Sejarah adalah Pertarungan Fakta dan Fiksi
Bisa jadi sejarah sebenarnya hanyalah permainan kata dalam menyusun sebuah cerita panjang tentang “kebenaran”. Penulisan adalah arena permainan antara fakta dan fiksi. Sejarah, tokh harus disampaikan dalam bentuk cerita, dan berhasil dimengerti karena akal manusia memiliki ruang fiksional tempat imajinasi bermain. Tidak heran, cerita sejarah sebagai sebuah laporan tentang fakta-fakta kemerdekaan, selalu hadir dengan romantis, patriotik, bahkan sedikit mitologis. Semakin penting suatu peristiwa sejarah, maka semakin romantis dan patriotik wujud pengungkapannya. Sebaliknya, bahkan roman paling picisan sekalipun harus dibangun atas setting dan kejadian-kejadian yang logis dan faktual sehingga bisa dimengerti akal. Jika sebagian fakta adalah fiksi dan sebagian fiksi adalah fakta, bagaimana manusia mengingat sejarah? Hanya sebagian kecil saja orang yang begitu berdedikasi pada tanggal seperti para guru sejarah yang idealis dan sejarawan kutu-buku. Diluar itu, manusia sebenarnya adalah mahluk egois atau lebih tepat selektif. Dia hanya ingin mengingat hal-hal yang ingin dikenangnya.
Mengingat adalah Pilihan Berbatas
Sebagai warganegara yang loyal, kita tidak diperbolehkan untuk terlalu bebas memilih mana yang harus diingat dan mana yang harus dilupakan. Masa silam sudah dituliskan oleh pihak lain yang punya kuasa. Ikatan emosional terhadap suatu peristiwa sejarah adalah nostalgia yang disuntikkan penguasa dalam ruang imajinasi kolektif rakyat, dan jauh dari pengalaman pribadi terhadap peristiwa yang terjadi. Sejarah mengajarkan kita untuk memperbaiki kesalahan yang sudah ditentukan, lewat cara-cara yang sudah ditentukan juga. Sejarah transisi Indonesia 1963-1966-an bisa dijadikan sebagai sebuah laboratorium yang baik untuk melihat bagaimana situasi akhir perang dingin di Asia Tenggara dengan kemenangan telak blok kapitalisme merubah secara radikal tidak hanya pemetaan geopolitis, pemasaran, demokrasi, informasi dan arus modal di Indonesia, tapi juga bagaimana sejarah seharusnya dituliskan. Secara sistematik ingatan kolektif Indonesia pasca-perang dingin dipersiapkan agar siap menerima sistem ekonomi liberal yang lebih menguntungkan pasar modal internasional di akhir 1966. Proses ini harus cepat, mulus, dan efektif karena waktu tidak banyak. Pemerintah baru harus menentukan mana yang harus diingat dan mana yang harus dilupakan. Ingatan-ingatan pada Marxisme dan Sosialisme di Indonesia diarahkan pada peristiwa kebencian kolektif terhadap fakta 30 September. “PKI=Binatang” dan atribut-atribut senada di media massa menjadi senjata retorika efektif dalam menggairahkan pembunuhan mendekati sejuta manusia dengan suka-ria hanya beberapa bulan setelah PKI dilarang . Belasan tahun kemudian “Komunisme adalah bahaya laten”, sebuah jargon yang lebih intelektual, mengunci imajinasi kita dengan fiksi-fiksi heroik yang sangat faktual dan fakta-fakta yang berbaur dengan fiksi. Tapi itulah wajah ‘kebudayaan kekerasan’ kita, dimana pembunuhan massal hanyalah statistik dalam laci gelap, sementara pembunuhan 7 Jendral menjadi drama horror, urban legend untuk generasi tua-muda.
Saat kini kita memetik buah ranum kapitalisme. Tahun 1960-an kita tak punya apa-apa kecuali harga diri. Tahun ini, kita nyaris punya semuanya kecuali harga diri karena harus mengimpor semua kebutuhan dari mulai peniti sampai handphone, sementara ekspornya adalah TKI serta garmen dan sepatu hasil mandi keringat buruh upahan rendah yang dikendalikan dan dimiliki perusahaan asing. Pemikiran ekonomi Marxisme dibunuh 30 tahun lalu, tanpa ruang untuk mengkaji segi positifnya dari segi pemikiran ekonomi-politik untuk kepentingan negara Dunia Ketiga yang gampang digonjang-ganjing lewat pasar bursa. Maka, kita, generasi muda urban sekarang merasa bahwa ketidak-adilan ekonomi adalah resiko biasa dalam kapitalisme yang merupakan kehendak Tuhan.
Namun hati kecil punya kecerdasan sendiri. Dia bisa terlihat mati, tapi sebagaimana virus, hati kecil sukar dibunuh dan memiliki kemampuan untuk bertahan sepanjang akal sehat itu ada. Ada dosa tak terjelaskan dalam ingatan kultural kita hari ini. Bagaimana menjelaskan secara telanjang bahwa perlu ada sejuta orang awam, barangkali lebih, sengaja dibunuh tanpa pengadilan hanya karena punya hubungan dengan sebuah partai kiri yang dituduh makar dan gagal? Apakah Marxisme dilarang karena dia tidak henti-hentinya menawarkan suatu kesadaraan kritis akan ketidak-adilan yang akan jadi penghambat globalisasi ekonomi? Apakah semuanya sudah direncanakan? Akal sehat memang selalu bertanya.
Testimonial dan Museum Sejarah Tutur
Kebanyakan dari kita, disadari atau tidak, memahami fakta-fakta historis karena memiliki ikatan personal terhadap peristiwa-peristiwa yang sangat khusus. Testimonial dari sisa-sisa yang masih bernafas dan mengingat sebetulnya menjadi bahan yang penting dan menunggu untuk disuarakan sebagai data utama bagi sejarah. Sejarah dalam perspektif oral tentunya lebih kaya nuansa, sebab para penuturnya hadir secara aktif menceritakan pengalaman pribadi sebagai mahluk kultural yang memiliki perasaan, kemarahan, humor, ketakutan dan kemampuan otokritik. Testimonial adalah penceritaan identitas diri dalam konteks historis yang aktual, tidak ada yang salah dan benar dengannya.
Museum sejarah seharusnya memanusiakan rakyat, bukan memonumenkannya secara narsis. Bangsa menjadi dewasa bukan karena bertempur dan menyembelih manusia tapi karena mengambil resiko untuk memaafkan (termasuk mengaku kesalahan) dan belajar mendengarkan rakyatnya. Strategi kultural yang serius lewat museum dan perekaman, khususnya sisi gelap Orde Baru sudah saatnya dilakukan. Museum yang berhasil bukan saja membuat pengunjung mencocok-cocokkan pengetahuan kulturalnya dengan artefak budaya, tapi juga menawarkan pilihan konseptual yang kritis, sehingga pengunjung mendapatkan sesuatu yang baru. Dalam konteks peristiwa pembantaian massal, tawaran kritis itu adalah upaya membangunkan ingatan rakyat dari amnesia sejarah yang ketinggalan zaman. Namun, jika 7 jendral yang dibunuh membutuhkan 1 museum, berapa museum harus kita bangun untuk menampung “suara” ratus ribu bahkan juta nyawa tumbal pembangunan?
(pernah di Kompas, tahun 2006)
« Mencoba Critical Anthropology? Searching for Malay Identity: Understanding the dynamics of becoming Malay in contemporary East Malaysia »


salam sosialis!!
kunjungan perdana dan berharap kesedianya berkunjung ke gubuk saya