang emosional dan sentimental di wilayah publik. Dalam ruang imajinatif itu, bangsa selalu dibayangkan solid dan satu dalam identitas serta kemauan politiknya. Tapi apakah demikian?

Negara federasi Malaysia punya dua wajah “berkerut” yaitu Malaysia Barat (Semenanjung) dan Malaysia Timur (Sarawak dan Sabah) di Pulau Kalimantan. Orang Sarawak tidak terlalu merasa dekat secara emosional kepada orang Semenanjung yang dianggap pusat tamadun Melayu muslim, sementara orang Semenanjung menganggap Sarawak adalah kawasan dayak non-muslim yang tak berbudaya Melayu. Sementara Sabah sebagai sepotong kecil wajah Malaysia yang didominasi oleh perantauan Indonesia (Bugis, Toraja, Flores) dan Kadazan sebagai suku setempat (sebagian besar Kristen) yang merasa tidak terwakili oleh identitas monarki Kerajaan Melayu. Menghadapi hal ini aliansi Barisan Nasional yang digerakan oleh semangat Umno dan chauvinistik Melayu semenanjung memiliki apresiasi kultural kecil terhadap keanekaragaman etnis, budaya dan agama di Sarawak dan Sabah. Bahkan ada dua tanggal “kemerdekaan” yaitu 31 Agustus 1957 (Hari Merdeka) yang dianggap lebih penting di Semenanjung, dan 16 September 1963 (Hari Pembentukan Malaysia) yang justru kurang penting. Mengingat fondasi Malaysia yang sebetulnya kurang kokoh, wajar apabila pemerintah pusat di semenanjung sangat berat hati menghapuskan undang-undang Internal Security Act karena khawatir demokratisasi akan membawa ke arah separatisme di kawasan timur.

Hubungan yang romantis dengan Indonesia


Khusus untuk Malaysia Timur, realitas perbatasan (baik di kawasan Malaysia maupun Indonesia), tidak setegas garis merah di atas peta. Keindonesaan dan Kemalaysiaan bagi tiap warganegara di perbatasan membaur dan kontekstual akibat perjalanan sejarah yang sangat terkait dengan hubungan sejarah sosial yang hangat antara rakyat wilayah Kalimantan Utara bekas milik Inggris dan bagian selatan yang dulu dimiliki negara Belanda. Pembentukan Malaysia terkait dengan kekhawatiran Tunku Abdul Rahman yang pro Inggris akan gelora Sukarno yang hampir sukses mengajak rakyat Sarawak, Sabah, dan Brunei untuk bergabung ke Indonesia setelah lepas dari Inggris.

Sisa kedekatan historis antara Sarawak dan Sabah dan Indonesia masih terasa hingga kini. Dalam soal bahasa, orang-orang Sabah dan Sarawak menggunakan bahasa Indonesia dan bukan Bahasa Melayu. Orang Semenanjung mengatakan “krismas” sementara orang-orang di pedalaman Sarawak lebih suka menyebut “natal” oleh karena pendeta-pendeta yang didatangkan untuk menyebarkan berita baik berasal dari gereja-gereja Indonesia. Persoalan ketegangan invasi teritorial seperti insiden Ambalat dan Sipadan-Ligitan, tidak pernah berhasil mengusut sentimen permusuhan. Dalam obrolan warung kopi, biasanya orang Sabah atau Sarawak hanya berkomentar: ” biar saja itu urusan orang Jakarta dan KL, kita di sini damai saja”. Orang Dayak Iban yang sebagian besar mendiami kawasan Sarawak masih meyakini bahwa nenek moyang mereka berasal dari Sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Demikian pula orang Dayak Iban yang minoritas di Indonesia merasa bahwa Sarawak juga bagian tanah airnya sebab sanak famili mereka tinggal di sana.

