Realitas diberi makna oleh bahasa sehingga nalar bisa mengerti, mulut mampu membicarakannya, dan tangan kita mampu menuliskannya.
Dengan bahasa, realitas menjadi teratur, chaos terhindari dan manusia memahami.
Maka kita mengintip realitas lewat bahasa yang kita pahami. Maka itu juga realitas bagi manusia dibentuk lewat bahasa.
Barang siapa yang kaya berbahasa, dia melihat kenyataan lebih kaya. Barang siapa menguasai banyak bahasa, dia melihat kenyataan dari banyak lensa.
Dengan bahasa kita memahami realitas sebagai sesuatu yang fakta, fiksi, setengah fakta-fiksi.
Maka, barang siapa yang dapat mengontrol orang berbahasa, maka dia juga mampu mengontrol orang melihat realitas termasuk membelokkan realitas.
Kekuasaan selalu mencari legalitas bahasa dengan cara lincah membentuk realitas
Maka realitas dibentuk oleh jurubicara bahasa yang memegang kunci kekuasaan bahasa untuk menjinakkan realitas sesuai kemauan.
Menghaluskan bahasa artinya membelokkan realitas dengan cermin tambahan sehingga lebih tersaring, lebih halus, lebih indah.
Negara mengajarkan kita untuk membahasakan realitas dengan jinak. Menghaluskan bahasa menjadi latihan sistematik untuk melihat realitas secara sopan sekaligus tumpul dan penuh kehati-hatian.
Maka manusia yang senang dengan eufimisme berbahasa artinya dia menipu setiap kali dia bicara tentang kebenaran.
Itulah kinerja kekuasaan lewat bahasa. Dia menipu setiap saat, menggunakan bahasa aneh. Bahasa para hakim, jaksa, pengacara, mentri, presiden.
Maka ketika ada video yang jelas-jelas menceritakan kebenaran dengan kasar di siang hari bolong, kita senang hati menolaknya. Katakan saja “mirip”.
Maka tertawalah karena kita tak punya hak otonom untuk mengerti kebenaran, kecuali lewat kreativisme anti eufemisme nakal yang gelisah.
“Video yang mirip” mari kita ulang dengan batin sarkastis, nada ironis. Kebenaran tak pernah bisa dibahasakan.
Sempat disebar di tweeter, dengan kode Teori Rexona he he he
Terimakasih utk penanggap2 @meulia
@aviechu @chikaciets @lurino !


