Beberapa catatan tentang dimensi kultural dan sejarah untuk pengembangan museum Tsunami Aceh
Pembukaan
Kata museum seringkali mengingatkan pada segala sesuatu yang bersifat kuno. Sesuatu yang berhubungan erat dengan persoalan barang antik, sejarah-sejarah lama yang tersimpan dalam bentuk koleksi yang dipamerkan. Maka itu kita yakin dan percaya bahwa jika ingin mengetahui tentang asal-muasal, pergilah ke museum. Maka tidak heran apabila orang sering merasa malas pergi ke museum. Buat apa sering-sering pergi melihat peninggalan berdebu yang tidak ada hubungannya dengan masa kini? Pengunjung museum tidak dapat disalahkan, karena memang sedemikian banyak museum-museum di Indonesia yang membosankan bagi masyarkat awam. Museum-museum yang “membosankan” ini tidak bisa dipungkiri merupakan warisan zaman dulu, ketika museum memiliki fungsi yang sangat terbatas yaitu untuk kepentingan dokumetasi ilmu pengetahuan, bagi segelintir orang berpendidikan, bagi para sarjana arkeologi, antropologi, geologi, senman dan kolektor, yang tentunya memang tidak mementingkan aspek lain diluar kepentingan dokumentasi ilmu pengetahuan. Catatan kecil ini bermaksud membuka wawasan pembaca bahwa fungsi museum yang dibatasi sebagai sarana dokumentasi ilmiah semata telah lama ditinggalkan orang. Namun cara pandang ini masih dominan dalam berbagai praktek permuseuman di Indonesia–bahkan untuk museum-museum penting .
Dalam kaitannya dengan rencana pembangunan Museum Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam ini, sudah saatnya kita berpaling pada konsep museum yang dapat memenuhi aspirasi banyak pihak mulai dari akademisi sampai anak kecil usia sekolah dasar . Jelasnya, museum Tsunami kelak bukan saja mendokumentasikan tsunami, tapi lebih kepada menempatkan peristiwa bencana dahsyat sebagai titik awal bagi kebangkitan semangat bangsa Aceh sendiri. Konsep museum ini tetap harus menitikberatkan dirinya pada fungsi-fungsi sosial. Sebuah museum yang dapat menjadi pusat pembelajaran, bukan hanya dari kualitas koleksinya saja, namun pada daya tariknya sebagai wahana yang membuat semua orang (terutama komunitas orang-orang Aceh) merasa memilikinya. Sebuah museum yang sangat sensitif terhadap kebutuhan rakyat banyak dan membuat orang-orang Aceh merasa terwakili. Pendek kata sebuah museum yang hidup dalam dunia keseharian pengunjungnya serta menggambarkan pengalaman-pengalaman kultural yang merupakan pengalaman kolektif warga Aceh dimanapun.
Mengapa museum penting ?
Baiklah, museum ternyata bukan hanya milik warga intelektual saja. Tapi mengapa museum penting bagi rakyat biasa? Ini merupakan pertanyaan yang penting. Jawaban yang pendek adalah: “karena (seharusnya) museum itu menceritakan tentang diri kita”. Maka, setiap orang yang mengunjungi museum akan mengetahui sepenggalan cerita tentang dirinya dari berbagai aspek tergantung yang ditawarkan museum tersebut. Ini merupakan suatu pengalaman enkulturasi atau pembudayaan yang sangat personal sekaligus juga kolektif. Secara personal, museum mempengaruhi seseorang sebagai pemirsa tunggal yang mendapatkan sensasi peristiwa melalui penyajian material pamer, sementara secara kolektif, museum selalu menceritakan hal-hal yang dianggap wajib diketahui masyarakat atau komunitas tempatnya bermukim yaitu komunitas perkotaan, bahkan komunitas etnis, atau malahan komunitas bangsa.
