Diskusi Bulanan
Puska Antropologi UI 14 Okt. 2005
“Di manapun di dunia, globalisasi adalah tabrakan dua proyek besar: Arus dari atas yang mengglobalkan komformitas, sinisme, kebodohan, perang, pembinasaan, kematian dan amnesia, dan arus dari bawah yang mengglobalkan pemberontakan, harapan, kreativitas, kecerdasan, imajinasi, hidup, ingatan, membangun sebuah dunia yang cukup luas untuk menampung banyak dunia” – Sub-comandante Marcos, Zapatista Army of National Liberation, pernyataan untuk Via Campesina, Cancun, Meksiko, 2003.
Gerakan sosial adalah sumber sekian banyak alternatif, harapan, dan teori tentang bagaimana dunia dapat dibuat berbeda dari sekarang (Arturo Escobar, 2001).
Pendahuluan
Makalah ini dibuat sebagai pemancing awal bagi serial diskusi dengan tajuk Globalisasi yang rencananya akan dilakukan rutin oleh Puska Antropologi FISIP UI. Mengapa globalisasi? Singkat saja, globalisasi adalah konsekuensi dari peradaban modern saat ini, dunia tempat kita bernafas hari ini. Antropologi memang terlambat meninjau masalah fenomena globalisasi secara serius, tidak seperti ekonomi, sosiologi dan ilmu-ilmu teknologi yang memancarkan gairah terhadap globalisasi sebagai suatu harapan baru. Apakah benar-benar harapan baru tentang sebuah masyarakat global yang berperikeadilan ini memiliki dasar? Melalui makalah kecil ini, saya hendak meneruskan suara pihak-pihak yang merasa terancam atau setidaknya gelisah terhadap dampak globalisasi. Makalah ini punya struktur, yaitu: pertama, menyingkat cerita soal dampak gelap globalisasi dari berbagai kasus-kasus; kedua: mengangkat kasus protes-protes sosial yang berhasil atau setengah berhasil; ketiga mencari jalan melalui sebuah penciptaan solidaritas anti globalisasi dengan prinsip think globally, act globally. Diskusi semoga mengarah pada kesadaran akan perlunya tindakan sosial, sebuah gerakan kultural yang bisa dilakukan semua orang untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Dalam bayangan tentang dunia yang semakin kacau balau, saya percaya terdapat banyak ruang luas untuk kreativitas, sehingga perubahan radikal menuju dunia yang lebih ramah untuk semua orang, orang-orang biasa seperti kita, bukanlah omong kosong.
Globalisasi dan Kemiskinan
Memang globalisasi telah menjadi perkataan yang keluar masuk mulut dan telinga dengan macam-macam penafsiran. Studi-studi kebudayaan tentang globalisasi memang melahirkan teori-teori penting yang mengemuka. Namun, hari ini prioritas adalah melihat problem yang terjadi secara gamblang yaitu bagaimana globalisasi menciptakan kemiskinan. Kerjasama ekonomi internasional ternyata tidak membawa nasib rakyat biasa mayoritas penduduk dunia menjadi hidup lebih baik. Struktur ekonomi dunia semakin lama mengerucut dengan kekuasaan terbesar ada di pundak organisasi-organisasi ekonomi global seperti IMF, Bank Dunia dan WTO yang percaya pada ideologi neo-liberalisme yang sangat berbau ekonomi. Menurut kaum neo-liberalis, terdapat bukti-bukti yang meyakinkan bahwa kondisi ekonomi dunia mengalami perbaikan terus-menerus semenjak usainya Perang Dunia II sampai saat kini terutama menyangkut pasar bebas. Sebagai contoh: Bank Dunia mencatat bahwa keputusan Cina untuk membuka pintu terhadap perdagangan bebas telah menaikkan pendapatan per kapita dari $1460 pada tahun 1980 menjadi $4120 tahun 1999. Pada tahun 1980 pendapatan per kapita Amerika adalah 12,5 kali lebih besar dari Cina, namun tahun 1999 menurun menjadi 7,5 kali lebih besar. Jurang antara si kaya dan si miskin pun menyempit dengan contoh kasus-kasus di negara Asia dan Amerika Latin. Negara-negara yang mengalami penurunan pendapatan per kapita adalah mereka yang tidak membuka diri terhadap Perdagangan Bebas seperti banyak negara-negara di Afrika.
Negara-negara miskin yang menurunkan tarriff barriers telah mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja disebabkan karena negara mereka telah beralih dari negara importir menuju eksportir . Menurut pandangan ini, segala bentuk subsidi akan memperlemah sektor ekonomi domestik karena tidak ada yang memacu ekspor. Sementara perdagangan pun akan mati karena setiap negara mengenakan pajak bea masuk.
