Aku ingin main gitar berjam-jam sampai senar yang perih terhapus oleh bahagia aneh seperti berada di antara surga dan neraka, dan menghentikannya adalah kematian.
Aku ingin bernyanyi tentang perasaan marah yang tersembunyi dengan nada-nada manis yang menyiratkan temaramnya senja sehingga tenagaku habis dan berakhir dengan mantra-mantra kesumat cinta.
Aku ingin menciptakan lagu yang sejujur celoteh bayi dan semerdu tangisan laparnya sehingga tidak lagi membutuhkan nada, lirik dan alat musik.
Aku ingin bertemu kakekku di djl. Mangga 30, yang tak marah ketika aku mencuri main biolanya. Dia malah mengajariku “Burung Hantu”.
Aku ingin menyiapkan makan malam untuk orang-orang tercinta karena aku rindu dengan sisi keibuanku yang belepotan bumbu, dan terutama karena jadi lelaki ternyata membosankan.
Aku ingin menulis puisi dengan kata-kata yang terlalu sering diucapkan sehingga tidak punya efek sastra kecuali perasaan mual bagaikan mengulum satu lolipop bekas seribu mulut.
Aku ingin berada di pinggir jendela beku yang dingin putih sampai horizon, lalu kehangatan hanyalah mata basah dan telinga rindu dibakar oleh lagu-lagu Ibu Soed.
Aku ingin meneguk sebotol Corona sekaligus sampai tumpah membasahi dasi dan kemeja seperti ketika aku lulus skripsi di siang hari bolong.
Aku ingin duduk kembali di pinggir sungai yang namanya selalu salah dieja, yang begitu indah dan jernih dan percikannya meluruhkan beberapa kata dalam catatan harian.
Oh ya, aku ingin punya anak perempuan yang rambutnya ikal dan dia suka naik pohon.
Hari ini aku tidak produktif, malas mengajar, terlalu banyak kolesterol, bosan membaca, dan seperti biasa bertemu dengan orang-orang yang berharap banyak. Konsultasi, menyiapkan silabus ancangan aplikasi, mimpin diskusi, bicara di depan kelas seperti boneka tolol.
27 Sep. 05
« Menemukan kembali teater di keseharian kita Masukkan budaya Indonesia dalam body bag saja ! »


Nice thought, quite a relieve. Makes me think more about my life, what I want, what I like.
wah kenapa nih mas iwan????
saya suka tulisan mas iwan. saya bisa belajar ulang antropologi. sayangnya, mas iwan tidak seberapa produktif. padahal saya selalu menanti tulisan anda. thanks..
“Aku ingin meneguk sebotol Corona sekaligus sampai tumpah membasahi dasi dan kemeja seperti ketika aku lulus skripsi di siang hari bolong.”
heeee