Maka, museum dianggap sebagai salah satu agen sosialisasi dan enkulturasi yang ideal sehingga tidak mengherankan apabila setiap negara modern menggunakan strategi permuseuman dengan tujuan beraneka ragam, dari mulai kepentingan akademis sampai mempertebal perasaan kebangsaan warganegaranya. Pentingnya peranan museum bukannya tidak disadari oleh negara, malahan justru mereka menggunakan media ini secara sadar untuk membina rakyatnya, mempersatukan sejarah dalam sebuah payung nasionalisme yang dianggap mewakili kebenaran sejarah. Sementara di sisi lain, rakyat biasa, atau warganegara pun membutuhkan orientasi budaya serta kesejarahan yang dapat diperolehnya melalui museum-museum yang terdekat. Orientasi inilah yang disajikan lewat museum-museum yang ada. Dengan demikian museum adalah salah satu kanal tempat sejarah disuarakan kepada publik baik itu sejarah sosial-budaya berskala nasional dan global, maupun sejarah bumi dan alam semesta raya. Masyarakat sebagai komunitas kota yang modern membutuhkan orientasi yang dipenuhi melalui sarana pendidikan massal, sementara di sisi lain, negara menentukan orientasi tersebut sehingga sungguh tepat jika museum dibayangkan sebagai sebuah arena pertemuan antara kepentingan negara yang menawarkan “leadership”, serta kepentingan rakyat yang membutuhkan sarana aktualisasi identitas diri sebagai warga kota, warga bangsa, dan warga berpendidikan. Jika kita perhatikan, kepentingan negara akan museum sangat besar, namun di banyak negara berkembang, dasar konseptual museum belumlah dipahami secara mendalam kecuali sebagai sarana penyuaraan ideologi kebangsaan yang disajikan dengan jalan konvensional dan cenderung membosankan, sehingga tingkat keberhasilannya pun diragukan. Sementara di negara-negara maju, walau museum menawarkan suatu ideologi, cara-cara yang digunakannya begitu kreatif sehingga tingkat keberhasilannya tinggi. Semua museum memiliki ideologi atau suatu “adonan” konseptual yang abstrak, suatu tema besar yang menjiwai keseluruhan koleksinya. Namun tidak semua museum berhasil menerjemahkan ideologi tadi ke dalam bentuk siap saji yang menarik dan bisa diserap dengan baik oleh para pengunjung. Ideologi siap cerna ini yang dikenal dengan nama hegemoni yang artinya segala sesuatu yang menjadi ways of seeing satu komunitas yang sangat populer dan telah membudaya. Dalam tataran ideal hegemoni bisa disamakan dengan kebudayaan nasional. Persoalannya, kebudayaan nasional yang menghegemoni sifatnya harus populer, disukai, diserap dan dipraktekkan oleh masyarakat dengan sukarela – walau tetap memberikan arahan leadership kepada rakyatnya.
Mendekati Museum
Museologi atau cabang ilmu museum mempelajari dan memikirkan hal-hal “bagaimana membangun dan menjalankan museum”-sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan beberapa hal menyangkut sejarah, latar belakang museum, konservasi, pendidikan, organisasi dan sistem klasifikasi objek. Termasuk didalamnya adalah kajian tentang tipe-tipe museum yang terus berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman (Theather, 1991:407). Museologi bukanlah sebuah ilmu yang benar-benar otonom, namun lebih tepat dikatakan sebagai sebuah metode mendekati masalah permuseuman yang melibatkan tenaga profesional dari berbagai disiplin keilmuan. Definisi di atas dikeluarkan oleh ICOM, sebuah badan yang didirikan Unesco memperlihatkan bagaimana museum adalah fenomena kompleks. Salah satu disiplin ilmu yang juga terlibat dalam pengembangan museumlogi adalah antropologi, sebagai ilmu yang mempelajari manusia dan budayanya mencakup aspek ragawi, perilaku sosial, sistem pengetahuan dan wujud material (artefak-dan klasifikasinya). Di masa lalu, kajian museum yang dilakukan antrpologi terbatas pada usaha-usaha bibliotis, usaha membangun kepustakaan material dari berbagai masyarakat yang kebanyakan adalah non-Eropa sebagai wilayah studi antropologi yang penting . Pada periode yang sama kaum ahli geologi, geografi, palontologi dan lain-lain juga memetakan sejarah bumi dengan metode ilmiah masing-masing. Pendekatan seperti itu masih terus digunakan untuk kepentingan studi oleh museum-museum besar dan tua di dunia ini seperti British Museum dan Museum Etnografi Rusia, ataupun beberapa museum besar di Amerika seperti Smithsonian institute. Pendek kata, setiap negara seharusnya memiliki museum sukubangsa dengan pendekatan seperti di atas, seperti juga Indonesia dengan koridor etnik di Museum Nasional. Namun demikian, museologi terus berkembang sebagai suatu ilmu yang lebih jauh lagi mencari tahu kaitan-kaitan antara museum dan masyarakat.
