<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kamar Iwan Pirous</title>
	<atom:link href="http://iwan.pirous.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://iwan.pirous.com</link>
	<description>latihan etnografi, essay, dan bertutur - karena antropologi jadi hobby</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Dec 2009 02:50:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ujian Akhir Antropologi Indonesia</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/ujian-akhir-antropologi-indonesia</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/ujian-akhir-antropologi-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 02:50:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/ujian-akhir-antropologi-indonesia</guid>
		<description><![CDATA[Buatlah sebuah essay 1500 kata untuk tiap nomor di bawah ini. Nomor 1 wajib dikerjakan. kemudian pilih salah satu dari dua yang tersisa. Jadi Anda hanya mengerjakan 2 soal saja dengan jumlah kata sebanyak ± 3000.
		

 

 

Ide keindonesiaan dan permasalahan kebangsaan banyak dituliskan dalam penelitian-penelitian antropologis yang dilakukan pada masa pasca-Orde Baru. Kembangkan sebuah argumen yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:12pt">Buatlah sebuah essay 1500 kata untuk tiap nomor di bawah ini. Nomor 1 wajib dikerjakan. kemudian pilih salah satu dari dua yang tersisa. Jadi Anda hanya mengerjakan 2 soal saja dengan jumlah kata sebanyak ± 3000.</span><span style="font-family:MS Shell Dlg 2; font-size:8pt"><br />
		</span></p>
<p>
 </p>
<p>
 </p>
<ol>
<li><span style="font-size:12pt">Ide keindonesiaan dan permasalahan kebangsaan banyak dituliskan dalam penelitian-penelitian antropologis yang dilakukan pada masa pasca-Orde Baru. Kembangkan sebuah argumen yang menjelaskan tentang kait-mengait antara  Krisis kebangsaan, krisis kebudayaan, dan pembangunan yang merupakan warisan persoalan yang rawan melahirkan konflik dan disintegrasi bangsa.<br />
</span></li>
</ol>
<p>
 </p>
<ol>
<li><span style="font-size:12pt">Antropologi Indonesia lahir dan berkembang di 11 universitas saat ini. Namun, mayoritas antropolog indonesia memilih situs penelitian di negerinya sendiri. Mengapa? Lalu adakah suatu ciri khusus yang menjadi identitas pemikiran antropologi di Indonesia, sehingga kita dapat menyebut sebagai madzhab Indonesia?<br />
</span></li>
</ol>
<p>
 </p>
<ol>
<li>
<div><span style="font-size:12pt">Indonesia adalah lokasi penelitian antropologi yang telah digunakan para ahli untuk melahirkan teori-teori antropologi yang penting. Di satu sisi, teori tidak dapat dipisahkan dari konteks pembentukan (iklim akademik, kekuatan politik). Di sisi lain, teori menggambarkan kenyataan yang terjadi di masyarakat dalam suatu kurun waktu.  Jelaskan dua sisi ini dengan contoh teori dan etnografi yang membicarakan masyarakat Indonesia.<br />
</span></div>
<p>
 </p>
<p><span style="font-size:12pt">SELAMAT BEKERJA DENGAN GIAT&#8230;!<br />
</span></p>
</li>
</ol>
<p>
 </p>
<p><span style="font-size:12pt">Ketentuan:<br />
</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size:10pt">Bibliografi minimal 10 sumber baik buku dan artikel. Kutipan pada teks Anda harus sejalan dengan daftar kepustakaan di halaman belakang.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size:10pt">Ketik dengan jarak spasi 1,5 diatas kertas Kuarto. Stapler pekerjaan Anda, dan tidak usah dijilid.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size:10pt">Bekerjalah masing-masing, dan tidak ada toleransi terhadap plagiarisme.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size:10pt">Bobot soal berbeda. Untuk nomor 2 dan 3 bobot nilainya sebesar 60 %. Untuk soal nomor 1 berbobot 40 %.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size:10pt">Orisinalitas dan refleksi anda sangat mempengaruhi nilai.<br />
</span></li>
<li><span style="font-size:10pt">Bagi yang terlambat mengumpulkan akan dikenakan sanksi berupa pengurangan nilai sebesar 10 %.<br />
</span></li>
</ul>
<p>
 </p>
<p><span style="font-size:10pt">Bahan bacaan yang membantu:<br />
</span></p>
<p>
 </p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman">Ramstedt, M. (2005) &#8220;Anthropology and  the Nation State: Applied Anthropology in Indonesia,&#8221;, in J. van Bremen, E. Ben-Ari, and S.F. Alatas (eds) <em>Asian Anthropology.</em> London and New York: Routledge. Pp.200—223.<br />
</span></li>
<li><a href="http://www.4shared.com/file/148853008/4ce6de0f/Asian_Anthropology.html"><span style="font-family:Times New Roman">Prager, M. (2005) &#8220;From <em>Volkenkunde </em>to <em>Djurusan Antropologi</em>: The Emergence of Indonesian Anthropology in Postwar Indonesia,&#8221; in J. van Bremen, E. Ben-Ari, and S.F.</span></a><span style="font-family:Times New Roman"><br />
			</span></li>
<li><a href="http://www.4shared.com/file/148413779/f3ad0860/Ben_Anderson_-_Indonesia_Natio.html"><span style="font-family:Times New Roman">Anderson, B (1999) Indonesian Nationalism Today and Its Future. <em>Indonesia</em> (67). April.</span></a><span style="font-family:Times New Roman"><br />
			</span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman">Bahan2 dalam Jurnal Antropologi Indonesia, serta lainnya yang dianggap perlu.<br />
</span></li>
</ol>
<p>
 </p>
<p><span style="font-family:Times New Roman"><br />
		</span> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/ujian-akhir-antropologi-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memasukkan budaya Indonesia dalam body bag saja !</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/memasukkan-budaya-indonesia-dalam-body-bag-saja</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/memasukkan-budaya-indonesia-dalam-body-bag-saja#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 05:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scrapbook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/memasukkan-budaya-indonesia-dalam-body-bag-saja</guid>
		<description><![CDATA[<p>Belakangan ini aksi organisasi2 pembenci Malaysia di tanah air memang makin marak marah-marahnya. Sudah buka posko, pasang poster, dan menerima pendaftaran relawan-relawan (<a title="1.500 Relawan Protes Malaysia Disiapkan" href="http://www.tvone.co.id/berita/view/22475/2009/09/08/1500_relawan_ganyang_malaysia_disiapkan" target="_blank">mencapai 1500</a>) yang siap dikirim menghancurkan musuh (dan rela pulang dalam <em>bodybag</em>). Dendam kesumat  warga Indonesia Bisa adalah peristiwa kolektif yang menyebar dan berbuah  "pengorganisasian patriotisme" dalam bentuk rencana penggalangan massa untuk invasi Kuala Lumpur. Tapi mengapa justru TKI yang rencananya kita bela dengan nyawa itu malah sewot? Ada apa?</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<blockquote>
<p>TKI di Malaysia Unjuk Rasa Protes LSM Indonesia <a href="http://pluee.com/f/RjTRT">(ANTARANEWS 12 Oktober 2009)</a></p>
<p>Dalam demo itu, para TKI yang bekerja di sektor pertanian, konstruksi, dan pembantu rumah di sekitar Cameron Highlands, membawa pamflet yang di antaranya bertuliskan, &#8220;Kami Aman di Malaysia&#8221;, &#8220;Terima Kasih Pahang &amp; Malaysia&#8221;, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan NTR (Najib Tun Razak) pemimpin terbaik&#8221;. Para TKI itu menyesalkan sebagian rakyat Indonesia yang kurang menerima penjelasan mengenai isu tari Pendet Bali hingga menimbulkan sentimen anti-Malaysia.</p>
</blockquote>
<p>Belakangan ini aksi organisasi2 pembenci Malaysia di tanah air memang makin marak marah-marahnya. Sudah buka posko, pasang poster, dan menerima pendaftaran relawan-relawan (<a title="1.500 Relawan Protes Malaysia Disiapkan" href="http://www.tvone.co.id/berita/view/22475/2009/09/08/1500_relawan_ganyang_malaysia_disiapkan" target="_blank">mencapai 1500</a>) yang siap dikirim menghancurkan musuh (dan rela pulang dalam <em>bodybag</em>). Dendam kesumat  warga Indonesia ini adalah sentimen kolektif yang menyebar dan berbuah  &#8220;pengorganisasian patriotisme&#8221; dalam bentuk rencana penggalangan massa untuk invasi Kuala Lumpur. Tapi, mengapa justru TKI yang rencananya kita bela dengan nyawa itu malah sewot? Ada apa?</p>
