Dalam sebuah konferensi TI Asia Pasifik 12-14 Juni 2009 di Penang, teknologi wajanbolic yang merupakan parabola dari wajan masak mendapatkan “paten” sebagai khas Indonesia hasil dari pemanfaatan kreatif “kearifan lokal” dapur yg sangat murah. Para peserta konferensi internasional itu pada kagum berat. Tapi kemudian istilah lokal tersebut jadi persoalan dan diganti seperti dimuat di detik.com :
Tentunya akan aneh di luar negeri jika kita menggunakan istilah ‘wajanbolic’ untuk antena parabola buatan Pak Gunadi karena ‘wajan’ adalah bukan bahasa Inggris. Akhirnya, digunakan istilah ‘Wokbolic’ sebagai pengganti ‘Wajanbolic’ dalam bahasa Inggris. Terdengar aneh memang, namun memang begitulah adanya. ‘Wok’ adalah ‘Wajan’ dalam bahasa Inggris. Barangkali ini merupakan kontribusi bangsa Indonesia kepada bahasa Inggris dan dunia internasional. Read more... (734 words, estimated 2:56 mins reading time)
Identitas: hubungan sosial tidak pernah cukup.
Menanggapi siaran Roby Muhamad, saya tulis tanggapan singkat.
Relasi sosial dalam artian hubungan jaring-menjaring memang turut membentuk identitas seseorang. Ini sesuatu yang penting sekali dipahami untuk menjelaskan pada kaum esensialis (pemuja keutuhan identitas) bahwa identitas selamanya fluktuatif dan sementara sebagaimana hubungan sosial sangat dinamis.
Namun apa yang ingin saya tawarkan, adalah sisi lain dari identitas yang berada dalam proses pencarian terus-menerus dalam mengisi subjek (personhood, katakanlah). Ini menyangkut pada persoalan esensi bagaikan botol air yang tak pernah penuh. Keindonesiaan adalah contoh yang baik. Apa yang Roby Muhamad tawarkan adalah rasa kenyamanan karena relasi sosial. Namun bagaimana menjelaskan keinginan sangat subjektif (individual basis) untuk terus menggali keindonesiaan dalam diri terlepas dari banyaknya teman friendster+facebook kita? Read more... (349 words, estimated 1:24 mins reading time)
Tutup mata dan bayangkanlah visualisasi Indonesia. Apa yang tergambar? Batik, Borobudur? Pohon Kelapa? Perempuan coklat? Saur Sepuh? Sekarang buka lagi mata dan tutup lagi: Mall? Fastfood? Bioskop 21? Blackberry? Sour Sally?
Sulit mendapatkan gambaran utuh sintesa masa lalu dan masa kini dalam visualisasi Indonesia demi sebuah national cultural branding. Adakah tipografi yang khas Indonesia? Ornamen? Suara? Bau?
Keindonesiaan selamanya obsesif dan sugestif. Kita merasa tidak punya dan terus mencarinya, tapi kita juga sangat yakin itu ada. Sesuatu yang sangat Indonesia seperti merah putih, garuda yang jelas nongkrong secara resmi adalah identitas formal. Katakanlah konsensus. Tapi kering. Garuda tidak pernah muncul kecuali dibingkai kaca, merah putih terlalu sakral untuk jadi Tshirt-funkee, Indonesia Raya tidak boleh diubah aransemennya, Borobudur, ah cukup Indonesiakah itu? Walau Kecap Borobudur sangat Indonesia banget termasuk Bango, Merak, Udang Sari. Read more... (298 words, 1 image, estimated 1:12 mins reading time)
Angklung dalam Keindonesiaan Kita
Iwan Meulia Pirous
Sentimen kebangsaan selalu membutuhkan serentetan ikon budaya kongkret. Banyak orang Indonesia yang khawatir bahkan bersikap reaktif terhadap tangkasnya negara tetangga kita Malaysia yang mengakui angklung, batik, reog sebagai kesenian nasional mereka. Kekhawatiran ini mengarah pada harapan bahwa negara harus kongkret melindungi kesenian khas bangsa Indonesia untuk kepentingan identitas nasional. Intinya, jika ingin mengangkat properti budaya yang khas menjadi identitas yang representatif bagi bangsa, maka syarat utamanya adalah properti tersebut harus terlibat dalam kesejarahan bangsa untuk memenuhi visi otoritas ke masa lalu, sekaligus juga populer dalam imajinasi kolektif pada waktu sekarang untuk visi masa depan. Bangsa-bangsa modern yang tangguh setia mempertahankan prinsip ini untuk lestari. Angklung adalah elemen budaya yang terlibat dalam dua gaya tarik tradisional-modern sehingga menarik diisyukan sebagai ikon bangsa yang potensial dan kongkret. Read more... (757 words, 1 image, estimated 3:02 mins reading time)