Antropologi museum pada hari ini merupakan salah satu cabang antropologi yang berangkat dari museologi klasik untuk kemudian berkembang mencari banyak fokus. Salah satu fokus kajian kaitan antara museum dan masyarakat. Fokusnya tidak lagi kepada koleksi dan tata display semata, melainkan melihat pada peran strategis yang dapat dimainkan oleh museum sebagai institusi sosial dalam masyarakat kota atau dengan kata lain eksistensi sebuah museum di masyarakatnya. Secara spesifik apa yang menjadi titik perhatian adalah:
- Bagaimana museum dengan seperangkat koleksinya menjadi wahana pengunjung untuk melakukan orientasi terhadap pembentukan identitas kultural.
- Bagaimana museum dipandang sebagai agen yang aktif membentuk persepsi orang tentang sejarah, termasuk fungsi-fungsi propagandanya.
- Bagaimana museum hadir sebagai kendaraan yang membawa ideologi, dan bagaimana keberhasilannnya menerjemahkan ideologi tersebut menjadi siap cerna.
- Hal-hal menyangkut kemampuan manusia dalam mengolah pengalaman memori tentang suatu peristiwa melalui peristiwa kunjungan museum.
- Hal-hal menyangkut konsep baru historiografi. Sejarah tidak lagi dipandang sebagai fenomena kronologis objektif, melainkan dapat hadir sebagai sebuah pengalaman personal.
Pengalaman mengunjungi museum adalah pengalaman partisipasi aktif atau suatu pengalaman dengan sensasi keterlibatan yang penuh. Museum yang berhasil akan memberikan pengalaman selangkah lebih maju dibandingkan pengalaman pengunjungnya. Museum juga menawarkan hal yang penting berupa pesan-pesan penguasa yang relevan dengan akal sehat dan dapat diterima oleh rakyat. Kesuksesan museum bisa dilihat dari efek psikologis yang terasa dalam pikiran pengunjung. Seperti digambarkan oleh Blewitt (2003:13):
“Museum experience is about engaging people in educationally enjoyable experiences from which they take their own personal meaning… a successful museum should go one step beyond experience and provide the ultimate offering transformation…”
Museum memiliki dimensi pendidikan yang sangat kental oleh karena itu dia agen hegemoni. Dia menawarkan sesuatu yang mungkin sudah diketahui sebelumnya, mungkin juga tidak. Tetapi jika apa yang ditawarkan oleh museum sudah diketahui sebelumnya, maka apa gunanya diadakan pameran? Sudah pasti pengunjung mempunyai harapan khusus, namun persoalannya adalah pilihan-pilihan apa yang dihadapi pengunjung? Ini adalah persoalan reorganisasi kognitif tentang apa yang sudah kita tahu dan apa yang kita ingin tahu. Alam kognisi juga terbentuk dari pengalaman.
