Mengkritik adalah hal biasa. Siapapun melakukan. Malah ini sebagai satu cara mengajak orang lain melihat dari sisi yang berbeda. Maka kritik harus diterima secara positif. Ada orang-orang yang sudah terbiasa dianggap benar. Maka dia tidak tahu kalau dirinya bisa salah. Ada juga orang yang selalu disalahkan. Maka ketika dia berbuat benar, dia tidak merasakannya. Kritik menyeimbangkan itu.

Tapi tidak semua orang biasa dengan kritikan. Keseringan dianggap benar, dianggap hebat, dianggap kaya, dianggap sempurna membuat orang tidak siap dengan sisi-sisi “opposite”, dalam dirinya. Ketika kritik datang reaksinya jadi berlebihan. Padahal apa sih ruginya? Uangnya jadi kurang? Pamornya jadi hilang? Nasibnya jadi jelek? Cantiknya jadi pudar? Saya pikir tidak. Malah seharusnya otaknya jadi mikir.

Hanya karena kita hidup enak, mudah, kaya, dan berlebih, sering kita anggap dunia tidak ada persoalan. Hanya ketika kita mujur, selamat, sehat, berdeposito, berasuransi, ber-blackberry, ber-facebook haha-hihi. Kita lupa ada orang sekarat dan sakaratul maut dengan kemiskinan entah dimana. Dan puncak ajaibnya, hanya karena kita mengalami semua keberuntungan dunia dan merasa paling kuat, justru kita paling lemah pada satu hal. Apa itu? Kritik.

Dunia sekitar saya seperti itu. Maka saya mengkritik. Untuk kebaikan kita, juga untuk kebaikan saya.