 

Negara Indonesia hadir dengan batas-batas yang mempartisi pergerakan orang dibanding dengan pelayanan sosial. Dari dulu urusannya patok-patok saja. Kehadiran negara secara kultural dalam mendeteksi mana subjek Indonesia dan Malaysia justru ada lewat tanda vaksinasi cacar dan perbedaan pengucapan alfabet. Dayak Malaysia sudah lebih terjangkau medis dibanding kita, sehingga mereka divaksinasi negara. Kehadiran negara muncul lewat politik tubuh dan juga linguistik. Dayak Indonesia di Kalimantan Barat akan mengeja nama dengan fonetik “a, be, ce, de” sementara saudara transnasionalnya: “ei, bi, si, di”.

 

Malaysia memang menjadi magnet masa kini untuk mendapatkan hak-hak dasar sebagai manusia modern yaitu pekerjaan, pendidikan dan pelayanan publik yang terjangkau. Ruang kultural bagi warga Dayak di Indonesia sempit dengan kenyataan bahwa semakin ke selatan Kalimantan, konfigurasi budaya Melayu muslim yang anti babi dan tattoo lebih dominan. Artinya orang Iban Indonesia yang bergerak mendekati pusat kekuasaan malah menjadi semakin terasing.

Sabah juga memberikan gambaran Malaysia yang jauh dari bayangan kita tentang Melayu. Berbagai sektor pekerjaan yang dibutuhkan di Sabah mengikuti prinsip stereotip etnis dan pergerakan kapital. Untuk urusan pekerjaan sawit, serahkan pada orang Flores, untuk urusan pekerjaan restoran dan pembantu rumah, orang Jawa lah ahlinya. Untuk urusan buruh kasar digeluti oleh suku Bajau Filipina atau Toraja sementara Bugis berdagang atau Dayak lebih cocok kerja kayu di hutan. Sementara bagi penduduk Sabah, orang Melayu tidak suka bekerja keras, mereka lebih betah di semenanjung. Kabar gembiranya, ini adalah suatu kehidupan multikultural yang kebal konflik, namun buruknya stratifikasi kelas warga Indonesia di Sabah tetaplah buruh relatif kasar. Tentu Sabah memang Malaysia secara yuridis, namun realitasnya sangat dekat Indonesia.

 

Soal patok-patok batas yang yang menjadi pembicaraan elit di Jakarta mungkin memang penting dalam tatatanan simbol harga diri bangsa. Namun kelak seharusnya anggaran Indonesia yang dewasa akan lebih diarahkan pada perbatasan kultural, batas-batas emosional sebagai landasan yang lunak tapi kokoh untuk kerjasama daripada terfokus pada partisi-partisi kedaulatan yang mendatangkan perasaan saling curiga.

 

Kompas Opini, 13 Oktober 2011

 

TKI di Malaysia Unjuk Rasa Protes LSM Indonesia (ANTARANEWS 12 Oktober 2009)

 

Dalam demo itu, para TKI yang bekerja di sektor pertanian, konstruksi, dan pembantu rumah di sekitar Cameron Highlands, membawa pamflet yang di antaranya bertuliskan, “Kami Aman di Malaysia”, “Terima Kasih Pahang & Malaysia”, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan NTR (Najib Tun Razak) pemimpin terbaik”. Para TKI itu menyesalkan sebagian rakyat Indonesia yang kurang menerima penjelasan mengenai isu tari Pendet Bali hingga menimbulkan sentimen anti-Malaysia.

Belakangan ini aksi organisasi2 pembenci Malaysia di tanah air memang makin marak marah-marahnya. Sudah buka posko, pasang poster, dan menerima pendaftaran relawan-relawan (mencapai 1500) yang siap dikirim menghancurkan musuh (dan rela pulang dalam bodybag). Dendam kesumat warga Indonesia ini adalah sentimen kolektif yang menyebar dan berbuah “pengorganisasian patriotisme” dalam bentuk rencana penggalangan massa untuk invasi Kuala Lumpur. Tapi, mengapa justru TKI yang rencananya kita bela dengan nyawa itu malah sewot? Ada apa?