Maka ketika kita mengunjungi museum kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama: kita mendefinisikan (memaknai) pengalaman melihat pameran di museum tersebut sesuai dengan kategori-kategori pengetahuan yang sudah ada pada kita. Atau pilihan kedua, yaitu, kita mengorganisasi ulang kategori-kategori pengetahuan yang kita punya agar sesuai dengan pengalaman yang kita dapatkan di museum (Karp, 1991:22). Sebuah museum yang berhasil tentunya menggiring pengunjung ke arah pilihan kedua, sehingga pengalaman museum adalah sesuatu yang baru yang bekerja melalui cara-cara persuasif terhadap pengunjungnya. Jika demikian maka museum mempengaruhi pengorganisasian ingatan kita lewat suatu transformasi pemaknaan baru yang sangat aktual. Sebuah museum yang sukses sebagai agen intelektual pengaman hegemoni haruslah tampil cerdas dan tidak berisi pengulangan-pengulangan atau dengan kata lain bukanlah sebuah informasi sejarah yang basi. Pengunjung adalah peserta aktif yang memiliki minat khusus, dia barangkali membaca buku-buku sejarah dan kebudayaan dan ingin menciptakan relasi antara pengetahuan di benaknya dan pengetahuan yang disampaikan objek-objek tersebut. Apa yang disampaikan oleh label-label atau captions dalam objek museum adalah informasi yang relasional antara objek-objek dan konstruksi pengetahuan. Tidak mungkin ada pameran tanpa konsep-konsep. Ada hubungan antara objek tampilan dan latar belakang sejarah dan kebudayaan yang disampaikan oleh kurator museum sehingga terciptalah proses dialogis antara kurator, pengunjung, objek, dan informasi (Baxandall, 1991:34) sehingga tidak berlebihan apabila kita menganggap bahwa persoalan museum adalah persoalan hubungan antar manusia dalam konteks peristiwa kesejarahan tertentu melalui artefak-artefak, termasuk cerita-cerita dan suasana yang disajikan sebagai bagian dari pengalaman personal kita.
Secara antropologis, studi tentang museum kemudian mempertimbangkan empat komponen yang terlibat dalam rancangan konseptualnya (Baxandall, 1991):
- Kelompok pengunjung yang datang dengan seperangkat pengetahuan budayanya.
- Kelompok penyelenggara museum atau kurator yang memiliki pengetahuan budaya tertentu.
- Objek-objek yang sengaja dipilih berdasarkan kriteria kultural tertentu.
- Kelompok pemilik artefak atau masyarakat lokal yang terlibat peristiwa yang dimuseumkan atau yang menjadi pembuat artefak-artefak yang dipamerkan.
Empat komponen ini memiliki relasi yang sangat erat dengan museum yang kelak menentukan keberhasilan sebuah museum. Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa museum adalah agen produksi pengetahuan budaya, dan masing-masing komponen adalah komponen budaya. Perdebatan tentang permuseuman kemudian mengarah kepada sejauh mana kebudayaan diterjemahkan, dipahami dan dimaknai, terutama oleh pihak kuratorial dan pengunjung. Sebuah museum yang baik menjadi arena yang sehat untuk melakukan dialog budaya yang mempertimbangkan aspirasi-aspirasi orang yang berkepentingan.
Bagaimana mengingat sejarah
Museum merupakan agen produksi pengetahuan yang berkaitan dengan kesejarahan. Sejalan dengan perkembangan wawasan tentang museologi, pemahaman tentang kesejarahan atau historiografi mengalami perkembangan yang cukup penting di kalangan sejarawan, antropolog dan ahli filsafat. Secara konvensional, pengertian sejarah mengacu pada gambaran cerita atau tulisan tentang masa lalu yang tampil sebagai representasi objektif yang memperhatikan prinsip kronologis dan akurasi data sebagai parameternya. Dengan demikian, ilmu sejarah dianggap dapat merekonstruksi masa lalu untuk mendekati kebenaran ilmiah. Apa yang kemudian datang sebagai persoalan yang selalu diperdebatkan di sini adalah:
- Mana yang penting: objektivitas atau otentisitas.