Menurut ekonom-ekonom Marxis, keadaan justru malah sebaliknya. Globalisasi semakin memperlebar jurang kaya-miskin. Berdasarkan laporan UNDP tahun 1999, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, orang-orang yang berpendapatan US$ 1 atau kurang ternyata tetap memiliki pendapatan yang sama. Sementara kelompok orang yang berpendapatan US$ 2 atau kurang telah bertambah dari 2,55 menjadi 2,8 milyar. Pada tahun 1960 negara-negara miskin (80 persen negara di dunia miskin) memiliki pendapatan 60 kali lebih kecil dari negara-negara maju. Adanya kecenderungan ekonomi global memperdalam jurang pendapatan menjadi 82 kali lebih kecil dibandingkan negara-negara maju. Serangkaian bukti menunjukkan bahkan globalisasi ekonomi di negara berkembang merampas hak asasi kaum buruh pabrik dan buruh tani. Akses ke negara miskin diperlukan negara kaya untuk mendapatkan sumberdaya alam dan tenaga kerja yang murah atau dengan kata lain menambah akumulasi modal mereka. Jadi jelas yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Memang kaum pro-globalisasi, para neo-liberalis memiliki statistik-statistik tandingan yang sangat meyakinkan. Tapi senjata mereka hanyalah statistik yang tidak bisa menjawab satu hal mengganggu bahwa kok bisa-bisanya sejumlah negara berkedaulatan dengan penduduk jutaan takluk pada organisasi alias kemauan segelintir orang?
Perlawanan yang berhasil itu sangat mungkin
Tahun 1999 terjadi aksi demonstrasi anti IMF di Seattle dan menjadi berita karena terjadi di Amerika. Aksi ini menjadi ketakutan sekaligus harapan baru. Dampaknya masif dan ternyata lebih besar daripada media bilang. Dari serangkaian aksi sesudah Seattle terbukti adanya karakteristik dari gerakan-gerakan massa yang menentang organisasi-organisasi ekonomi transnasional yaitu (Solnit, 2003):
” radikal
” anonim
” massal
” terorganisir
” bersifat koalisi berbagai tingkatan baik organisasi maupun individual (organisasi-organisasi, para akademis, aktivis dan orang-orang biasa).
” tidak ada international headquarters.
” Spontan
” Tanpa partai politik
” Tanpa pemimpin tradisional
” Bervariasi layak karnaval (multi suara, banyak ras dan ragam bahasa).
Implikasinya adalah aksi massa akan susah sekali dikategorikan bentuknya dan dengan demikian sukar dilumpuhkan. Secara sosiologis sifat koalisi ini sangat penting karena memperlihatkan adanya suatu konsensus yang berskala transnasional sehingga lebih efektif daripada konsensus nasional. Kepercayaan diri yang begitu besar ini tentu saja menciptakan kekhawatiran bagi segelintir pihak yang bertahan dengan agenda perdagangan bebas. Apa yang mereka takutkan adalah gelombang pasang besar dari sekelompok “orang-orang nekat” (mindless people) yang selalu membarikade kongres WTO, IMF, OSA, G8, NAFTA, dan World Bank. Pertarungan sengit ini bisa juga dilihat sebagai kontestasi banyak identitas sosial. Banyak dari para pendukung menyebut gerakan ini sebagai “Anti-Corporate Globalization Movement” Variasi lain yang lebih keras merasa tepat dengan nama “Anti-Capitalist Movement”; dan yang lebih moderat bernada: “Global Justice for All”. Adanya variasi ini menunjukkan bahwa titik masalahnya bukan globalisasi (yang memang tak terhindarkan, sesuai dengan ramalan Marx seratus tahun lalu). Apa yang ditolak adalah adanya dunia yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan dagang yang bertindak tidak adil, arogan terhadap ekologi dan keanekaragaman hayati, merendahkan ras-gender dan kemanusiaan dengan membayar murah tenaga buruh untuk jam kerja panjang, sifat-sifat elitis dan sentralistis yang jauh dari demokrasi langsung yang transparan (offshore corporate veto), hutang-hutang negara berkembang yang tak mungkin terbayar tujuh turunan dan seharusnya dihapuskan. Globalisasi adalah sarana yang justru merupakan kendaraan untuk perjuangan yang dapat diringkas menjadi apa yang disebut ‘globalisasi dari bawah’ (globalisation from below). Sebaliknya, para simpatisan Neo-Liberalism, para pengusaha transnasional, melihat gerakan ini dalam wajah tunggal yaitu: “Anti-Trade” alias kelompok orang yang tak mengerti pentingnya perdagangan dan prinsip-prinsip ekonomi dasar yang universal .
Forum Global untuk gerakan sosial
Terlepas dari pro dan kontra yang sifatnya pragmatis, secara sosiologis gerakan sosial adalah sesuatu yang tak terhindarkan dan sangat lumrah terjadi dalam sejarah. Gerakan sosial bukan juga merupakan sesuatu yang sangat khusus dan dramatis (Touraine, 1978:47) meskipun kadangkala hadir sebagai peristiwa besar yang melibatkan kekuasaan, perjuangan kelas, dan politik identitas (Ghimire, 2005: 2) dan memakan skala global. Kebangkitan gerakan-gerakan buruh adalah contoh yang menggambarkan bagaimana gerakan sosial adalah urusan banyak orang terlepas dari urusan kebangsaan yang terjadi semenjak revolusi industri seabad lalu. Hal lain
Apakah protes identik dengan kerusuhan?
Antara ya dan tidak. Kerusuhan mencakup konflik berdarah antar pasukan pemrotes dan polisi dan tentara dan pengrusakan properti publik dikaitkan erat dengan aksi-aksi, bahkan sekalipun pihak petugas keamanan yang memulai. Sejarah demonstrasi tidak luput dari kerusuhan
Apakah yang dimaksud dengan orang biasa itu?
Apaa yaaah…