<p>Ada dua kemungkinan yang bisa menjelaskan.</p>
<p> Pertama: orang Indonesia menganggap bahwa budaya itu properti material. Ketika <em>pendet</em> diaku sebagai milik Malaysia maka kita bayangkan persoalan <em>copyright</em>, hak paten, hak properti intelektual yang tak pernah diurus negara bagi properti budaya. Wacana yang berkembang kemudian adalah pencurian budaya. <strong>Tapi apakah budaya bisa dicuri?</strong>  Di sini kita marah dan terpicu sentimen nasionalisme-nya. Alih-alih ingin menegakkan harga diri, sebetulnya yang diharapkan para relawan anti-Malaysia adalah  kebijakan negara Indonesia yang membuat semua budaya menjadi properti ekonomi dalam paradigma kapitalisme. Dalam sistem ini, segala hal bisa dibuat menjadi komoditas, di-objektivisasikan, diberi harga dan dilindungi hukum berupa sanksi pelanggaran terharap pencurian. Menempatkan budaya sebagai komoditas itu sama dengan menyamakannya dengan minyak bumi, ikan, dan hasil-hasil bumi lainnya. Tegasnya, budaya diturunkan derajatnya jadi sekedar materi</p>
<p>Kedua: orang Indonesia (di negeri sendiri) menganggap bahwa fasisme dan rasisme adalah ideologi yang tepat. Ini adalah sikap bangsa yang cenderung <a title="Wikipedia Xenophobia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Xenophobia" target="_blank">xenophobia</a>. Kita ingin menjadi bangsa besar yang <strong>naik panggung sendirian</strong>. Bangsa terbaik dari segala bangsa. Bangsa paling berkualitas. Oleh karena itu purifikasi sangat penting dimana segala hal menyangkut &#8220;ini milik kita&#8221; dan &#8220;ini milik mereka&#8221; harus sejelas perbedaan hitam dan putih. Pelanggaran terhadap hal ini artinya baku-hantam. Sejarah peradaban dan studi antropologis justru menunjukkan bahwa purifikasi budaya adalah obsesi para utopis yang kalaupun terjadi akan bersifat sangat artifisial, mematikan kreativitas, memiskinkan dialog dan melahirkan tindakan-tindakah khas orang kalah: radikalisme, genosida, fanatisme, dan terorisme.</p>
<p>Gabungan dari dua kecenderungan diatas  sangat relevan dengan skema-skema neo-liberalisme. Memetakan semua hal menjadi komoditas sumberdaya yang harus direbut, dijaga, diakumulasikan dan dihitung seperti kapital ekonomi bertaruh nyawa. Inilah strategi ekonomi dunia sekarang yang menempatkan segala ruang sebagai arena gladiator ekonomi. Bagi saya  hal ini sangat mengkhawatirkan, menjijikan dan patut dikasihani.</p>
<p>Apa yang krusial dilupakan oleh para relawan yang siap pulang dalam <em>body-bag</em> itu adalah kemampuan budaya sebagai alat diplomasi dan dialog yang terbukti dalam sejarah peradaban. Seharusnya, semakin tersebar sebuah unsur kultural, maka semakin terujilah kemampuan diplomatisnya sebagai bahasa yang menjembatani banyak perbedaan. Bagi saya, seharusnya kita bangga dan sangat bangga jika unsur budaya Indonesia bukan hanya dipakai tapi diakui negara lain. Sebab segala hal kultural bergerak bersama dengan dengan dinamika manusianya. Melalui  perantau, para migran, musafir, kolonialisme, dan kaum diaspora dimanapun dimuka bumi budaya berkembang, menyebar dan meresap ke dalam berbagai lokalitas di berbagai tempat menjadi budaya setempat. Masalah pengakuan tidak dapat diterjemahkan sebagai tindak pencurian, sebab tidak ada sama-sekali kerugiannya. Kontribusi kultural Indonesia jauh lebih penting daripada menempatkan properti budaya sebagai fosil yang dikultuskan.. sebagai magnet bercahaya bagi turis (yang bawa duit?).</p>
<p>suka atau tidak, (Retro) Ganyang Malaysia adalah sakit hati khas para NeoLib.. yang anehnya teriak-teriak anti Neo-Lib.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/memasukkan-budaya-indonesia-dalam-body-bag-saja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Keinginan</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/sepuluh-keinginan</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/sepuluh-keinginan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 16:42:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scrapbook]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sepuluh keinginan]]></category>
		<category><![CDATA[soetigna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/sepuluh-keinginan</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hari ini aku tidak produktif, malas mengajar, terlalu banyak kolesterol, bosan membaca, dan seperti biasa bertemu dengan orang-orang yang berharap banyak. Konsultasi, menyiapkan silabus ancangan aplikasi, mimpin diskusi, bicara di depan kelas seperti boneka tolol.</p>
<p>Tags: <a href="http://technorati.com/tag/puisi" rel="tag">puisi</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Aku ingin main gitar berjam-jam sampai senar yang perih terhapus oleh bahagia aneh seperti berada di antara surga dan neraka, dan menghentikannya adalah kematian.</p>
<p>Aku ingin bernyanyi tentang perasaan marah yang tersembunyi dengan nada-nada manis yang menyiratkan temaramnya senja sehingga tenagaku habis dan berakhir dengan mantra-mantra kesumat cinta.</p>
<p>Aku ingin menciptakan lagu yang sejujur celoteh bayi dan semerdu tangisan laparnya sehingga tidak lagi membutuhkan nada, lirik dan alat musik.</p>
<p>Aku ingin bertemu kakekku di djl. Mangga 30, yang tak marah ketika aku mencuri main biolanya. Dia malah mengajariku &#8220;Burung Hantu&#8221;.</p>
<p>Aku ingin menyiapkan makan malam untuk orang-orang tercinta karena aku rindu dengan sisi keibuanku yang belepotan bumbu, dan terutama karena jadi lelaki ternyata membosankan.</p>
<p>Aku ingin menulis puisi dengan kata-kata yang terlalu sering diucapkan sehingga tidak punya efek sastra kecuali perasaan mual bagaikan mengulum satu lolipop bekas seribu mulut.</p>
<p>Aku ingin berada di pinggir jendela beku yang dingin putih sampai horizon, lalu kehangatan hanyalah mata basah dan telinga rindu dibakar oleh lagu-lagu Ibu Soed.</p>
<p>Aku ingin meneguk sebotol Corona sekaligus sampai tumpah membasahi dasi dan kemeja seperti ketika aku lulus skripsi di siang hari bolong.</p>
<p>Aku ingin duduk kembali di pinggir sungai yang namanya selalu salah dieja, yang begitu indah dan jernih dan  percikannya meluruhkan beberapa kata dalam catatan harian.</p>
<p>Oh ya, aku ingin punya anak perempuan yang rambutnya ikal dan dia suka naik pohon.</p>
<blockquote>
<p>
Hari ini aku tidak produktif, malas mengajar, terlalu banyak kolesterol, bosan membaca, dan seperti biasa bertemu dengan orang-orang yang berharap banyak. Konsultasi, menyiapkan silabus ancangan aplikasi, mimpin diskusi, bicara di depan kelas seperti boneka tolol.</p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>
27 Sep. 05</p>
<p>
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/sepuluh-keinginan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemukan kembali teater di keseharian kita</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/menemukan-kembali-teater-di-keseharian-kita</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/menemukan-kembali-teater-di-keseharian-kita#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 06:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminblog</dc:creator>
				<category><![CDATA[My essays]]></category>
		<category><![CDATA[Afrizal Malna]]></category>
		<category><![CDATA[stereotype]]></category>
		<category><![CDATA[teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/menemukan-kembali-teater-di-keseharian-kita</guid>
		<description><![CDATA[&#160;

In every moment  the &#8220;others&#8221; in my life reflect who I am (Deepak Chopra).