- Apakah objektif dan ilmiah berkolerasi simetris dengan kebenaran?
Siapa yang berhak mendefinisikan kebenaran? Universitas? Penguasa? Rakyat? - Manusia adalah mahluk subjektif. Dalam kaitan dengan kebenaran (The Truth), mana yang lebih mendekati kebenaran. Apakah kronologis-objektif atau episodic-subjective?
Empat pertanyaan di atas mewarnai diskusi-diskusi aktual tentang pembahasan museum dari sudut pandang antropologi serta kesejarahan pada masa kini. Dalam posisi sebagai antropolog, ini adalah sebuah titik terang untuk memikirkan konsep museum yang lebih aktual dan bermanfaat bagi kepentingan komunitas di tempat museum tersebut didirikan.
Manusia mengingat sejarah secara personal
Sejarah berhubungan erat dengan bagaimana manusia mengingat suatu peristiwa dan menuliskannya. Apa yang perlu kita cermati di sini adalah bahwa manusia sebagai mahluk yang mampu berkomunikasi menggunakan simbol-simbol, selalu memberikan makna personal terhadap sejarah. Sejarah dimaknai secara personal ketika dia merupakan bagian dari pengalaman pribadi. Pemaknaan secara personal ini bisa diibaratkan sebagai guratan-guratan dalam memorinya yang secara aktif dipertahankan atau sengaja dilupakan. Hal ini menjadi jelas jika kita bertanya pada diri sendiri tentang pengalaman-pengalaman yang telah lewat: kita tidak pernah mengingat secara linear kronologis seperti sebuah kamera video, tapi kita hafal benar akan suatu detail kejadian lebih karena kejadian tersebut memiliki makna yang penting. Jadi, memori manusia bisa diibaratkan sebagai sedimen geologis dengan lapisan-lapisan pengalaman yang bertumpuk. Tidak semua pengalaman itu tampil ke permukaan pada saat bersamaan. Secara aktif, manusia melakukan self-editing, tentang apa yang perlu diingat dan apa yang perlu atau sebaiknya dilupakan. Sesuatu yang kita ingat lebih karena secara aktif kita memeliharanya dalam lapisan memori yang mudah ditemukan.
Paul Ricoeur (1992) mempunyai konsep yang sangat baik menjelaskan fenomena di atas. Menurutnya, manusia mengingat secara naratif, yang artinya selalu berhubungan dengan “bagaimana kita mampu menceritakannya”. Waktu (time) tidak dipahami secara linear, tetapi dipahami dengan cara mengalaminya sendiri. Asumsinya adalah bahwa manusia menceritakan waktu hanya melalui artikulasi kebahasaan, sehingga bagi manusia, waktu adalah persoalan konvensi linguistik atau dengan kata lain: waktu adalah sesuatu yang kultural dan temporer, jauh dari kesan absolut dan pasti. Jika waktu merupakan bagian dari praktek manusia berbahasa, maka setap cerita tentang pengalaman selalu menciptakan ruang dan waktunya ketika pengalaman tersebut “dituturkan”.
Dalam kaitannya dengan konstruksi sejarah, maka kita menyadari bahwa sejarah itu adalah cerita tentang sesuatu kejadian yang berhak didefinisikan oleh siapa saja. Negara memiliki hak yang sama untuk bernarasi tentang waktu, demikian juga rakyat jelata, demikian juga para akademisi. Ricoeur membangun suatu argumen bahwa sejarah adalah “bagaimana manusia mengucapkan sebagai bagian dari pengalaman tentang waktu”.
