Pola “Banking Education” dianggap sebagai pola pendidikan ideal semenjak masa kolonial. Dari kecil kita diajari banyak hal di sekolah. Otak yang “kosong” ini diisi terus oleh orang-orang dewasa: guru-guru kita sendiri, agar mejadi “mereka”. Di tengah kebutuhan standar global, sekolah menjadi mentereng mahal, prestisius dan menampung kelas ekonomi mampu agar menjadi “aktor global keren”.
Paulo Freire sudah mengingatkan sejak tahun 1970-an bahwa dunia pendidikan tidak pernah memberikan otonomi bagi anak. Tujuan pendidikan sudah melenceng dari kebutuhan menciptakan generasi kreatif, bahagia, dan bermental bebas menjadi seperangkat metode menciptakan buruh-buruh industri siap kerja dalam sebuah kelas stagnan.
Bahkan sistem Ki Hadjar Dewantara: di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung” yang diciptakan olehnya dalam konteks kebencian pada kolonialisme yang menciptakan kelas budak berjiwa kerdil sudah kalah oleh tuntutan industri yang membutuhkan sekrup-sekrup baru “kelas pekerja”. Sebuah dehumanisasi massal yang memiskinkan batin.
Anak kecil bukan orang dewasa kecil. Anak memiliki daya imajinasi luar biasa dan otonom. Mereka adalah subjek bebas yang kreatif. Beri dia pinsil maka dia akan menggambar, beri dia sekumpulan kardus bekas maka Ia membangun sarang, rumah-rumahan atau bahkan benteng pertahanan. Lalu bubur kertas jadi gunung berapi, dan satu rak sepatu jadi barisan kapal-kapal perang di Pearl Harbor. Kalau ingat Laskar pelangi, murid-murid Taman Siswa mungkin kucel dari luar, tapi batinnya kaya di dalam.
Tapi surga anak kecil pun tega direnggut atas nama standardisasi modern. Dari kecil otonominya dalam menentukan pilihan dipenjara dalam dunia politically correct orang dewasa. 
Sumber: http://www.bpkpenabur.or.id/userfiles/image/SDK%209/KIDZANIA/KidZania16%20092.jpg
Sebuah dunia yang berbahasa ekonomi pasar-global. Bahkan dengan cara-cara canggih yang sistemik, yang bermuka manis “edutaiment”. Sebuah wahana bermain “Taman karir” dibangun di mall kota Jakarta. Isinya adalah kota virtual penuh lapangan kerja dewasa yang hampir realistis, sehingga anak tidak perlu mengeluarkan energi untuk berimajinasi kreatif. Profesi standar sudah tersedia bagaikan cetakan yang siap membentuk otak polos sang anak sesuai dengan “gambaran ideal peradaban”. Dengan modal sekitar 100 ribu rupiah, imajinasi itu tersedia di Kidzania. Instant!!
Aku melihat anakku membuat cumi-cumi raksasa, kapal bajak laut dan pesawat terbang dengan modal kertas bekas. Aku tak mau kreativitasnya tercuri oleh imajinasi instan Kidzania. Sebuah penghinan yang tak bisa aku terima. Aku juga masih berhutang padanya: membantunya membuat rumah di atas pohon (kami tidak punya pohon), serta sebuah go-kart kayu (nah ini karena belum ada waktu, Bapak buruh yang sibuk).
Selamat hari Pendidikan Nasional semoga masa depan anak Indonesia lebih baik lahir dan batin.
(lihat di politikana )