Pengalaman Teater Modern kita
Kata teater dalam perbendaharaan olah seni pertunjukan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengalaman kemoderenan bangsa ini. Modus berpikir tentang makna kemoderenan di seluruh dunia pasca perang adalah berpikir rasional, progresif, efisiensi, objektivikasi, dan ekonomisasi yang diadopsi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<blockquote>
<p><em>In every moment  the &#8220;others&#8221; in my life reflect who I am (Deepak Chopra).</em></p>
</blockquote>
<p>
<strong>Pengalaman Teater Modern kita</strong><br />
Kata teater dalam perbendaharaan olah seni pertunjukan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengalaman kemoderenan bangsa ini. Modus berpikir tentang makna kemoderenan di seluruh dunia pasca perang adalah berpikir rasional, progresif, efisiensi, objektivikasi, dan ekonomisasi yang diadopsi dengan sukarela dengan keyakinan penuh sekaligus harapan. Keperluan cepat untuk mengisi identitas modern diatasi dengan menyuntikkan filosofi generik modernisme sebagai modernisasi di berbagai sektor kehidupan bagaikan nafas yang memberi hidup. Secara konseptual, pengalaman kemoderenan adalah sesuatu yang menagasikan pengalaman tradisional. Sebagaimana di lapangan seni formal lain seperti seni rupa,  keindonesiaan modern diterjemahkan dalam bentuk teater melalui bahasa kurikulum generik yang membentuk pemahaman kita tentang esensi teater yang sejati melalui dikotomi klasik antara modern dan tradisional bagaikan iya dan tidak. Karakteristik estetika formal yang dilabelkan menjadi teater modern yang berbahasa dan berkurikulum &#8220;universal&#8221; sudah dimulai pada masa ATNI yang melahirkan tokoh-tokohnya seperti Usmar Ismail, Asrul Sani, dan kelanjutannya yang kemudian menjadi pendiri kelompok-kelompok teater mainstream di Indonesia seperti Teater Populer, Teater Lembaga, Teater Koma, Studiklub Teater Bandung, Teater Kecil. Intelektualitas yang dibangun dari pengalaman akademik seni yang mengutamakan skenario baku, rigiditas, metode latihan menjadi pola umum bagi teater dengan identitas modern ini (Dahana, 2007: 19). Melihat sejarah teater kita, maka teater modern Indonesia adalah kulminasi pengalaman bangsa lain yang kita adopsi dan masuk dalam kehidupan modern berteater kita sekarang. Berbagai saduran teater yang kita tonton dari kelompok-kelompok di atas menyajikan tokoh-tokoh yang diturunkan dari dunia lain. Masih lekat dalam ingatan saya ketika masih SMP diajak menonton Teater STB dengan lakon King Lear di gedung teater Rumentang Siang Bandung (bekas bioskop Rivoli) belakang Pasar Kosambi yang kumuh. Sebuah penerjemahan yang sangat asing.</p>
<p>
<strong>Modernitas harus terus kontekstual</strong><br />
Maka menarik untuk bertanya pengalaman apa yang terbentuk dalam kepala penonton ketika menyaksikan teater? Atau persisnya apa yang terjadi dalam pikiran orang-orang biasa yang menyemut memenuhi gedung?  Apakah berupa sederet informasi baru dari beberapa potongan dialog atau kumpulan &#8220;kutipan&#8221; yang begitu berkesan? Atau suatu kenikmatan akan berbagai efek dari narasi-narasi yang lebih banyak terdengar daripada tercerna? Atau perubahan transformatif yang memberikan pengalaman-pengalaman baru dari sebuah pertunjukan sehingga dirinya merasa tercerahkan, teremansipasi dan terwakili? Tentu teater tetap merupakan sesuatu yang serius. Tapi apakah kita dapat serius pula belajar daripadanya? Siapakah kita dalam pengertian dunia teater ini?<br />
Bagi kalangan awam, teater adalah dunia yang (sangat) serius. Mendengar nama teater kita membayangkan sebuah organisasi dengan pembagian kerja yang meliputi sutradara, pemain, pekerja-pekerja belakang panggung. Juga naskah, panggung, make up, kostum, lampu, musik, dan kalau perlu katalog. Keseriusan teater juga terasa dari suguhannya. Teater selalu dibayangkan dalam suasana formal dan intelektual. Ceritanya tidak boleh biasa, bertuturnya tidak biasa, pemilihan bahasa tuturnya pun menggunakan strategi-strategi untuk menyampaikan hal-hal simbolik dengan retorika yang artistik dan puitis. Maka Ia dibayangkan sebagai pertunjukkan drama dalam pengertian emosional, sentimentil, dengan dialog-dialog yang dituturkan dengan volume suara yang magis. Jangankan ketika berbicara tegas, ketika berbisik pun sang aktor mampu menghipnotis penonton sampai baris kursi belakang. Keterampilan pemain, ditopang kedahsyatan naskah dan arahan sutradara, akan membangun suasana mencekam yang fokus.<br />
Pengalaman kemoderenan terkait dengan definisi modernisme itu sendiri. Dalam konteks Eropa, kemoderenan adalah akumulasi pengalaman dan kesejarahan, termasuk mitos dan memori publik dari masa Yunani, Romawi, Rennaissance, sampai Modernisme yang telah mengambil jalan esensial mengedepankan rasionalitas, teknologi, dan objektivitas. Maka apapun yang berdiri di seberang rasio, teknologi dan naluri saintifik tidak masuk dalam golongan modern. Sehingga dalam usaha berteater, kemoderenan Indonesia diciptakan dengan cara menghadirkan tipikal teater Eropa dalam kehidupan berkesenian kita, termasuk kostum, lakon, bahkan gedung berakustik baik, penonton yang menduduki kursi, serta panggung yang berjarak menciptakan keagungan. Tapi kemoderenan merupakan kata yang cair dan mencari akar. Jika para tokoh pendahulu seperti Suyatna Anirun menjadi King Lear dengan berusaha meresapkan kesedihan dan kemarahan sang Raja dengan memukau sebagai suatu pencapaian esensial yang akan ditemukan oleh para pemeran King Lear yang berpengalaman di seluruh dunia, maka ekspresi teater-teater yang lebih baru seperti Teater Koma dan Gandrik merasakan kegelisahan untuk terus mencari mana nilai keindonesiaan. Dalam konteks mencari Indonesia, kemoderenan berarti melepaskan identitas lama yang terbelenggu universalisme hegemoni teater modern. Tentunya pemaknaan terhadap kemoderenan yang dibentuk oleh memori publik, kesejarahan, tragedi, proklamasi, revolusi sampai elemen budaya lokal  sebagai adonan yang khas.  Dimasukkannya elemen-elemen yang sudah dikenal sebagai bagian dari tradisi lokal dalam teater formal adalah suatu jalan mencari identitas yang lebih membumi.<br />