Oral History: Bercerita, trauma, dan pembentukan identitas sosial
Akurasi, kemudian tidak begitu penting dibandingkan dengan “bagaimana strategi untuk mengatakannya”. Dengan asumsi di atas, maka sejarah berhak dituliskan dan ditampilkan dengan mengutamakan otentisitas dari pengalaman dengan bahkan jika kita harus menomorduakan akurasinya. Suatu cara pengumpulan data sejarah menggunakan teknik oral history kemudian menjadi sangat penting. Fiksionalisasi dari suatu fakta sejarah tentunya tidak dapat dihindarkan, dan malah menjadi bagian yang sangat penting .
Secara metodologis, sejarah tutur adalah investigasi ke masa lalu untuk melihat ingatan-ingatan tentang pegalaman pribadi yang merupakan bagian dari pengalaman yang dapat diceritakan pada peneliti. Apa yang membuat studi sejarah tutur dibandingkan dengan historiografi biasa adalah kemampuannya untuk merekam pengalaman pribadi sehari-hari yang seringkali “disenyapkan” oleh sejarah-sejarah besar, dengan alasan bahwa tidak ada bukti positifnya serta tidak ada catatan yang tertulis tentangnya (Hitchcock, 1995:18). Cerita sehari-hari ini tersimpan dalam memori kolektif masyarakat yang mungkin tidak pernah dituturkan karena berbagai hal. Namun demikian dia tetap tersimpan dalam “sedimen geologis” dalam pikiran kita yang menunggu untuk diucapkan. Studi-studi sejarah tutur sesungguhnya telah banyak dilakukan dan kemudian mengungkapkan banyak hal yang tadinya tertutup rapat . Sehingga banyak para ahli ataupun relawan sosial menganggap penggalian cerita tutur banyak membantu korban kekerasan, perang, atau bencana untuk menyembuhkan jiwa-jiwa yang luka.
Ketika sebuah pengalaman dituturkan, maka terjadi suatu proses yang dinamakan artikulasi yaitu tahapan dimana seseorang telah siap untuk mengeluarkannya melalui struktur bahasa. Tidak semua kejadian dapat dengan mudah diceritakan. Beberapa mungkin malahan tidak pernah dapat diartikulasikan dan akan disimpan dalam lapisan ingatan yang dalam. Perlu dicatat bahwa ketika seseorang bertutur, maka dirinya sudah dapat menempatkan diri dalam posisi yang berjarak dengan kejadiannya. Gampangnya semacam “semua sudah berlalu” sehingga pengalaman tadi tidak akan mempengaruhi atau menyakiti lagi”. Bercerita adalah suatu peristiwa dimana kita sebagai pencerita telah menyusun kejadian-kejadian yang dialami ke dalam bentuk yang siap dikomumikasikan. Artinya, si pencerita telah melewati masa perenungan dan refleksi diri terhadap kejadian yang menimpanya. Dalam bahasa populer, si pencerita telah sampai pada keadaan “mengambil hikmah” atas kejadian yang dialaminya. Dengan demikian dia telah melawati masa krisis kejiwaan yang gawat dan siap untuk menghadapi kenyataan hari ini dan masa depan. Memang ketika wawancara dilakukan, pencerita atau informan dapat saja kembali ke peristiwa yang menyedihkan dan membuat emosinya bergejolak (mungkin ada tangisan, kemarahan, dan omongan terpatah-patah). Namun itu semua dilakukan dalam kesadaran penuh bahwa bagaimanapun pahitnya pengalaman, semuanya telah selesai… dan bercerita tidaklah sepahit ketika mengalaminya.
Merumuskan identitas keacehan yang melipui aspek historis yang terus bergerak ke depan
Hubungan dengan pembentukan identitas. Ketika seseorang menceritakan pengalaman pribadinya tentang suatu peristiwa, maka pada saat yang sama dia sedang melakukan rekonstruksi terhadap identitasnya. Asumsinya adalah penceritaan selalu membawa konteks kultural dalam setting bercerita dan konteks sejarah sehubungan dengan penceritaan selalu berusaha mengatakan kejadian dalam garis waktu. Tidak tertutup kemungkinan bahwa museum Tsunami dapat membawa aspek kultural melalui penceritaannya, sebab akar kultural seseorang selalu menunggu untuk disuarakan di setiap kesempatan. Justru dengan wajah kultural yang populer, museum ini dengan mudah menawarkan suatu bentuk ideologi yang siap cerna, dimana seluruh komunitas rakyat Aceh maupun Indonesia merasa dapat bercermin daripadanya.