 

Ada dua kemungkinan yang bisa menjelaskan.

Pertama: orang Indonesia menganggap bahwa budaya itu properti material. Ketika pendet diaku sebagai milik Malaysia maka kita bayangkan persoalan copyright, hak paten, hak properti intelektual yang tak pernah diurus negara bagi properti budaya. Wacana yang berkembang kemudian adalah pencurian budaya. Tapi apakah budaya bisa dicuri? Di sini kita marah dan terpicu sentimen nasionalisme-nya. Alih-alih ingin menegakkan harga diri, sebetulnya yang diharapkan para relawan anti-Malaysia adalah kebijakan negara Indonesia yang membuat semua budaya menjadi properti ekonomi dalam paradigma kapitalisme. Dalam sistem ini, segala hal bisa dibuat menjadi komoditas, di-objektivisasikan, diberi harga dan dilindungi hukum berupa sanksi pelanggaran terharap pencurian. Menempatkan budaya sebagai komoditas itu sama dengan menyamakannya dengan minyak bumi, ikan, dan hasil-hasil bumi lainnya. Tegasnya, budaya diturunkan derajatnya jadi sekedar materi

Kedua: orang Indonesia (di negeri sendiri) menganggap bahwa fasisme dan rasisme adalah ideologi yang tepat. Ini adalah sikap bangsa yang cenderung xenophobia. Kita ingin menjadi bangsa besar yang naik panggung sendirian. Bangsa terbaik dari segala bangsa. Bangsa paling berkualitas. Oleh karena itu purifikasi sangat penting dimana segala hal menyangkut “ini milik kita” dan “ini milik mereka” harus sejelas perbedaan hitam dan putih. Pelanggaran terhadap hal ini artinya baku-hantam. Sejarah peradaban dan studi antropologis justru menunjukkan bahwa purifikasi budaya adalah obsesi para utopis yang kalaupun terjadi akan bersifat sangat artifisial, mematikan kreativitas, memiskinkan dialog dan melahirkan tindakan-tindakah khas orang kalah: radikalisme, genosida, fanatisme, dan terorisme.

Gabungan dari dua kecenderungan diatas sangat relevan dengan skema-skema neo-liberalisme. Memetakan semua hal menjadi komoditas sumberdaya yang harus direbut, dijaga, diakumulasikan dan dihitung seperti kapital ekonomi bertaruh nyawa. Inilah strategi ekonomi dunia sekarang yang menempatkan segala ruang sebagai arena gladiator ekonomi. Bagi saya hal ini sangat mengkhawatirkan, menjijikan dan patut dikasihani.

Apa yang krusial dilupakan oleh para relawan yang siap pulang dalam body-bag itu adalah kemampuan budaya sebagai alat diplomasi dan dialog yang terbukti dalam sejarah peradaban. Seharusnya, semakin tersebar sebuah unsur kultural, maka semakin terujilah kemampuan diplomatisnya sebagai bahasa yang menjembatani banyak perbedaan. Bagi saya, seharusnya kita bangga dan sangat bangga jika unsur budaya Indonesia bukan hanya dipakai tapi diakui negara lain. Sebab segala hal kultural bergerak bersama dengan dengan dinamika manusianya. Melalui perantau, para migran, musafir, kolonialisme, dan kaum diaspora dimanapun dimuka bumi budaya berkembang, menyebar dan meresap ke dalam berbagai lokalitas di berbagai tempat menjadi budaya setempat. Masalah pengakuan tidak dapat diterjemahkan sebagai tindak pencurian, sebab tidak ada sama-sekali kerugiannya. Kontribusi kultural Indonesia jauh lebih penting daripada menempatkan properti budaya sebagai fosil yang dikultuskan.. sebagai magnet bercahaya bagi turis (yang bawa duit?).

suka atau tidak, (Retro) Ganyang Malaysia adalah sakit hati khas para NeoLib.. yang anehnya teriak-teriak anti Neo-Lib.

© 2012

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache