Kalangwan Seingatku, begitu. Guru-guru yang mampu menggugah semangat dan etos murid-muridnya, pastilah seorang subversif. Ia bisa subversif pada apa saja: bisa pada pemerintah yang korup, pada sistem pendidikan yang abal-abal, juga pada realitas sosial di sekitar, bahkan bisa juga pada agama yang telah jadi banal.
Knalpot Putih Idealnya, guru adalah peran intelektual untuk membuka pikiran banyak orang. Mata murid yang terbuka selamanya adalah mata subversif yang kritis termasuk pada gurunya sendiri. Kalaupun kemudian dia “ditiru” atau “dikultuskan”, itu adalah efek samping dari nilai feodalisme yang menyejarah. Atau bisa jadi karena dia ganteng atau cantik. Saat kini masih banyak guru2 berkepala database yang feodal yang ingin mencetak murid2 yang berpikiran mirip dia.. Guru yang baik justru ingin membuat murid2nya menjadi individu unik yang menyadari potensi diri sendiri untuk terus maju dan mencerahkan “dunia”.
Boy Avianto Ah, sepakat sekali! Penyeragaman, penanaman doktrin serta stigmatisasi kesalahan (yang sebenarnya bukan salah tapi tidak sesuai dengan pemikiran dan panduan sang guru). Keunikan justru dianggap sebagai hal yang tidak bisa dipercaya dan seterusnya.
Tugas guru makin sulit saja… sudah ngajarin kok ya boleh dikritik ; ).