Museum ini harus dapat merumuskan identitas budaya Aceh dalam tampilan perwajahan dan programs-program kerjanya yang harus dapat menjawab sebanyak mungkin problem politik dan budaya Aceh:
Aceh dan Identitas Kosmopolitan. Aceh dengan dimensi sejarah gemilang di masa lalu yang kosmopolit (terlibat sebagai warga internasional secara budaya, politik, ekonomi) sebagai kesultanan merdeka yang memiliki ciri khas sebagai serambi Mekkah di nusantara dan Asia Tenggara. Arsitektur kota lama (sebagai kota air) merupakan bukti bahwa Aceh adalah bangsa maju. Aceh yang memiliki hubungan-hubungan diplomasi internasional dengan Turki dalam banyak hal termasuk bantuan perang melawan Portugis dan Belanda. Sisi ini menggambarkan keacehan yang romantik dan patriotik yang menjelaskan mengapa orang-orang Aceh begitu bangga atas keAcehannya. Secara geopolitik nama Indonesia tidak begitu populer dibandingkan dengan nama Aceh Darussalam.
Sentral Tamadun Melayu. Identitas Aceh sebagai pusat peradaban pemikiran Melayu. Dalam hal ini Melayu bukan sebagai ras, tapi sebagai civilization (peradaban) terutama peradaban Islam. Hal ini memang tidak dapat diterima dengan mudah oleh kawasan Melayu lain seperti Semenanjung Malaysia dan Propinsi Riau pada saat kini. Riau ingin merdeka sebagai bangsa Melayu, sementara Malaysia sedang membangun diri sebagai pusat Melayu Asia Tenggara yang berbasis teknologi tinggi dan syariat keislaman. Dengan adanya kontestasi identitas Melayu, perlu dipikirkan untuk mengangkat harga diri orang Aceh dengan membawa wacana tamadun Melayu ini. Bukti-bukti sejarah cukup kuat.
Nilai budaya keberanian. Sisi ini mengungkapkan mentalitas Aceh yang unik. Contoh: hanya orang-orang Aceh yang menghargai musuh-musuhnya sebesar menghargai pahlawan-pahlawannya. Lalu bagaimana Aceh berperan dalam masa awal pendirian NKRI termasuk niatannya menolak RIS dan memilih bergabung dengan Indonesia. Perlawanan terhadap Belanda yang paling sengit hanya terjadi di Aceh.
Aceh yang multikultural. Harus diungkapkan bahwa identitas etnis keAcehan berkembang dari kekayaan etnis rakyat Aceh dengan aspirasi dari 8 sub-sukubangsa di Aceh. Di sisi lain harus diungkapkan juga Aceh merupakan adonan dari pertemuan peradaban-peradaban besar seperti Turki, India, Portugis yang memperkaya elemen kultural Aceh. Penting juga untuk mengangkat tema pengetahuan budaya lokal yang semakin tersingkir seperti hilangnya teknologi, nilai, dan pengetahuan tradisional dalam kehidupan sehari-hari rakyat Aceh.
Fungsi Trauma Healing: Wajah Aceh masakini lewat tuturan-tuturan lisan. Isinya adalah: Aceh yang sedang berproses menuju masa depan cerah walaupun banya menderita luka semasa masa kolonial, Orde Baru dan penderitaan akibat tsunami. Museum ini harus memberikan gambaran bahwa rakyat Aceh sedang bangkit dengan cara menyuarakan testimonial suara rakyat jelata tentang ketidakadilan, harapan masa depan, dan tentunya cerita tentang etnografi kisah optimisme dari keluarga-keluarga yang berhasil survive (ini perlu pedoman kerja dari antropolog).
