Multikulturalisme adalah prinsip politik yang mengutamakan pentingnya ruang publik terbuka bagi dialog-dialog perbedaan budaya. Ekspresi kultural memiliki sejarah, keunikan, dan makna khusus bagi penganutnya yang telah menjadi identitas budaya. Ruang publik terbuka berisi banyak identitas-identitas kultural yang idealnya mendapatkan jaminan perlindungan sehingga satu identitas betapapun kecilnya mendapat tempat untuk dihormati, didengarkan dan ditampilkan. Sistem politik yang baik menjamin terbukanya ruang publik bagi segala perbedaan. Asumsinya perbedaan adalah untuk dipahami melalui dialog-dialog antar-budaya. Multikulturalisme berarti juga prinsip untuk menerima dan menghormati adanya perbedaan di sekitar kita.

Antropologi adalah ilmu yang memberikan ruang bagi identitas-identitas budaya milik komunitas untuk ditampilkan dalam tulisan etnografi. Antropologi menyadari bahwa komunitas kecil atau golongan minoritas memiliki cerita sejarah dengan proses-proses yang penting untuk dipelajari, dicatat, dan dipahami. Etnografi memberikan perangkat untuk pendokumentasian konsep-konsep emik lokal. Tinggal masalahnya adalah untuk tujuan apa etnografi dituliskan. Kepentingan studi dan dokumentasi museum? Kepentingan pelaksanaan proyek kolonialisasi dan modernisasi dalam program pembangunan? Atau bisa lebih daripada itu?

Melalui pemahaman multikulturalisme, ada kesadaran baru dalam mengarahkan kontribusi antropologi untuk lebih memberikan pemahaman akan perbedaan-perbedaan kultural. Tulisan etnografi dengan nafas multikultural tidak lagi menciptakan satu budaya, melainkan dialog melibatkan banyak budaya. Dialog inter-kultural, pembongkaran stereotype, komunikasi lintas perbedaan tentunya menjadi data utama ketimbang pelukisan mendalam terhadap satu suku bangsa secara mendalam. Untuk mencapai pemahaman lintas-kultural tersebut, metode etnografi dituntut untuk lebih melibatkan perasaan personal dan subyektivitas peneliti sebagai aktor yang terlibat langsung dalam perbedaan-perbedaan kultural. Subyektivitas dan bias kultural serta etnosentrisme yang hinggap dalam benak peneliti justru menjadi cara untuk memahami, cara untuk berdialog dan cara untuk berefleksi.

Ketika trend multikulturalisme bersintesa dengan metode etnografi eksperimental, saya rasa masa depan antropologi akan semakin menarik, menegangkan dan menghasilkan produk-produk kolaboratif yang melibatkan keakraban antara banyak subjek: para informan dan antropolog menjadi partner yang hadir dalam teks-teks etnografis polifonik. Saya ingin terlibat dengan eksperimen ini..

« »