Ada di mana dunia maya itu?

Kita sudah terlanjur setuju bahwa internet adalah realita alternatif. Dia adalah jagad yang tercipta karena relasi-relasi antar mesin, sebuah dunia dibalik monitor LCD. Dia tidak nyata tapi ada. Cyberspace memang dipopulerkan oleh film fiksi ilmiah ketika komputer tidak lagi berdiri sendiri, tapi menjadi jaringan yang saling terhubungkan. Maka ketika listrik mati, ketika jaringan utama collapse, atau bahkan ketika orang-orang log-off, dunia itu menyempit – bahkan bisa bubar. Maka itu internet identik dengan dunia virtual. Atau sesuatu yang (sebatas) meniru persis dunia dan berfungsi sebagaimana dunia, tapi sesungguhnya “menipu” karena dia bukan dunia. Tapi apakah dunia virtual itu benar-benar berbeda dengan dunia tempat kita bernafas sehari-hari?

[K]ita senang berteman, berhubungan dengan keluarga, berkenalan dengan orang-orang baru. Kita bahkan tidak peduli apakah perut kita kenyang atau tidak selama kita bisa berkumpul, seperti dalam peribahasa jawa mangan ora mangan sing penting kumpul. Komunitas dan kehidupan sosial penting bagi kita. Dan peran nongkrong yang selama ini kita lakukan di kios-kios, di pos siskamling, di depan gang-gang kini mendapatkan steroidnya. Kehidupan sosial itu kini hidup di dunia maya dalam bentuknya yang lebih powerful (Enda Nasution, Berkah Dunia Maya, 2010: ).

Menarik bahwa Enda Nasution memberi kabar bahwa hubungan-hubungan sosial yang terjadi dalam “dunia maya” itu justru melibatkan orang-orang yang sangat “realistis”: keluarga, teman lama, dan teman-teman baru. Mereka hadir sebagai tetangga yang nongkrong tak ubahnya seperti di dunia nyata., Bedanya adalah adanya steroid yang melipat hambatan jarak. Jadi, dunia maya itu adalah suatu space dimana segala peristiwa sosial terjadi persis seperti di dunia nyata. Komunitas canggih sekalipun tetap mempertahankan ciri primitifnya sebagai sebuah tribe yang punya identitas sosial, solidaritas, simbol dan totem selayaknya sukubangsa.

 

Jadi istilah dunia maya sebagai kata ganti internet adalah mitos. Apa yang terjadi sebetulnya adalah relasi-relasi sosial yang intim di media-media jejaring sosial ternyata sudah jauh lebih penting dari space -nya sendiri. Atau bahkan, istilah virtual world, dunia maya, cyberspace dan sebagainya sebetulnya hanya mitos. Kita menggunakan internet tiada beda seperti bagaimana Alexander Graham Bell merancang telepon yaitu untuk medekatkan dan memudahkan komunikasi saja. Teknologi komunikasi memang membuat persepsi tentang waktu, jarak, dan ruang menjadi terdistorsi karena adanya komunikasi instan dalam satuan detik yang tersiar lewat internet. Tapi itu tidak berarti menciptakan satu space baru. Earth Hour selama 1 jam pada pukul 20.30 tetap mengikuti realita perputaran Bumi mengelilingi matahari sehingga kita tidak mungkin merayakannya di Twitter atau Facebook secara serentak.Maka, Facebook adalah dunia nyata itu sendiri dimana kita adalah kumpulan technotribe. Masyarakat primitif dengan gadgets -nya.

Saya lebih melihat bahwa jejaring sosial sebagai sebuah aktivitas cyborgfication dalam dunia sesungguhnya. Menyatunya manusia dengan mesin sehingga dia dapat menjadi manusia yang memperluas kemampuannya dalam interaksi di dunia ini. Ketika manusia menemukan lensa, maka dia memperhebat matanya. Ketika telepon ditemukan, dia memperhebat telinganya, ketika internet-social networking digunakan dia memperluas seluruh inderanya demi obsesi komunikasi.

Dunia maya ada, tapi bukan di social-web. Dia lebih tepat ditemukan dalam kreasi permainan video Computer-role playing game. Para gamers hidup dalam kota artifisial dengan penokohan-penokohan. Tiap pemain menjadi avatar. Sebuah dunia yang hidup dan bisa beroperasi dalam sebuah hardisk, kumpulan komputer sampai di internet itu sendiri. Tapi Social Web adalah kenyataan.