Fungsi sebagai memorial centre. Harus ada satu koridor yang menjadi prasasi untuk mengingat mereka yang meninggal dan tidak tahu di mana kuburannya. Tradisi ini pernah dilakukan Pemda Aceh yang membuat prasasti serdadu-serdadu Belanda yang gugur gagah berani, semacam memorial perang Vietnam di Amerika.
Aceh, Indonesia dan Syariat Islam. Syariat Islam terbilang populer di Aceh, namun belum bisa kita katakan sebagai solusi ideal, sebab penentangnya juga banyak. Resiko politis penegakkan syariat Islam adalah pengucilan dari pergaulan internasional sebab dianggap anti-demokrasi. Sementara para pendukung sayariat yakin bahwa Syariat Islam dan Budaya Aceh adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Museum seharusnya memberikan ruang untuk berpikir terbuka tentang identitas nasional (urusan sentimen kebangsaan – Ideologi negara), identitas lokal (urusan adat-istiadat, budaya lokal, tradisi-tradisi), dan identitas religi (bagaimana menempatkan Islam sebagai fenomena kultural sebagai bagian tradisi-bukan ideologi negara), Menguatnya keislaman (pemberlakuan syariah dalam bentuk yang kaku) mesti dilihat dalam konteks melemahnya fungsi-fungsi negara yang ideal sebagai pengayom rakyat (publik). Absennya negara dalam ruang publik di Republik ini menjadikan Agama sebagai alternatif leadership terhadap ancaman-ancaman publik. Namun, agama datang dari teks suci-tanpa proses pencapaian konsensus di ruang publik-sehingga penafsirannya belum tentu sesuai dengan harapan hidup bernegara yang demokratis. Jadi museum Tsunami harus juga secara intensif memberikan ruang bagi munculnya wajah negara dalam pengertian civic yang selama ini hilang (perang terlalu banyak, DOM). Bila ini berhasil, maka agama akan kembali ke fitrah yaitu dimensi spiritual komunitas (ibadah bersama, upacara, kebutuhan pribadi, kebutuhan kultural).


Teorinya oke! konsepnya mantap! referensinya keren…. tapi … kesimpulannya apa? mana catatan buat mueum tsunaminya. Gimana kalo yang jelas-jelas aja, macam museum negeri acehlah.. Gimana biar bisa seperti teori, konsep, dan referensi yang di muat.. Yang sudah ada aja gak jelas, neh mau proyek laen lagi… Udah gitu ga cocok dengan kondisi faktual aceh yang katanya dulu kota airlah …. Ha ha ha ha ha ha .. aceh makin aneh ajah.
Tulisan ini dibuat sewaktu Museum ini belum jadi dan masih dalam bentuk sebidang tanah. Saya masuk dalam tim (fase awal) untuk memberikan wawasan kultural bagi rencana pembangunan museum Tsunami. Saya selalu merasa sebagai orang luar dalam perencanaan ini karena keinginan mayoritas tim termasuk pihak pemberi dana adalah membuat suatu museum canggih yang bisa mensimulasikan Tsunami. Jadi kira-kira mirip seperti main-main ke Universal Studios.
Saya sendiri tidak suka dengan rencana ini karena: Pertama, sebuah museum sama sekali bukan wahana permainan seperti Taman Ria, Kedua, Tsunami adalah bencana yang sama sekali tidak menghibur, Ketiga: persoalan crucial bagi Aceh bukanlah Tsunami, tapi bagaimana menyelamatkan memori kolektif, budaya material Aceh yang makin lama pudar. Sebenarnya inilah inti catatan yang ingin saya sampaikan.
Terima kasih atas kunjungannya ke Website saya.
Salam.