Belajar dari penelitian James Peacock dalam The Rites of Modernization (1968, 1987) kita melihat bahwa teater tradisional dalam kasus ludruk justru sangat merespons geliat modernisasi. Alam tradisi yang dibayangkan mandeg dalam drama ludruk menjadi alat perjuangan kelas yang menawarkan simbol-simbol yang menjembatani alam tradisi ke alam modern. Kisah-kisah ludruk yang khas di masa itu seperti tentang Tuan tanah yang lalim, suami yang meninggalkan istri di desa dan tersesat dalam dunia hedonistik, tak hanya sekedar sebagai alat propaganda partai kiri tapi juga membawa isu yang lebih besar dan universal seperti perasaan solidaritas tentang kebangsaan dan keadilan. Menonton teater ludruk adalah berkaca tentang diri sendiri sebagai penonton yang merasa terwakili. Apalagi kelompok-kelompok ludruk yang ditulis dalam etnografi Peacock benar-benar sadar bahwa penonton sangat menunggu-nunggu mereka untuk membawakan kisah-kisah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari yang membumi.  Terlepas dari kenyataan bahwa teater ludruk merupakan &#8220;anomali&#8221; dalam historiografi formal teater modern, fungsi teatrikal-nya berperan dalam transformasi sosial masyarakat yang sedang mencari identitasnya sebagai bangsa. Sehingga dalam konteks waktu 1960-an, bisa kita katakan bahwa ludruk merupakan teater yang sangat modern untuk zamannya.<br />
Kembali pada persoalan sekarang. Apakah persoalan identitas teater saat ini selesai dengan membawa semangat dialog tradisional yang dianggap membawa kearifan? Saya pikir kearifan tidak harus terkait dengan nilai-nilai tradisi dan persoalannya lebih pelik dari sekedar kearifan. Tradisi dan modernisasi hanyalah dua label yang bekerja pada saat yang bersamaan. Ketika sebuah ekspresi yang kita rasakan sangat modern dapat bertahan dengan panjang, dapat selalu dimainkan dan diperdengarkan, maka dia perlahan menjadi tradisi yang dipahami bersama. Sebaliknya, tradisi yang selalu kita bayangkan sebagai hal-hal yang menyangkut dengan sejarah masa lalu yang arif, penuh dengan simbol pengetahuan lokal yang baik juga mengalami kontekstualisasi yang aktif. Tapi sayangnya hanya kacamata antropologis yang dapat mengerti hal ini. Misalnya dalam urusan ketoprak atau wayang. Bagi orang Sunda atau Jawa, jelas bahwa pertunjukkan itu bersifat realis yang dekat dengan kenyataan sehari-hari mereka, namun bagi kacamata kritik seni formal, karya yang dimaknai secara realis itu masuk dalam kategori surealis. Sementara ketika teater kita menyajikan mencoba menyajikan hal surealis, justru malah dianggap sebagai epigon yang tidak orisinal. Maka dengan barometer Stanislavskian atau Shakespearian, kita tidak pernah benar-benar merasa memiliki tradisi realis ataupun surealis. Justru kita harus belajar pada semangat teater-teater tradisi seperti Ketoprak, Ludruk, yang rata-rata selalu penuh (dengan kapasitas penonton secukupnya, tapi penuh).</p>
<p>
<strong>Adanya Stereotipe Teater<br /></strong>Masalah yang sesungguhnya menghadang teater kita baik yang tradisional maupun yang modern adalah stereotipe-stereotip yang direproduksi terus menerus dan susah untuk dibongkar. Meminjam apa yang dipikirkan Afrizal Malna dalam &#8220;Tubuh Tari dan Tubuh Teater Masa Kini&#8221;, teater menjebak subjek-subjeknya dalam kategori-kategori yang stagnan. Dalam kasus tari, misalnya sanggar-sanggar tari telah melakukan apa yang disebut sebagai &#8220;salonisasi tradisi&#8221;. Tradisi menjadi beku dan formal serta mengerucut menjadi gerak-gerak yang harus dihafalkan selayaknya koreografi. Tari tidak lagi milik penari yang sedang melakukan pertunjukkan, tapi menjadi kumpulan hafalan-hafalan yang harus ditiru dan dipertahankan estetika etnisnya. Kita melihat perhiasan yang berlebihan dan tubuh-tubuh yang semakin dipersolek sehingga menjadi sangat rupawan. Tradisi dianggap identik dengan penampilan etnis yang terlalu dekoratif. Padahal tari berfungsi secara kultural untuk menyampaikan pesan-pesan kultural dengan intensif melalui performance gerak yang sangat personal (Malna, 2007:11). Saya pikir teater bisa jadi mendapatkan ancaman yang sama juga. Terjebak oleh pakemnya sendiri sehingga berteater berarti menyuguhkan penonton performance yang ekstrem. Kata Afrizal, tubuh aktor bekerja dengan memori untuk memasuki peran. Ketika memori dipenuhi dengan stereotip maka yang terjadi adalah beban-beban yang berlebihan dari gerak tubuh, penghayatan peran yang jangan-jangan membuat teater semakin jauh dari usaha-usaha menyampaikan pesan sebab terlalu sibuk dengan strategi cara-cara memerankan bagi tiap pemainnya.<br />
Apa yang perlu kita lihat sebagai krisis adalah ketika kapitalisme berhasil menciptakan selera-selera yang menempatkan segala urusan teater dan hal-hal kultural lainnya merosot  menjadi komoditas. Teater menjadi sarat beban pagelaran sehingga berlangsung secara besar-besaran. Pencapaian artistik pagelarannya menjadi sangat maksimal dan kita tidak bisa membedakan mana pentas musik, mana pentas tari, dan mana pentas teater. Eksplorasi tingkat tinggi yang memang menjadi kunci kreativitas menjadi harus diungkapkan dengan mementingkan media keindahan dan efek-efek buatan secara maksimal daripada (sekali lagi) pesan-pesan yang ingin ditampilkan.  Jadi jika pertanyaannya adalah bagaimana strategi kita dalam mencari bahasa baru yang kontekstual untuk zaman sekarang? Saya lebih melihat bahwa kita mengalami kelebihan bahasa, tapi belum mampu mengolahnya dengan baik dan komunikatif. Perlu adanya usaha-usaha insan teater untuk justru kembali ke kesederhanaan dengan melihat kembali siapakah dirinya (self) sebagai subjek yang merdeka. Lalu apa yang bisa dilakukan melalui teater pada masyarakat sekitar sehingga mereka bisa menemukan jati diri lewat dunia teater dan merasa bagian dari teater yang ditontonnya. Sering saya membayangkan apakah para tukang makanan di sekitar TIM dapat turut serta mengalami transformasi atau penyadaran diri melalui banyak masterpiece yang diciptakan institusi itu? Dengan teater saya ingin menemukan diri saya dari kursi penonton daripada terjebak dengan efek teatrikal yang sulit saya bawa pulang kecuali sebuah kesenangan sehabis menonton pertunjukkan.</p>
<p>
Jakarta, 2 September 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/menemukan-kembali-teater-di-keseharian-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gereja Kristen Jawa yang dilarang</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/gereja-kristen-jawa-yang-dilarang</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/gereja-kristen-jawa-yang-dilarang#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 18:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scrapbook]]></category>
		<category><![CDATA[gereja jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/gereja-kristen-jawa-yang-dilarang</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tuhanku pun berbisik jangan sekali-kali kau hitung pahala dan mengukur amalmu karena tiada mesin hitung yang secanggih kehendakNya.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p>Solo &#8211; Poltabes Surakarta meminta kepada pengurus Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan di Kota Solo untuk menghentikan program penjualan paket buka seharga Rp 500. Alasannya demi menjaga kondusivitas karena ada sejumlah elemen masyarakat yang tidak setuju dengan kegiatan tersebut. <a href="http://is.gd/2Ef4S">http://is.gd/2Ef4S</a></p>
