Tahun ’90-an. Saya pernah membeli barang2 kelontong di toko yang dikelola Darul Arqam Depok dulu banget. Dilayani perempuan bertutup lengkap kain hitam kecuali di bagian mata aja. Uang pas tidak ada, maka pembayaran dengan uang besar. Sewaktu saya hendak mengambil kembalian receh dari tangan penjual, tiba-tiba dia kaget terus uangnya dilempar sehingga bersebaran lah di lantai. Suaranya: “Grompyang kleneng ting ting..!!!” Matanya,cuma matanya yang saya bisa lihat, sepertinya marah.

Kemudian senyap.
Jantung rasanya berhenti. Campuran antara kaget, marah, malu.

Saat itu saya merasa seperti orang difitnah lepra dengan jari putus-putus kehitaman menjijikan. Terus-terang saya tersinggung.

Tapi mungkin saja dia lebih tersinggung: Ini laki-laki kurang ajar, tidak tahu agama, pendosa tak bermoral dll.

Oke..

Bayangkan peristiwa remeh-temeh begini terjadi dalam konteks negara Eropa liberal (atau satu pojok imajiner di negeri sendiri dimana bhinneka tunggal ika masih dipercaya). Kawasan-kawasan dimana etika keramahtamahan tidak mengenal partisi kelamin, dimana toko-toko dimaknai sebagai ruang publik terbuka, dan bersalaman lain jenis adalah perwujudan persahabatan, dimana social proximity sangat dekat.

Maka tentunya tidak mudah untuk menerima cadar, veil, burkha, jilbab serta pelarangan bersentuhan sebagai satu ITIKAD baik yang menawarkan persahabatan. Dialog multikultural, saling curhat, saling ketemu, mengobrol dan membicarakan perbedaan atas nama ruang publik memang saya akui sangat sekuler, tapi setidaknya dia menawarkan pemahaman atas hak berbudaya dan beragama di ruang publik tanpa rasa takut. Tiap ekspresi budaya dan agama terlindung dan wajib dihormati dalam kehidupan kewargaan dan kewarganegaraan.

Konon kabarnya tiap agama mengajarkan kasih, tapi kita sibuk membuat ruang pengadilan sendiri, membeda-bedakan orang, bermain Tuhan dan merasa bangga dengan kesalehan-kesalehan sebagai investasi “rumah” masa depan.

Yvonne Ridley adalah contoh bahwa dialog inter-kultural, lintas agama bukan omong-kosong. Tapi buat saya renungan atas pengalaman diculik, disiksa dll..kok terasa sangat dangkal ya… semacam “Tuh kan, jilbab emang oke..!” “Eh, niqab bisa buat anti asap rokok lho..”,”Scottish aja pake rok (kilt), masa jilbab aneh”, “Bule pake Jilbab, lho. Padahal yang saya ingin dengar adalah sisi spiritualitas, refleksi diri, sesuatu yang mengarah pada totalitas. Bosan dengan komparasi partikular mana yg Islam, lebih Islam, kurang Islam, rada-rada Islam dlsb. Pendekknya: bosan ekonomisasi agama ketika semuanya dihitung-hitung.

« »