Tag Archive: Ben Anderson


Minimnya perolehan suara untuk partai-partai bernuansa Islam dalam perhitungan suara sementara pemilu 2009 kali ini menimbulkan pertanyaan: mengapa 80 persen penduduk muslim di Indonesia hanya memberikan angka dibawah 10 persen untuk partai-partai Islam, bahkan untuk PKS yang berkampanye paling progresif? Apakah artinya umat muslim kurang religius? Dalam menjelaskan ini kita harus memahami dimensi sosial kehidupan religius yang mengarah pada sentimen kebangsaan atau lazim disebut sebagai Civil Religion.



Apakah Civil Religion itu?
Civil Religion tidak secara langsung mengartikan religion sebagai agama dalam pengertian teologis. Sosiologi agama sering menggunakan konsep ini untuk menjelaskan adanya ritual-ritual dalam ruang publik yang memiliki pondasi moral, sejarah, dan budaya yang berfungsi sebagai simbol perekat masyarakat dalam kehidupan bernegara. Tiap negara mempunyai civil religion sendiri yang merupakan esensi dari peradaban mereka yang tertuang dalam: monumen-monumen, ritual kenegaraan misalnya inaugurasi, parade-parade, karnaval, bendera, ornamen-ornamen kesenian dominan dan ekspresi linguistik. Pengalaman kontak antar-peradaban yang melahirkan asimilasi, sinkretisme, difusi kultural di masa lalu kiranya membentuk apa yang kita kenal sebagai civil religion itu. Oleh karena itu Jaques Rosseau mengatakan bahwa Civil Religion juga memiliki “Tuhan”, namun bukan dalam bentuk Tuhan dalam kitab suci (Perjanjian Lama-Perjanjian Baru, Al-Qur’an), tapi “Tuhan yang ada di belakang Tuhan Teologis” yang bekerja membuat ikatan-ikatan emosional menuju ke sentimen kebangsaan. Tuhan yang membangun budaya politik untuk kepentingan hidup bernegara dan bukan kepentingan akhirat.

Civil Religion dapat berwajah sekuler sekaligus saleh
Civil Religion memang bisa bersumber dari agama teologis, namun tetap mengambil sumber sejarah yang dominan dalam peradaban untuk keperluan sentimen kebangsaan. Walau Amerika Serikat adalah negara modern yang mengutamakan demokrasi dan praktik kapitalisme dalam kehidupan sehari-hari, Calvinisme Protestanisme sebagai sumber teologis adalah nilai yang dijunjung tinggi. Kehidupan demokrasi di Amerika bersenyawa dengan religiusitas yang kental yang terbawa ke ruang publik kehidupan warganya. Religiusitas dalam pengertian Civil Religion hanya penting untuk kehidupan politik kenegaraan terutama jika negara sedang dalam keadaan krisis. Kita semua masih ingat akan peristiwa 9/11 yang membuat satu negara Amerika yang taat maupun tidak untuk berdoa bersama. Bukan untuk meminta pertolongan Tuhan, namun untuk memperkuat solidaritas kolektif dalam kemalangan nasional. Dalam argumen yang sama, Perancis yang sebetulnya merupakan ranah Katholik tetap memperlihatkan unsur pra-Katholik yang kental sebagai ‘agama sipil’ penguat identitas kebangsaannya yang sangat terlihat dari ornamen, monumen kota. Bahkan simbolisasi Kristen dapat mudah jadi penghias dalam ruang-ruang publik yang sekuler.

