Asosiasi profesi bagi antropolog di Indonesia ada tapi absen 15 tahun lebih. Munculnya asosiasi-asosiasi keilmuan sosial-budaya seperti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), dan Asosiasi Prehistori Indonesia (API) adalah fenomena Indonesia 70-80-an.

Posisi asosiasi profesi ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan membentuk kekuatan dalam zeitgeist Orde Baru. Peran besar dalam pembangunan adalah tiket untuk mencapai kekuasaan dan pengakuan negara. Antropologi dan asosiasinya saya duga demikian juga. Antropologi Indonesia tahun 80-an mengusung wajah pembangunanisme yang kental, yakni bagaimana universitas dan awaknya harus bersanding dengan negara dalam merencanakan dan mengevaluasi pembangunan. Tidak ada yang salah dengan ini. Hanya saja pada masa 90-an akhir, masalah pembangunanisme sudah kehabisan modal dan kehilangan kredibelitas. Apa yang lebih diperlukan seterusnya adalah sebuah asosiasi keilmuan untuk menguatkan daya kritik terhadap pembangunan itu sendiri.

Besar dengan teori sistem, nilai budaya serta hal-hal formulatif yang mengarah pada tatanan sosial stabil, antropologi di Indonesia memang tidak punya daya kritik kecuali bila keyakinan akan konstituen multi-etnis yang dipelihara harmonisasinya dipandang sebagai kritik. Maka, Asosiasi Antropologi Indonesia yang dibangun dalam suasana politik kekuasaan yang kental pun jadi bingung. Para pendirinya yang berlatar belakang politisi tentunya tidak terlalu siap akan angin baru, teori baru, arus bawah. Marxisme dan ekonomi politik yang menemukan gairah di Indonesia masa reformasi seakan menjadi hantu yang tidak cocok lagi dengan jiwa awak Asosiasi ini dibuat. Mungkin ini yang bisa menjelaskan mengapa sebuah asosiasi keilmuan penting bisa vakum selama 15 tahun lebih.. dan entah sampai kapan.

Antropologi dituduh bisu dan tidak tampil. Sangat sedikit tokoh professionalnya yang dikenal. Terlalu banyak orang bertanya: Apa kontribusi antropologi bagi Indonesia. Pada saat yang sama, sangat sedikit orang yang bertanya mengapa ilmu sebesar ini tidak punya asosiasi yang berjalan. Padahal salah satu kunci perkembangan keilmuan adalah adanya etika profesionalisme bagi insan-insan yang terlibat di dalamnya.