</blockquote>
<p>Manusia adalah satu spesies yang membeda-bedakan spesiesnya sendiri dengan batas-batas sosial, agama, kelas, ras dan entah apa lagi. Sekelompok orang beragama yang direstui polisi merasa berpahala dan dicintai Tuhan ketika yakin bahwa menerima pertolongan dari umat berbeda agama adalah dosa.</p>
<p>Sungguh mentalitas yang sangat kerdil. Tuhan merekapun mungkin kerdil. Tapi Tuhanku tidak, sebab dia berbisik padaku tanpa embel-embel agama untuk mencintai semua orang tanpa kecuali.</p>
<p>Tapi aku mungkin kerdil juga. Maka aku diam-diam berharap agar Tuhan memasukkan orang-orang yang kuanggap jahanam dan menindas orang miskin atas nama keyakinannya agar masuk neraka. Maafkan, ya Tuhan.</p>
<p><strong>Update:</strong></p>
<p>Program Nasi Murah Peduli Kasih dibuka kembali&#8230;Syukurlah. Tapi tidak mencabut kekecewaan saya pada MUI setempat. Silahkan baca: <a title="link to Media Keberagaman" href="http://mediakeberagaman.com/program-nasi-murah-peduli-kasih-kembali-dibuka.php" target="_blank">Media Keberagaman</a>. Terimakasih untuk Pammy yg memberitahu perkembangan terbaru..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/gereja-kristen-jawa-yang-dilarang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlu Pemahaman Transnasional</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/perlu-pemahaman-transnasional</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/perlu-pemahaman-transnasional#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 16:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[My essays]]></category>
		<category><![CDATA[iban]]></category>
		<category><![CDATA[kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[perbatasan]]></category>
		<category><![CDATA[transnasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/perlu-pemahaman-transnasional</guid>
		<description><![CDATA[&#8211; Iwan Meulia PirousWILAYAH perbatasan negara sering kali dibayangkan sebagai area pinggiran yang &#8220;asing&#8221;. Imajinasi kita tentang perbatasan negara adalah garis merah di atas peta nasional sebelum daerah putih. Garis ini merupakan pinggiran kedaulatan, kawasan frontier yang rentan aktivitas ilegal dan penyusupan paham-paham asing.


 
Maka, cara pandang keamanan dianggap dominan untuk menyelesaikan masalah-masalah perbatasan secara seragam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8211; Iwan Meulia Pirous<br/><br/>WILAYAH perbatasan negara sering kali dibayangkan sebagai area pinggiran yang &#8220;asing&#8221;. Imajinasi kita tentang perbatasan negara adalah garis merah di atas peta nasional sebelum daerah putih. Garis ini merupakan pinggiran kedaulatan, kawasan frontier yang rentan aktivitas ilegal dan penyusupan paham-paham asing.
</p>
<p>
 </p>
<p>Maka, cara pandang keamanan dianggap dominan untuk menyelesaikan masalah-masalah perbatasan secara seragam. Isu-isu yang mengemuka tentang perbatasan negara sering kali juga direduksi sebagai masalah pelanggaran kedaulatan, kesimpangsiuran tapal batas, serta adu kekuatan diplomasi politik antarnegara sebagai aktor-aktornya.<br/><br/>Pemahaman kita tentang perbatasan negara sendiri masih terpaku pada persoalan properti &#8220;kita&#8221; dan &#8220;mereka&#8221;, yang mempersoalkan garis-garis kartografis sebagai penanda jati diri bangsa. Warga yang tinggal di daerah perbatasan negara dengan sendirinya dianggap rentan untuk dimasuki nilai-nilai budaya asing, termasuk ideologi-ideologi berbahaya.<br/><br/>Oleh karena itu, perbatasan dianggap perlu dijaga dengan kekuatan militer penuh. Tapi, benarkah demikian?<br/><strong><br/>Cukup Indonesiakah?<br/><br/></strong>Untuk kasus Kalimantan, warga perbatasan sesungguhnya mengalami minoritas ganda. Di negara sendiri mereka tidak mendapatkan pelayanan layaknya warga negara karena minimnya infrastruktur lokal.<br/><br/>Mereka pun dikenakan stigma sebagai orang-orang yang mudah terbawa-bawa paham asing alias tidak nasionalis, dan perlu selalu diberdayakan dan diindonesiakan. Sementara di negara tetangga, mereka pun mendapatkan perlakuan stereotip sebagai pendatang haram, yang sering kali harus bersiasat memanipulasi dan memanfaatkan identitas kultural ketika ada razia.<br/><br/>Sesungguhnya keterikatan warga perbatasan yang mayoritas adalah suku Dayak terhadap tanah sangatlah kuat. Sistem perladangan berpindah yang mereka praktikkan turun-temurun menuntut konsistensi mereka untuk kembali ke tanah tersebut dalam jangka waktu tertentu. Alpa menunaikan kewajiban berladang berarti merelakan tanah diambil orang.<br/><br/>Maka, jika kita tanyakan kepada seorang Dayak di ladang, mereka akan dengan pasti menyebut bahwa tanah air adalah Indonesia, sementara Malaysia hanya berupa ladang berikutnya untuk merantau mencari pekerjaan dan pendidikan.<br/><br/>Pengalaman buruk masa konfrontasi dengan Malaysia pada 1960-an memberikan narasi kuat tentang nasionalisme sebagai sesuatu yang pahit tapi penting.<br/><br/>Tahun 1963, Soekarno menginstruksikan agar sukarelawan di Kalimantan Barat yang kebanyakan etnis Tionghoa—yang pro terhadap kemerdekaan Malaysia—dilatih militer oleh RPKAD. Milisi yang terbentuk kemudian menjadi Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) maupun Paraku (Partai Rakyat Kalimantan Utara), ditugaskan menghadang Inggris dan Gurkha.<br/><br/>Tahun 1968, Soeharto menyerukan agar konfrontasi dihentikan dan RPKAD diminta melibas milisi yang mereka latih. Konflik tidak terhindarkan. Banyak suku Dayak Iban yang direkrut paksa untuk membunuh gerilyawan PGRS-Paraku, dengan alasan mereka musuh Indonesia. Sementara itu, tidak sedikit saudara Iban mereka di Malaysia direkrut Inggris untuk menghadapi Iban Indonesia.<br/><br/>Bagi rakyat yang hanya merupakan pion, nasionalisme adalah sesuatu yang asing dan aneh, jauh dari aspek kultural, sangat penuh pemaksaan dan berdarah. Ironisnya, ketika perbatasan bukan lagi merupakan &#8220;hotspot&#8221; seperti tahun 1960-an, perbaikan signifikan bagi warganya masih sangat minim.<br/><br/><strong>Budaya khas perbatasan</strong><br/><br/>Sudah saatnya kita memikirkan problem perbatasan secara kultural. Sepanjang berupa daratan, perbatasan negara adalah kawasan dengan penduduk beragam yang telah lama hidup sebagai masyarakat, bahkan jauh sebelum negara ada.<br/><br/>Wilayah Kalimantan memberikan contoh bahwa suku Dayak Iban dan Dayak Kenyah sudah mengembangkan pola migrasi, jalur penjualan komoditas hutan, wilayah permukiman, dan sistem kekerabatan, yang melintasi wilayah-wilayah yang merupakan kekuasaan Inggris dan Belanda pada masa lalu, yang kini menjadi batas internasional Malaysia-Indonesia. Suku Iban melakukan bejalai, yaitu mengembara mencari hasil hutan, bekerja cari nafkah, sebagaimana suku Kenyah melakukan peselai dengan esensi yang sama.<br/><br/>Bukan hal aneh bila pola migrasi kedua suku tadi bersifat transnasional, mengikuti pola kekerabatannya. Minimnya hegemoni kekuasaan negara di perbatasan membuat warga terbiasa hidup tanpa adanya budaya dominan. Maka, masyarakat perbatasan di Kalimantan secara aktif mengembangkan budaya yang sangat toleran dan apresiatif terhadap etnis lokal, etnis pendatang, maupun para pemangku kepentingan untuk tujuan-tujuan kooperatif.<br/><br/>Sekalipun hadir, negara lebih pada regulator, mengontrol arus orang dan barang yang sering kali menyulitkan dengan urusan imigrasi dan perizinan. Pada saat seperti ini, identitas etnis digunakan secara maksimal.<br/><br/>Baik Iban maupun Kenyah menggunakan pengetahuan sistem kekerabatan untuk menerangkan asal-usul yang akan sangat berguna dalam urusan negosiasi imigrasi dengan petugas-petugas di Malaysia, yang juga banyak menggunakan orang-orang Dayak. Dalam urusan kesehatan dan pendidikan, masyarakat perbatasan lebih memilih berorientasi pada Sarawak, mengingat biayanya bisa sangat murah—bahkan gratis—asal dapat membuktikan adanya hubungan keluarga dengan warga lokal Malaysia.<br/><br/>Sudah merupakan hal biasa, keluarga-keluarga Dayak di Indonesia menitipkan anak-anak mereka kepada keluarga Dayak di Malaysia untuk diadopsi sehingga pendidikannya menjadi gratis. Persoalan muncul kemudian, ketika mereka tidak bisa kembali ke kampung untuk bekerja di sektor-sektor pemerintahan karena statusnya sebagai warga negara Malaysia.<br/><br/>Keterikatan historis dengan wilayah dan penduduk Malaysia karena alasan kesamaan budaya, juga keterbukaan akses ke Sarawak, dipahami sebagai ancaman oleh Pemerintah Indonesia sehingga dianggap perlu untuk membuat jalan darat yang mempermudah akses ke Indonesia.<br/><br/>Tahun 1988 dibukalah jalan lintas utara di sepanjang Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dengan begitu diharapkan akan menjauhkan orientasi warga perbatasan dari Sarawak serta membuat komoditas hutan mengalir ke arah dalam negeri.<br/><br/>Diharapkan masyarakat perbatasan akan &#8220;terpanggil pulang&#8221; untuk lebih mendekat ke wilayah Indonesia. Kebijakan ini adalah kelanjutan dari pasca-konfrontasi dengan Malaysia ketika masyarakat perbatasan dipaksa meninggalkan dusun-dusun dan diharap untuk membangun rumah panjang baru di areal lebih masuk ke Indonesia.<br/><br/>Namun, akibat yang terjadi malah sebaliknya. Terbukanya akses darat menuju Sarawak justru mendatangkan bisnis baru yang lebih menjanjikan, yaitu kayu. Cukong-cukong kayu dari Malaysia memanfaatkan peluang ini secara legal maupun ilegal dengan mempekerjakan buruh-buruh lokal dan migran dari Indonesia.<br/><br/>Saat ini, wilayah perbatasan Malaysia-Indonesia di Kalimantan lebih mirip seperti pasar tempat bertemunya berbagai suku bangsa yang datang dari luar pulau (Jawa, Bugis, Makassar, Flores, Timor) karena magnet pekerjaan sebagai buruh kayu tanpa perlu dokumen. Akses terhadap komoditas bahan pokok dari Sarawak ke Indonesia pun jadi mudah.<br/><br/>Banyaknya bahan pokok made in Malaysia di wilayah perbatasan Indonesia menjawab kebutuhan akan barang sehari-hari dengan harga terjangkau.<br/><br/>Terkecuali kemudahan-kemudahan izin lintas batas bagi warga Dayak transnasional, negara memang belum mampu menjawab banyak persoalan dengan regulasi sehingga banyak aktivitas di perbatasan dilabelkan dalam kategori ilegal. Negara, melalui kebijakan pengelolaan perbatasan, harus memerhatikan adanya kemungkinan bahwa kebijakannya itu hadir bersamaan dengan kebijakan nasional negara tetangga.<br/><br/>Penting untuk diketahui bahwa batas administratif belum tentu berpotongan secara persis dengan batas budaya. Untuk itu, pemahaman perbatasan secara transnasional dengan pertimbangan adanya pengakuan (recognition) terhadap adanya budaya khas perbatasan, kesamaan etnis dan sejarah, sudah saatnya dilakukan.<br/><br/>Saya pikir, mempertanyakan kualitas keindonesiaan saudara-saudara kita di perbatasan adalah naif. Justru mereka adalah pendekar-pendekar yang menjaga dan berkorban agar Indonesia ini tetap ada.<br/><br/>* <strong>Iwan Meulia Pirous</strong>, Direktur Eksekutif Forum Kajian Antropologi Indonesia<br/><br/>Sumber: <em>Kompas</em>, Jumat, 14 Agustus 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/perlu-pemahaman-transnasional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wokbolic &#8220;minder wardeg&#8221;</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/wokbolic-minder-wardeg</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/wokbolic-minder-wardeg#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 14:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[My essays]]></category>
		<category><![CDATA[keindonesiaan]]></category>
		<category><![CDATA[wajanbolic]]></category>
		<category><![CDATA[wokbolic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/wokbolic-minder-wardeg</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wajanbolic mungkin tidak sefilosofis Ubuntu. Dan ketika kini namanya menjadi wokbolic, yang tersisa adalah gambaran tentang bangsa sendiri, yang khawatir akan generasi mudanya yang menjadi kebarat-baratan dan pada saat yang bangga terlalu cepat bangga dengan "inggris-sisasi" di segala bidang. Dua hal yang sangat bertolak belakang itu menjadi bagian laten keindonesiaan kita.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah konferensi TI Asia Pasifik 12-14 Juni 2009 di Penang, teknologi <em>wajanbolic</em> yang merupakan parabola dari wajan masak mendapatkan &#8220;paten&#8221; sebagai khas Indonesia hasil dari pemanfaatan kreatif &#8220;kearifan lokal&#8221; dapur yg sangat murah. Para peserta konferensi internasional itu pada kagum berat. Tapi kemudian istilah lokal tersebut jadi persoalan dan diganti seperti dimuat di <a title="Detik.com - Wajanbolic - Wokbolic" href="http://tinyurl.com/l2zlwk" target="_blank">detik.com</a> :</p>
<blockquote>
<p>Tentunya akan aneh di luar negeri jika kita menggunakan istilah &#8216;wajanbolic&#8217; untuk antena parabola buatan <a title="Pak Gunadi dan Wajabolic nya." href="http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Wajanbolic_e-goen" target="_blank">Pak Gunadi</a> karena &#8216;wajan&#8217; adalah bukan bahasa Inggris. Akhirnya, digunakan istilah &#8216;Wokbolic&#8217; sebagai pengganti &#8216;Wajanbolic&#8217; dalam bahasa Inggris. Terdengar aneh memang, namun memang begitulah adanya. &#8216;Wok&#8217; adalah &#8216;Wajan&#8217; dalam bahasa Inggris. Barangkali ini merupakan kontribusi bangsa Indonesia kepada bahasa Inggris dan dunia internasional.</p>
</blockquote>
<p>Saya yang mulanya bangga jadi merasa sebal. Mengapa penemuan lokal yang sudah berhasil merakyat dengan istilah lokal, populer, dan sangat <em>ngindonesia</em> itu justru harus dialihbahasakan lagi ke dalam bahasa yang lebih ramah bagi dunia TI internasional yaitu wok-bolic? Para Bapak-bapak ahli TI dari Indonesia yang hadir di acara itu manggut-manggut bertambah bangga sementara saya merasa masygul.</p>
<p><strong>Mempertahankan kelokalan dalam iklim global adalah harus</strong></p>
<p>Ilustrasi kecil. Dalam dunia operating sistem &#8220;kode terbuka&#8221; Linux dan variannya, kita tentu pernah mendengar distro <em>Ubuntu</em> yang sangat populer dan malah jadi yang terbaik dan meraih jumlah pengguna terbanyak. Siapapun yang menggunakan Ubuntu Linux dapat menonton sedikit <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Experience_ubuntu.ogg">video</a> tentang istilah itu dalam DVD-nya. Tidak tanggung-tanggung, Nelson Mandela sendiri yang menjelaskan apa itu artinya Ubuntu sebagai konsep tradisional Afrika yang berasal dari Bahasa Bantu, yang kurang lebih bermakna <em>&#8216;I am what I am because of who we all are&#8217;</em>. Atau dalam pengertian lain <em>&#8220;berbuat baiklah sebanyaknya pada orang-orang sekitar kita dan di situlah makna hidup kita&#8221;.</em> Maksud saya, jangankan sebuah kata, sebuah konsep lokal pun punya hak untuk disuarakan secara utuh kepenjuru dunia global tanpa malu kehilangan maknanya.</p>
<p>Wajanbolic mungkin tidak sefilosofis Ubuntu. Dan ketika kini namanya menjadi wokbolic, yang tersisa adalah gambaran tentang bangsa sendiri, yang khawatir akan generasi mudanya yang menjadi kebarat-baratan namun pada saat yang sama terlalu cepat bangga dengan <em>&#8220;inggris-sisasi&#8221;</em> di segala bidang. Dua hal yang sangat bertolak belakang itu menjadi bagian laten identitas keindonesiaan kita.</p>
<p>Istilah-istilah non-inggris seperti <em>Wok</em> yang kurang lebih artinya alat masak juga diimpor dari bahasa Cina, dan telah masuk dalam kamus Inggris dan oke-oke saja. Seharusnya istilah wajanbolic juga bisa saja dong. Dalam bahasa Inggris terdapat kata bahasa India seperti <em>curry</em> atau kare dari India.</p>
<p>Bahkan dari bahasa Melayu pun ada di perbendaharaan Inggris seperti misalnya <em>amok</em> yang artinya adalah &#8220;ngamuk&#8221; atau &#8220;amuk&#8221; (saya tidak berani menggunakan Indonesia karena pada saat kata ini ada, Indonesia pun belum ada dan Melayu tidak selalu berarti Malaysia). Kata ini begitu penting dipertahankan dalam bahasa Melayu-nya untuk kepentingan kosakata Inggris karena memiliki arti sangat spesifik yaitu histeria ngamuk besar-besaran dan brutal yang menjadi pengalaman traumatis kolonial Inggris di Sarawak (Borneo, Kalimantan Utara). Mereka melihat (dan mendengar kisah musafir) tentang suku &#8220;primitif&#8221; yang disebut Dayak (<em>dyaks</em>) yang gemar berekspedisi dengan perahu dan menyerbu desa-desa untuk memenggal kepala mereka demi kepentingan ritual. Gambaran kengerian ngamuk massal ini berbeda dengan peperangan konvensional. Dalam peperangan ada motif membela kebenaran, sementara dalam <em>amok</em> yang ada adalah pesta kejam yang euforik. Kata <em>amok</em> ini juga digunakan untuk menerangkan histeria ngamuknya orang-orang Aceh melawan Belanda. Dalam catatan-catatan harian serdadu Belanda, terdapat deskripsi peristiwa bagaimana seorang pedagang Aceh di pasar tiba-tiba cabut rencong dan menikam 5 atau 6 orang marsose atau serdadu Belanda yang patroli, padahal sedang tidak ada perang.</p>
<p>Saya yakin bahasa Inggris terbuka terhadap istilah baru, dan di masa kini ketika penjajahan telah (konon) dihapuskan, usaha-usaha pemasukan muatan lokal menuntut partisipasi aktif dari pelaku lokal di kancah global. Dalam konferensi TI tadi, seharusnya gaya lokal wajanbolic itu dengan setengah mati dipertahankan. Contoh, kini kita punya menyaksikan bahwa kata <em>moslem</em> sudah banyak dikoreksi menjadi <em>muslim</em> (bahkan dalam buku teks baku bahasa Inggris). Sesuatu yang remeh namun sangat berarti bagi umat Islam yang membayangkan kata itu hadir bukan saja secara fonemik tapi fonetik dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Kemudian pertanyaan gentingnya adalah: Mengapa untuk menceritakan identitas diri sendiri, kita selalu tidak pernah merasa cukup percaya diri untuk menggunakan akar sendiri, bahasa sendiri, pikiran sendiri? Mengapa untuk menceritakan diri sendiri kita selalu meminjam lidah orang lain?</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Untuk yth Bapak-bapak TI (Pak Gunadi dan Pak Onno) yang mengembangkan wajanbolic dna RT-RW net, saya sangat bangga dan hormat terhadap dedikasinya dalam mengembangkan budaya internet nasional yang murah dan baik. Tapi, maaf saya tetap menggunakan kata wajanbolic.</p>
<p>This Post has been published with <a href="http://www.blogdesk.org">BlogDesk</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/wokbolic-minder-wardeg/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejahatan yang memalukan</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/kejahatan-yang-memalukan</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/kejahatan-yang-memalukan#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 03:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scrapbook]]></category>
		<category><![CDATA[Omni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/kejahatan-yang-memalukan</guid>
		<description><![CDATA[
Catatan sejarah kolusi badan peradilan!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img height="352" alt="kecil eec587d4b86d1f47" src="http://iwan.pirous.com/wp-content/uploads/2009/06/kecil-eec587d4b86d1f47.jpg" width="465" /></p>
<p>Catatan sejarah kolusi badan peradilan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/kejahatan-yang-memalukan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Roby Muhamad:  Identitas: hubungan sosial tidak pernah cukup.</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/untuk-roby-muhamad-identitas-hubungan-sosial-tidak-pernah-cukup</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/untuk-roby-muhamad-identitas-hubungan-sosial-tidak-pernah-cukup#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 04:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Scrapbook]]></category>
		<category><![CDATA[identitas]]></category>
		<category><![CDATA[keindonesiaan]]></category>
		<category><![CDATA[relasi sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/untuk-roby-muhamad-identitas-hubungan-sosial-tidak-pernah-cukup</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang Roby Muhamad tawarkan adalah rasa kenyamanan karena relasi sosial. Namun bagaimana menjelaskan keinginan sangat subjektif (individual basis) untuk terus menggali keindonesiaan dalam diri terlepas dari banyaknya teman friendster+facebook kita?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Identitas: hubungan sosial tidak pernah cukup.</p>
<p>Menanggapi siaran <a href="http://politikana.com/baca/2009/05/26/soal-identitas-indonesia.html">Roby Muhamad</a>, saya tulis tanggapan singkat.</p>
<p>Relasi sosial dalam artian hubungan jaring-menjaring memang turut membentuk identitas seseorang. Ini sesuatu yang penting sekali dipahami untuk menjelaskan pada kaum esensialis (pemuja keutuhan identitas) bahwa identitas selamanya fluktuatif dan sementara sebagaimana hubungan sosial sangat dinamis.</p>
<p>Namun apa yang ingin saya tawarkan, adalah sisi lain dari identitas yang  berada dalam proses pencarian terus-menerus dalam mengisi subjek (<em>personhood</em>, katakanlah). Ini menyangkut pada persoalan esensi bagaikan botol air yang tak pernah penuh. Keindonesiaan adalah contoh yang baik. Apa yang Roby Muhamad tawarkan adalah rasa kenyamanan karena relasi sosial. Namun bagaimana menjelaskan keinginan sangat subjektif (individual basis) untuk terus menggali keindonesiaan dalam diri terlepas dari banyaknya teman friendster+facebook kita?</p>
<p>Di sini kita menghadapi persoalan-persoalan layer &#8220;geologis&#8221; berhubungan dengan sejarah, konstelasi politik dan kategorial lain menyangkut kultural dari mulai agama sampai etnis yang berhimpitan dalam diri sebagai subjek. Negara memberikan imposed <em>identity</em> seperti cap pos (lewat pancasila, MUI, penataran P4, label agama di KTP), juga memberikan pengalaman untuk ditempel dalam memori (&#8220;komunis itu jahat&#8221;, &#8220;indonesia merdeka tahun 1945, mari kita peringati&#8221;). Biografi kultural pun berperan (sebagai urang Sunda, pengalaman masa kecil di surau, dll). Lapisan-lapisan ini pun bekerja membentuk rasa identifikasi diri kita sebagai bangsa.  Lalu karena pengalaman terus bertambah dengan membaca buku, menulis, bergaul, terlibat organisasi, terlibat gerakan separatis&#8230; maka penggambaran identitas pun selalu berkembang. Selalu mencari.</p>
<p>Mencoba untuk mencari sintesa antara pendapat saya dan Roby, tentu relasi sosial tetap penting untuk membentuk identitas, tapi bukan saja kehangatan hubungan dan sharing persamaan kultural yang terjadi. Sebaliknya benturan-benturan prinsipil pun tak dapat terhindarkan yang terjadi karena ada &#8220;social relations&#8221; yang lahir dari serangkaian perbedaan paham terhadap konsep, agama, kepercayaan, bahkan benda-benda. Contoh perdebatan politikana antara kaum &#8220;agamis&#8221; dan &#8220;sekuler&#8221; yang sepintas saling serang-menyerang dan adu kebenaran, sebetulnya adalah pertarungan alami antar kelompok itu untuk selalu mencari identitasnya, merekonseptualisasi dan menafsirkan ulang.  Ketika salah-satu pihak berhenti mencari&#8230; maka perlahan sebetulnya merekalah yang berubah menjadi fosil (baik fundamentalisme agama, ataupun fundamentalisme sekuler).</p>
<p>Maka saya, Roby&#8230; terus mencari&#8230; terus haus.. terobsesi.. dan semoga menulis (siaran) terus.</p>
<p>tabik (sayang tidak punya webcam). <img src='http://iwan.pirous.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/untuk-roby-muhamad-identitas-hubungan-sosial-tidak-pernah-cukup/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia: Sour Sally dan Saur Sepuh</title>
		<link>http://iwan.pirous.com/indonesia-sour-sally-dan-saur-sepuh</link>
		<comments>http://iwan.pirous.com/indonesia-sour-sally-dan-saur-sepuh#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 18:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[My essays]]></category>
		<category><![CDATA[Gellner]]></category>
		<category><![CDATA[identitas]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[keindonesiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Saur Sepuh]]></category>
		<category><![CDATA[Sour Sally]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iwan.pirous.com/indonesia-sour-sally-dan-saur-sepuh</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sulit mendapatkan gambaran utuh sintesa masa lalu dan masa kini dalam visualisasi Indonesia demi sebuah <em>national cultural branding</em>.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="width: 255px; height: 282px;" src="http://iwan.pirous.com/wp-content/uploads/2009/05/saur-sepuh1.png" alt="saur-sepuh1" width="336" height="333" align="left" />Tutup mata dan bayangkanlah visualisasi Indonesia. Apa yang tergambar? Batik, Borobudur? Pohon Kelapa? Perempuan coklat? Saur Sepuh? Sekarang buka lagi mata dan tutup lagi: Mall? Fastfood? Bioskop 21? <em>Blackberry</em>? <em>Sour Sally</em>?</p>
<p>Sulit mendapatkan gambaran utuh sintesa masa lalu dan masa kini dalam visualisasi Indonesia demi sebuah <em>national cultural branding</em>. Adakah tipografi yang khas Indonesia? Ornamen? Suara? Bau?</p>
<p>Keindonesiaan selamanya obsesif dan sugestif. Kita merasa tidak punya dan terus mencarinya, tapi kita juga sangat yakin itu ada. Sesuatu yang sangat Indonesia seperti merah putih, garuda yang jelas nongkrong secara resmi adalah identitas formal. Katakanlah konsensus. Tapi kering. Garuda tidak pernah muncul kecuali dibingkai kaca, merah putih terlalu sakral untuk jadi Tshirt-<em>funkee</em>, Indonesia Raya tidak boleh diubah aransemennya, Borobudur, ah cukup Indonesiakah itu? Walau Kecap <em>Borobudur</em> sangat Indonesia banget termasuk <em>Bango</em>, <em>Merak</em>, <em>Udang Sari</em>.</p>
<p>Membayangkan bangsa bagaikan ditarik kebelakang seperti khayalan Muhammad Yamin sekaligus dibetot kedepan seperti sabda St. Takdir. Ditambah dengan kesialan kolonialisme, angan-angan Indonesia semakin eksotis saja: tempat istirahat seperti kartupos yang damai, bersenja temaram, (Visit Indonesia the <em>mooi indie).</em> Sekaligus juga developmentalis berat: hypermart, jalan tol, lagi2 mall tiap sentimeter, kebon sawit, logging..</p>
<p>Kata Ernest Gellner, antropolog:</p>
<blockquote><p>sentimen kebangsaan adalah tipe kebudayaan yang secara otomatis akan berkembang setelah negara mencapai industrialisasi, tahap kesejahetraan ekonomi, pembagian kerja terdiferensiasi dan birokrasi massal yang efektif dan menjangkau ruang publik.</p></blockquote>
<p>Identitas nasional merupakan buah paling manis.. ketika negara bisa percaya diri untuk claiming banyak hal melalui dukungan kebijakan tentang soal2 remeh: kecap, bakso, pecel, borobudur, ikan asin, tuak. Jadi jangan harap bangsa punya identitas nasional kuat, jika kinerja negara lemah, tidak sistematis, lambat, ribet sama pemilu, dan miskin pelayanan publik&#8230; Maka kita tak akan punya cultural branding seperti Wine bagi Perancis, <em>Curry</em> untuk Inggris. Apalagi sebuah sinkretisme antara past-future, antara Yamin dan St Takdir.. antara Sour Sally dan Saur Sepuh..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iwan.pirous.com/indonesia-sour-sally-dan-saur-sepuh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
