Patah tumbuh hilang berganti
Di sudut kiri bawah halaman Say No to Megawati, tertera angka 70.000 dan selalu naik setiap page di refresh. Kenaikan yang cepat, kadang 50-100 per menit benar-benar mengherankan. Sebegitu banyakkah orang yang gabung dalam waktu bersamaan setiap detik? Atau ini kerjaan para hacker yang memasang script khusus? Di kolom kanan, komentar bermunculan tiap setengah detik yang membuat saya yakin bahwa ini bukan script, ini bukan rekayasa. Tapi memang facebook dirancang khusus sebagai jaringan pertemanan yang mengutamakan segi “realtime”. Dalam facebook, kalau kita meneteskan air setitik, maka ratusan teman akan tahu! Taruh kata satu orang dengan jaringan pertemanan sebesar 50 orang masuk menjadi supporter, maka secara otomatis ke-50 temannya akan dapat notifikasi, sehingga bisa langsung ikutan yang secara otomatis memberikan notifikasi ke teman-teman-teman-teman (friends of friends of friends) yang gak tahu lagi batasnya di mana. Tidak heran angka melejit eksponensial atau setidaknya seperti deret ukur Malthus.
Mendekati 75.000, angka semakin cepat.. Koran-koran online mulai merespons. Dimulai dari Kompas.com yang menulis bahwa gerakan Say No to Megawati di Facebook masih sukar dimasukkan dalam kategori Black Campaign (hukuman 24 bulan penjara) karena tidak didalangi oleh orang partai. Pihak PDIP (bukan Megawati secara personal) mengatakan bahwa ini Black Campaign yang kotor dari lawan-lawan politik. Tentunya peryataaan yang dibuat dalam keadaan panik sekjen partai yang tidak tahu kekuatan partai apa yang ada di belakang 75.000 supporters ini. Mereka adalah orang-orang biasa, para pemakai internet, pekerja kantoran, guru, anak sekolah, ibu-ibu rumah-tangga, mahasiswa, wiraswasta, anak gaul, dan macam-macam yang terlalu majemuk untuk dikategorikan sebagai satu kekuatan politik sistematis anti-Megawati. Menjelang angka 78,000 “fan-page” ini mulai kemasukan foto-foto porno adegan-adegan seks. Facebook memang sangat tegas terhadap aturan permainan di situsnya yang harus disepakati. Facebook bukan ajang pornografi. Orang-orang mulai kuatir.. Ada yang meminta admin agar segera menghapus foto-foto itu. Ada yang menasihati Admin agar tidak gentar untuk login (sebab dibayangkan dia sedang dikejar-kejar cyber-intel, kali). Siapa yang mengirimkan foto-foto porno ini? Tidak jelas, tapi gampang diduga bahwa pengirimnya adalah simpatisan Megawati yang sangat panik. Hanya dengan jalan mengirimkan foto itulah Facebook punya alasan kuat untuk menutup layanan sebab menyalahi aturan main. Peraturan, tetap peraturan. Halaman Say No to Megawati resmi tumbang setelah lewat tengah malam tanggal 7 April 2009.
Megawati dan Monolog demokrasinya
Jika partai punya hak untuk mengumpulkan massa dan berpidato, dimana hak rakyat untuk berkumpul dan mengatakan bahwa program-program partai tidak berjalan? Memori kolektif bangsa ini sudah kenyang akan efisiensi negara dalam menghadapi rakyatnya. Demokrasi tidak perlu dialogis karena akan merepotkan dan makan biaya besar. Percaya sajalah pada negara dan partai-partai yang mengatur jalannya pemerintahan. Rakyat tinggal bangun pagi, kerja, pulang ke rumah, dan tidur serta jangan lupa besok bangun pagi lagi demikian seterusnya. Dunia politik dan dunia sehari-hari begitu berjarak, sehingga partisipasi politik rakyat terbesar hanya terjadi pada saat pemilu. Kinerja partai, kader, presiden, bukan lagi urusan rakyat sebab sudah ada yang mengatur sampai ketika pemilu tiba. Begitu seterusnya.
Hidup demokrasi yang dua arah dalam skala kecil mungkin memang terjadi di lingkungan tetangga dan keluarga. Tapi jangan harap ada suasana dialogis, ada ruang khusus untuk bersuara bagi rakyat dalam urusan-urusan politik nasional. Itu tadi, politik adalah dunia khusus para penguasa yang paham, yang punya uang, yang punya bisnis. Dalam demokrasi yang sangat efisien ini dimana rakyat tidak terlalu dilibatkan (serta demonstrasi tidak didengar sebagai penyampaian aspirasi politik), rakyat akan menumpuk kekesalan-kekesalan kecil tiap hari yang semakin menggunung. Kekesalan kecil bisa dipicu oleh kenyataan bahwa semua politisi adalah orang berduit. Hanya orang berduit yang berhak menentukan arah politik bangsa. Mana ada politikus yang tampil miskin? Mana ada politikus yang digaji sama seperti rakyat yang biasa hidup pas-pasan? Seorang politisi berduit yang peduli rakyat sangat jarang. Apalagi politikus miskin yang berjuang untuk rakyat. Ruang-ruang berpolitik secara fisik hanya dikuasai oleh lembaga formal yang sebetulnya ideal apabila benar-benar menjadi wakil rakyat. Apabila para wakil rakyat menyuarakan kepentingan kantong sendiri, baru kemudian kepentingan partai, baru kemudian kepentingan rakyat, maka tidak heran rakyat membutuhkan ruang-ruang baru.
Rakyat juga sibuk kerja sehingga tidak mudah untuk berkumpul dan ngobrolin kesulitan-kesulitan hidup. Mengumpulkan massa dalam jumlah besar di taman-taman kota atau stadium sangat tidak mungkin. Rakyat sebetulnya tidak suka kekerasan, mereka hanya butuh didengar dan mendambakan pemimpin yang mengerti kesulitan-kesulitan mereka termasuk kesulitan bangsa ini.
Pada akhir masa Orba, Megawati adalah figur ideal: anak Sukarno yang dikudeta Soeharto, dibungkam Orde Baru, dizhalimi Peristiwa 27 Juli. Pada masa Reformasi dengan naiknya karier Megawati, mungkin si Ibu sedang menggali kubur sendiri: tidak mempermudah pengadilan terhadap kejahatan Orde Baru, berkawan dengan kapitalis-kapitalis, tidak menganggap serius Peristiwa 27 Juli. Jadi Megawati yang diharapkan sebagai simbol perubahan, ternyata adalah fotokopi tradisional kekuasaan sebelumnya. Rakyat menjadi paham bahwa seorang anak biologis Sukarno belum tentu mewarisi ideologisnya. Rakyat juga jadi paham bahwa walaupun PDIP adalah platform partai multikultural yang ideal (44 juta suara tahun 2004), tapi Megawati tidak pernah membuatnya menjadi dialogis dan reformis. Bahkan untuk kasus ini, PDIP sendiri menganggap suara rakyat adalah lawan politiknya. Untuk itulah Say No to Megawati bisa meraup angka 70.000 dalam sebuah ruang raksasa yang bisa terus membesar, menduplikasi diri, dan selalu tumbuh.
« Sebuah Pandangan Determinisme Teknologi Radikal dari Prof. Sahari Besari Angklung dalam Keindonesiaan Kita »