Apakah demokratisasi lewat internet adalah demokratisasi kelas menengah saja?

[S]emua ini dimungkinkan karena adanya social web yang membuat orang bebas dan berhak mengungkapkan apa yang dia pikir dan dia rasa, yang membuatnya juga bisa menyentuh dan meraih jutaan orang lainnya dalam waktu singkat dan cepat. Kita sedang berdiri di sebuah titik sejarah di mana kemajuan teknologi yang dikombinasikan dengan sifat alami manusia untuk bersifat sosial tengah menjadi sebuah tsunami kebebasan yang bergerak menuju pantai, tanah yang dijanjikan (Enda Nasution, Berkah Dunia Maya, 2010: ).

Kebebasan yang dikatakan Enda sebetulnya baru jitu ketika dibaca dalam perspektif kelas sosial. Ingin saya menarik nafas lega bahwa teknologi jejaring sosial menciptakan kesempatan untuk mendobrak tembok kebuntuan komunikasi politik bagi tiap orang. Sayangnya nafas lega itu masih kurang plong karena demokratisasi lewat internet ini masih menjadi ciri khasnya kelas menengah-atas saja. Kelas menengah hidup di dua dunia sehingga paling gelisah sebagai ciri utamanya. Mereka nyerempet kaya tapi basis materi kurang. Mereka juga susah dikatakan miskin karena berusaha mengadopsi gaya hidup ideal. Kelas menengah sebetulnya paling sensitif terhadap perubahan. Kalau harga naik, maka mereka harus berpola irit menuju miskin, kalau dollar bergejolak maka artinya laptop menjadi mahal. Ketika rupiah kuat pun happy-nya luar biasa. Kelas atas sangat mapan untuk gelisah sehingga lebih banyak diam, sementara kelas bawah terlalu biasa dengan filosofi penderitaan sehingga sehancur-hancurnya hidup masih juga terasa normal. Jadi tidak heran bahwa gertak kelas menengah yang paling keras suaranya. Tapi saya ragu apakah mereka ini rewel karena peduli bangsa, atau karena khawatir terseret jauh keluar dari comfort zone-nya? Ketika kita beramai-ramai Say No ini, itu… apakah kita memang ingin melawan atau hanya senang-senang lewat qwerty keyboard?

 

Saya pikir konteks negara Dunia Ketiga seperti Indonesia ini harus dibaca berbeda. Social-web yang identik dengan kebebasan universal bagi tiap orang hanya dapat terjadi di kawasan-kawasan Welfare States yang batas-batas antara kelas sosial kaya dan miskin menipis karena negara merasa bertanggungjawab mensejahterakan rakyat tanpa kecuali. Ketika gaji anggota parlemen, Guru Besar, dan perawat, tukang sapu tidak terpaut jauh maka akses terhadap teknologi demokratis semakin merata sebagai alat transformasi sosial. kalau miskin bareng2 lah (Cuba), atau kaya bersama (Eropa Barat).

Revolusi Digital Indonesia belum seperti itu. Di sini masih tahap jargon. Social Web yang digunakan kelas menengah-atas disini baru akan cukup kuat sebagai sebuah tsunami revolusioner ketika kelas menengah-atas bisa sedikit “bunuh diri kelas” alias sadar politik dan memihak kelas bawah. Banyaknya bandwidth twitter yang berfungsi sebagai display kegiatan belanja, makan, nonton, menunjukkan bahwa comfort zone sangat dijaga. Bahkan meskipun harus menebus dosa dengan tunggakan kartu kredit? Sudahkan Revolusi digital kita mempersiapkan orang-orang untuk punya kesadaran kelas, bahwa mereka itu diitindas secara kolektif? Dan secara sederhana, kalau diinjak apakah kita hanya merasa sakit sendiri? Atau beramai-ramai? Saya pikir sudah ada bibit-bibit kolektif massa seperti itu. Tapi sekali lagi, revolusi yang berhasil — digital ataupun analog — adalah revolusi yang digerakkan oleh imajinasi bahwa kelas menengah merasa menjadi satu bagian rakyat Indonesia yang membagi wajah kegelisahan sama, tak peduli kelasnya apa. Bagian yang paling ribet adalah bagaimana mempersatukan segala perbedaan ditengah potensi konflik yang selalu dipelihara negara (Negara yang selalu mencegah transformasi sosial besar ini)? Not to mention radikalisasi agama kelas bawah… Anjrit ribet ribet…..!!!

« »