Tag Archive: asosiasi antropologi indonesia


01IMG 6829

resume Seminar Antropologi Terapan:

Re-Invensi Antropologi Indonesia di Era Demokrasi dan Globalisasi 22 Juli 2010

Sejauh mana Re-invensi Antropologi?

Dari tujuh tema yaitu:
1. Pembangunan Hukum di Indonesia
2. Otonomi Lokal dan Ketahanan Nasional
3. Antropologi, Pendidikan, dan Karakter Bangsa
4. Agama, Etnisitas dan Multikulturalisme
5. Gender, dan Migrasi Global
6. Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat
7. Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam

Kita dapat menemukan kegelisahan akademik teman-teman dalam menggeluti fenomena kehidupan yang terjadi dalam kapasitas sebagai antropolog. Wacana yang berkembang dalam makalah dan diskusi menggambarkan adanya friksi yang semakin keras di antara kelompok sipil, negara, adat, kepentingan bisnis dalam memperebutkan dan menguasai sumberdaya. Friksi ini diperkirakan semakin mengeras dan mengakibatkan yang menunjukkan krisis yang meluas dalam kehidupan masyarakat kita.

Juga kita melihat betapa landscape etnografis kita telah menjelma menjadi semakin kaya dan memperlihatkan ciri khas: migrasi intensif dan ekstensif, menguatnya kapitalisme mutakhir, pengentalan dan resistensi identitas, adanya pertentangan kelas sosial yang semakin terbuka, intervensi negara, parpol, dan organisasi non-pemerintah.

Ada kegalauan dalam hal bentuk kontribusi yang tepat sebagai antropolog. Antropologi memang perlu berkontribusi, tapi kontribusi dalam bentuk seperti apa yang dibutuhkan sekarang? Antropolog memang dituntut untuk pandai membaca masyarakat, tapi apakah kita sudah membaca dengan benar? Kegalauan ini menuntut kita untuk mengkritik diri.

Dalam berbagai tema yang disajikan terlihat adanya gairah kawan-kawan untuk tanpa tanggung-tanggung terjun menjadi intelektual yang memfasilitasi dan mengadvokasi pemberdayaan komunitas. Di sisi lain, berpikir diluar kotak-kotak ideologis keilmiahan kita tidak mudah, dan masih saja kita terjebak dalam cara-cara yang pernah kita pikir tepat, sesungguhnya merupakan daur ulang periode sebelumnya.
Dalam dua hari perdebatan, ada tiga peta yang hadir:

  1. Wacana esensialis tentang karakter budaya ideal, kearifan lokal, sebagai suatu yang menjadi titik sentral bergerak sebagai antropolog.
  2. Wacana dialogis tentang hubungan inter-kultural, antar-perbedaan, dan pentingnya hak-hak berbudaya sebagai titik sentral antropolog.
  3. Wacana aktivisme yang membumikan teori-teori menjadi akal sehat untuk untuk melakukan transformasi sosial.

Langkah ke depan
Reinvensi antropologi saat ini adalah membuatnya menjadi lebih kritikal termasuk mampu untuk lebih memberdayakan diri sendiri dan orang lain. Antropologi ditantang bukan berdebat-tulis, tapi menulis utk menimbulkan aksi. Antropologi punya kesempatan untuk melakukan ruang sadar diri dengan melakukan refleksi.

Kita perlu lebih sering duduk bersama dan saling berbagi pengalaman dengan suasana terbuka dan siap menerima kritik dari orang lain.
Perlu memilih paradigma (teori dan metodologi) karena akan berkonsekuensi pada posisi antropolog dalam profesi dan komunitasnya. Pilih dulu posisi paradigma, baru kemudian kerja.

Antropologi punya kemampuan spesial memahami diferensiasi, tapi ini tidak akan ada manfaatnya kalau kita tidak dapat menempatkan diri dalam dinamika keberagaman yang kita hadapi sebagai kegiatan reflektif yang harus dilakukan terus-menerus.

Cisarua, 22 Juli 2010

Tim Perumus Seminar Antropologi Terapan “Antropologi dalam Lintasan Pembangunan Indonesia”, Seminar Nasional Antropologi 2010

Ketua Perumus: Iwan Tjitradjaja

Anggota Perumus:

- Ruddy Agusyanto
- Yulizar Syafri
- Iwan Pirous
- Irwan Martua
- Haswinar Arifin
- Nursyirwan Effendi
- Fikarwin Zuska

View full article »

Asosiasi profesi bagi antropolog di Indonesia ada tapi absen 15 tahun lebih. Munculnya asosiasi-asosiasi keilmuan sosial-budaya seperti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), dan Asosiasi Prehistori Indonesia (API) adalah fenomena Indonesia 70-80-an.

Posisi asosiasi profesi ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan membentuk kekuatan dalam zeitgeist Orde Baru. Peran besar dalam pembangunan adalah tiket untuk mencapai kekuasaan dan pengakuan negara. Antropologi dan asosiasinya saya duga demikian juga. Antropologi Indonesia tahun 80-an mengusung wajah pembangunanisme yang kental, yakni bagaimana universitas dan awaknya harus bersanding dengan negara dalam merencanakan dan mengevaluasi pembangunan. Tidak ada yang salah dengan ini. Hanya saja pada masa 90-an akhir, masalah pembangunanisme sudah kehabisan modal dan kehilangan kredibelitas. Apa yang lebih diperlukan seterusnya adalah sebuah asosiasi keilmuan untuk menguatkan daya kritik terhadap pembangunan itu sendiri.

Besar dengan teori sistem, nilai budaya serta hal-hal formulatif yang mengarah pada tatanan sosial stabil, antropologi di Indonesia memang tidak punya daya kritik kecuali bila keyakinan akan konstituen multi-etnis yang dipelihara harmonisasinya dipandang sebagai kritik. Maka, Asosiasi Antropologi Indonesia yang dibangun dalam suasana politik kekuasaan yang kental pun jadi bingung. Para pendirinya yang berlatar belakang politisi tentunya tidak terlalu siap akan angin baru, teori baru, arus bawah. Marxisme dan ekonomi politik yang menemukan gairah di Indonesia masa reformasi seakan menjadi hantu yang tidak cocok lagi dengan jiwa awak Asosiasi ini dibuat. Mungkin ini yang bisa menjelaskan mengapa sebuah asosiasi keilmuan penting bisa vakum selama 15 tahun lebih.. dan entah sampai kapan.

Antropologi dituduh bisu dan tidak tampil. Sangat sedikit tokoh professionalnya yang dikenal. Terlalu banyak orang bertanya: Apa kontribusi antropologi bagi Indonesia. Pada saat yang sama, sangat sedikit orang yang bertanya mengapa ilmu sebesar ini tidak punya asosiasi yang berjalan. Padahal salah satu kunci perkembangan keilmuan adalah adanya etika profesionalisme bagi insan-insan yang terlibat di dalamnya.

© 2011

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache