kemana saja diri kita? Jarang kelihatan.
Apa menghilang di balik tumpukan koran, ampas kopi dan asap hitam bus?
Atau terjebak dalam serabut kabel seribu urusan dan percakapan?
Aku merindukanmu seperti pelamun memandang matahari jingga yang sedang ditelan malamnya lautan.
« Catatan buat Museum Tsunami Jika antropologi menjadi terlalu puitis »