Adakah Tempat bagi Partai Agama dalam Civil Religion Indonesia?
Menurut Ben Anderson (dalam Spectre of Comparisons), Indonesia memperlihatkan gejala nasionalisme yang sangat modern dari awal pembentukannya yang bahkan lebih baik dari Eropa. Kenapa? Di saat bangsa-bangsa Eropa masih saling membunuh atas nama etnis dan perbedaan agama, kawasan Asia Tenggara sudah sangat terbiasa dengan keanekaragaman etnis termasuk menerima dengan lapang hati sinkretisme sebagai praktek kultural yang wajar. Untuk Indonesia, tidak pernah akan ada tempat bagi “kemurnian”, “keaslian”, “puritanisasi”. Sesuatu yang mempermudah Soekano dalam membangun suatu bentuk nasionalisme sebagai sentimen nasional yang berwajah civic tanpa melupakan keanekaragaman sebagai kultural kapital yang menjadi sendi utama kebangsaan.
Pada masa Indonesia pra-kolonial atau “abad kerajaan”, Hindu dan Buddha baru berhasil menjadi agama “nusantara atau nasional” ketika telah me-lokal dan mengalami sinkretisme dengan berbagai budaya lokal selama ratusan tahun. Tidak terkecuali dengan Islam sebagai pendatang baru. Mayoritas muslim sebanyak 80 persen berhasil diraih dengan menjadikan Islam sebagai budaya yang kontekstual dengan tradisi kultural setempat yang merupakan sedimentasi dari budaya-budaya sebelumnya. Sebagai contoh adalah gaya nyantri di pesantren yang sebetulnya merupakan warisan khas cara belajar yang dikenal bangsa ini sejak zaman Hindu, meski sekarang terasa Islami. Maka tak heran bila kita masih bisa menjumpai elemen Hinduistik, Budhistik di kawasan muslim terbesar di dunia ini sebagai sesuatu yang wajar: Patung Garuda, wayang, gamelan, batik, ritual selametan dll. Maka, Islam dalam pengertian normatif, tekstual yang sempit apalagi terselenggara untuk kepentingan politik praktis, tidak akan mendapat tempat dalam ‘agama sipil’ bangsa kita yang terlalu multikultur. Namun sebaliknya, aktivitas keagamaan apapun yang mempertajam spiritualitas dan sensitivitas dalam menerima perbedaan akan bertahan lama.
Untuk konteks yang lebih kini, maraknya artikulasi simbol Islam di ruang-ruang publik, pemakaian ruas-ruas jalan raya untuk ceramah massal malam hari, serta kemunculan kekuatan politis partai-partai bernuansa Islam menjadi tanda tanya. Dapatkah mereka mengakar dalam monolog yang mempertebal dinding perbedaan agama? Gerakan purifikasi agama yang didasari atas “ketuhanan teologis” tidak pernah terlalu populer dalam sejarah bangsa yang terbiasa dengan kehidupan multikultural sebab tidak sesuai dengan religiusitas publik yang merindukan Bhinneka Tunggal Ika. Alih-alih ingin mendapat suara banyak, partai-partai yang ingin tampil progresif dengan purifikasi agama justru memperbesar peluang kekalahannya dalam pemilu.

Bapak Pembangunan

Ben Anderson mengatakan bahwa perbedaan antara kekuasaan dalam cara pandang Barat dan Jawa terletak di wujudnya. Bagi kebudayaan Barat, kekuasaan seorang pemimpin selalu abstrak dan hadir karena legitimasi. Makanya kekuasaan di akumulasikan lewat pemilihan umum. Sangat berbeda dengan Jawa, dimana kekuasaan haruslah empiris dan memiliki wujud konkret dan merupakan anugerah non-legitimasi. Kekuasaan datang dari langit dan memilih orang-orang yang tepat sebagai eksekutornya. Alam pikiran Jawa inilah yang kemudian dianggap sebagai sumber kekuasaan yang paling penting dan mengalahkan proses pemilihan demokratis. Tentu saja dong.. Kekuasaan kan datangnya dari “dunia atas”, artinya itu adalah petunjuk yang harus diemban oleh para pemimpin. Sebagai energi eksternal yang non-democratic, kekuasaan akan menempel terus pada seseorang selama alam mengkhendaki dan selama manusia mampu membaca “sasmita alam”.

Sedikit banyak kita menyukainya juga kok. Kita menyukai sesuatu yang kongkret: misalnya “harga beras murah” dan kita membenci yang abstrak misalnya: “hutang luar negeri tanpa konsultasi ekonomi jangka panjang”. Rakyat Indonesia kemungkinan besar tidak butuh pemimpin politik modern, yang dibutuhkan adalah pemimpin kharismatik yang mampu memberikan efek psikologis berupa keamanan dapur dan keterjangkauan harga. Cinta ribuan rakyat pada $oeharto adalah kecintaan terhadap realitas perut.. Hidup cari aman, nurut pada pemimpin, jangan terlalu banyak protes. Cinta ribuan rakyat pada $oeharto adalah cinta pada nostalgia “hidup normal” yang sangat kongkret tanpa pernah mau tahu akan bayang-bayang ketergantungan hutang luar negeri yang menggunung.

Cinta pada Bapak adalah cinta pada hidup semu yang nampak berkilat. Bahkan kita tidak paham bahwa kemewahan hidup generasi 80-an . dan kegetiran hidup generasi 2000an memiliki hubungan kausalistik yang sangat terang!

Life was so easy that time:
(gue inget masa satu dollar sama dengan seribu, gue inget juga sebungkus gudang garam filter Rp. 350)

Ketika kita harus bayar kesalahan OrdeBaru pada saat ini, ketika subsidi tiada, ketika bensin naik, ketika sawah ciut, ketika Djisamsoe 10.000,- kita juga cari pembenaran yang juga “sumbu pendek” tanpa nalar: “Oh, SBY gagal, Oh.. lebih enak jaman $oeharto.

Dan kita begitu mendadak sedih Bapak meninggal…
Dan kita berpaduan suara: Bapak jasanya sangat banyak, maafkanlah.

Selamat jalan Bapak Pembangunan!

© 2012

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache