Category: Scrapbook


Universitas manapun adalah perusahaan. Semakin kaya perusahaan, maka semakin runcing polariasi kelas yang terjadi. Guyonan lama setengah petuahnya begini: Waktu muda boleh Marxis, tapi kalau tua, Kapitalis . Universitas akan semakin besar: World Class University, global rated university. Itu diiklankan. Prinsip sosialisme, kesejahteraan vertikal boro-boro jadi iklan. Dijalankan saja jarang.

Di tengah-tengah simbol ini saya merasa gamang. Maybe it’s time to stop.

Hari ini aku benar-benar sampai pada titik terendah dari segi semangat. Bener-bener kosong. Pekerjaan menumpuk sebagai dosen belum selesai semua. Karena uangnya tidak seberapa, kelihatannya tumpukan itu akan makin bertambah tinggi menggunung, malas sekaligus jahat, seperti lingkaran setan.

Seorang dosen, pada akhirnya memang selalu sendirian.

Kuliah Analisa Faktor Sosial dalam Pembangunan membicarakan issue-issue besar globalisasi, developmentalisme-modernisation Inkeles-Rostow, dependencia theories Gunder-Frank, world system theory Wallerstein, culture-matters Huntington, mentalitet pembangunan Koentjaraningrat..

tapi..

Bagaimana mengaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari sebagai antropolog? Apa terobosan metodologis sehubungan dengan adanya pembacaan teori-teori non-antropologis di atas? Terutama apa pengaruh bacaan-bacaan itu terhadap pengertian dan imajinasi kita tentang kebudayaan yang sering kita anggap secara obsesif sebagai penemuan dahsyat seorang antropolog?

 

masih sangat kaku…dan tempat nampang doang…. Cita-citanya sih ingin menjadikan kelakuan nulis jadi kebiasaan sehari-hari. Sederhana tapi manis dan mencatat hal penting. Kalo ga penting ga usah.

Place fuses the real with the mythical, the virtual with the actual; it is a space which encourages flights of imagination..

Place allows particular localities to be defined in terms of their history and social use, investing them with cultural meanings and values and making them available for active intervention and transformation…

Apa yang dipelajari dan dipahami dari Master Globalisation, Identity, Technology

Culture – geography ‘ placemaking, sense of belonging, home, culturalscapes, politics of space, borderzones, displacement people, refugees, diasporic societies (Roger Bromley)
Culture – identity1 ‘ identity making, construction-deconstruction of cultural identities, process of articulation, narrativity, ethnographic representation (Richard Johnson)
Culture – identity 2 ‘ gendered identities, queers, masculinism, bodies, femininities (Nigel Eadley)
Culture – globalisation ‘ globalscapes (seeing and being seen simultaneously), flowing ideas, interconnectedness (Roger Bromley)
Culture – Cosmopolitanism ‘ pan European global visions, worlding processes, global cities) (Mike Featherstone, John Tomlinson, Eleanore Koffman).
Culture – ideology ‘ how ideology operates through media, how ideology is (being) continuously constructed, hegemony -British politics. (Richard Johnson).
Globalisation – Islam ‘ Marxist approach to global clash-civilization, very American hatred issues, history of colonial invasion in middle east, Secularization, muslim and its backwardness, searching for democratic thoughts (Ali Mohamadi).
Migration – globalisation ‘ history of big migrations, colonialism and migration, flowing of people, how postcolonial region maintains its colonial migration links, how Europe has long became honey pot for their colonial subjects. (Eleanore Koffman, Roger Bromley).
Technology – virology ‘ global deseases, the narrative of virology, virus as actants (non-human actors) (Joost van Loon).
Technology – bodies ‘ portabilities, implants, human-machine relationships (Joost van Loon)
Technology – cultural vision, meanings, perceptions ‘ techno determinism pro and con, utopian and dystopian vision: Marx, Heiddeger, Mc Luhan, Postman (Neil Turnbull).
Technology – its social shapes ‘ how people use technological appliances, technology as social construction (Joost van Loon)

Methods – Narrative Methods, using Ricoeur theories, narrative articulations for (possibly autoethnography!) traumatic experiences (Richard Johnson).

Methods – Novel analysis, novel as ethnographic data (Roger Bromley).

Methods – discourse analysis ‘ how to deeply analyse discourse in (daily) conversations, very linguistic, not recommended for cross-cultural project (Nigel Eadley).

Hard issues for me to comprehend:

Global Governance, international politics ‘ I don’t understand why it is included in course (Chris Ferrands).
Fordism ‘ dull topics, how the West gains effective industrialisms by placing global scale fordism, but it is useful to explain why one brand has many components from global sources (Chris Ferrands)

Methods – epistemological issues ‘ others, hard subjects I don’t understand (Neil Turnbull).

What I need more, and I did not get much from courses.

Global inequalities, more political issues on globalisation for the Third World.
Development issues

Seorang praktisi iklan yang saya wawancarai melalui surat dengan pertanyaan sekitar signifikansi keindonesiaan dalam komunikasi visual, adverstising dan desain mengatakan dengan keyakinan penuh bahwa identitas Indonesia dalam desain kita sangat diperlukan:

Bagi banyak praktisi periklanan (termasuk gw tentunya), ke-Indonesiaan adalah sesuatu yang penting. Kenapa? Karena kita bicara pada komunitas target khalayak bernama Indonesia. Best practice selama ini membuktikan (universal); semakin kita bisa mengenal dan bicara dalam ‘bahasa’ yang sama dengan target kita maka kegiatan pemasaran dan terutama periklanan akan terasa lebih berhasil.

Apa yang khas atau yang paling Indonesia dari sebuah desain Indonesia? Banyak sudah polemik tentang hal ini. Sebagian menganggap bahwa identitas desain Indonesia tidak ada (dan mungkin tidak pernah ada) sebab desain sendiri tidak pernah mengenal negara dan bangsa-desain adalah bahasa universal. Sebagian lain menganggap bahwa seharusnya ada, tapi sulit berkembang karena macam-macam hal: globalisasi, tekanan industri, tidak adanya dukungan pemerintah, tidak ada kepribadian bangsa, dan lain-lain. Ada juga kelompok yang menawarkan jalan yaitu apapun yang dibuat, dirancang, dan diproduksi oleh orang Indonesia (maksudnya warganegara) di Indonesia adalah khas milik Indonesia, titik. Dari semuanya, tidak ada jawaban yang jelas merujuk pada satu model yang khas: Desain Indonesia. Maka itu, saya ingin memberikan pembedahan dari sudut lain yaitu melihat masalahnya bukan terletak pada desain secara intrinsik, tapi pada “kualitas” keindonesiaan yang ditanamkan padanya.

Keindonesiaan yang ideal?
Keindonesiaan itu sendiri adalah mozaik imajinatif. Dia menawarkan gagasan politik, gagasan etnis, gagasan ekonomi, gagasan historis, spiritual dan lain-lain-yang memperkaya imajinasi kita tentang Indonesia. Sebagai gagasan politik Indonesia dibayangkan sebagai kedaulatan utuh yang dipelihara oleh negara beserta aparatusnya. Sebagai gagasan ekonomi, Indonesia dibayangkan sebagai bangsa yang menganut ekonomi sosialisme. Sebagai gagasan historis, Indonesia dibayangkan sebagai keberlanjutkan dari Nusantara yang romantis. Sebagai gagasan etnis, Indonesia adalah kumpulan dari berbagai golongan etnis. Terakhir sebagai gagasan spiritual, Indonesia dibayangkan sebagai bangsa monotehisme, berketuhanan yang Maha Esa. Model ini diambil dari UUD 45, jadi tentunya merupakan sumber yang sahih. Tapi, apakah imajinasi itu melahirkan satu konsensus bulat? Suatu imajinasi yang sama? Jika forum ini bisa menjawab bahwa konsensus bulat itu ada, maka tidak ada masalah dengan urusan keindonesiaan kita. Saya menduga bahwa konsensus menyangkut di atas belum ada, sehingga perdebatan tetap berlangsung.
Model 1: sebuah negara yang aktif menyusun program “desain nasional”
Studi antropologi yang membahas tentang kebangsaan sudah dilakukan dan ada kecerahan dari sana semoga bisa membantu memecahkan masalah. Menurut Ernest Gellner (1983), bangsa sebagai kenyataan yang tidak terlepaskan dari industrialisasi yang bersifat masif yang ada pada sebuah negara. Negara menciptakan bangsa dan bukan sebaliknya (Gellner, 1987b :59). Secara singkat, sentimen kebangsaan adalah tipe kebudayaan yang secara otomatis akan berkembang setelah negara mencapai industrialisasi, tahap kesejahetraan ekonomi, pembagian kerja terdiferensiasi dan birokrasi massal yang efektif dan menjangkau ruang publik. Maka tidaklah mungkin mengharapkan bahwa perasaan kebangsaan akan muncul dalam masyarkat yang masih berada dalam tahapan bertani. Lanjutnya, kebangsaan merupakan proyek intelektual yang dibina oleh negara, dibangun secara akademis yang disebarluaskan ke seluruh populasi melalui kekuasaan negara melalui industri pendidikan, yang kelak juga menciptakan birokrat terdidik dan tenaga kerja terampil dalam roda industri. Dengan metode ini, negara mempromosikan apa yang disebutnya ‘kebudayaan publik yang tinggi’, maksudnya adalah hal-hal yang dianggap esensial dan ideal bagi identitas bangsa harus dikomunikasikan sehingga terjadi konsensus. Cara-cara produksi modern-tentunya termasuk desain grafis, industri periklanan-pun berperan mensejahterakan ekonomi, dan di atas semua inilah basis masyarakat yang matang terbentuk untuk mencapai bentuk suatu bangsa (Gellner, 1987b :95). Usaha-usaha intelektual untuk menciptakan identitas nasional selalu adalah proyek rekayasa kultural yang canggih. Banyak bukti-bukti menunjukkan bahwa segala sesuatu yang kita anggap “asli dan tradisional” dan “khas” sebetulnya merupakan rekacipta baru, namun dibuat sedemikian rupa menggunakan unsur-unsur kesejarahan sehingga publik mempercayai bahwa ada satu nilai kontinuitas dengan masa lalu yang dapat digunakan menjadi pembenar sejarah. Contoh paling mudah adalah Indonesia yang baru ada tahun 1945 dapat ditelusuri sejarahnya sampai ke Majapahit melalui seperangkat atribut kultural yang diseleksi oleh para founding fathers: Merah putih atau jargon nusantara. Seharusnya usaha-usaha seperti ini terus diperbaharui dan dicari kemungkinan lain selain dari imperial Majapahitan yang membosankan. Hal-hal semacam ini kurang diperhatikan oleh Indonesia.

Model 2: Indonesia ditengah kancah global?
Globalisasi memberikan akselerasi cepat terhadap arus-arus menyangkut hubungan ekonomi, teknologi komunikasi, migrasi, nilai-nilai. Pendeknya terjadi suatu keterhubungan luar-biasa yang memberikan dampak sosial, ekonomi, serta politik. Identitas keindonesiaan kemudian dianggap terancam oleh globalisasi. Terjadi dikotomi yang semakin kuat antara Barat yang diidentikan dengan kapitalis dan Timur yang diidentikan dengan Negara Dunia III yang secara ekonomi politik beroperasi menciptakan ketergantungan. Alih-alih bahwa segala bentuk bahasa desain grafis adalah universal, perusahaan-perusahaan besar tidak merasa bersalah ketika menyamakan efektivitas komunikasi desain ke dalam satu gaya saja. Mungkin ada saja desainer kita yang setuju, namun juga saya mendapatkan reaksi yang sangat lokal dari seorang pekerja iklan di perusahaan besar:

“Tahu apa mereka tentang rural orang Jawa di Bromo? Tahu apa mereka tentang pola hubungan suami istri Indonesia?”

Barat sendiri atau “Timur” sendiri apakah “SeBarat” dan SeTimur” yang kita duga? Gue ragu tuh jika Barat dan Timur benar2 terpisahkan oleh dinding. Negara Barat banyak mengambil elemen Ketimuran lalu dibaratkan dan dijadikan milik mereka, dan kemudian disebarkan ke seluruh penjuru dunia..Makanya ada pengertian exotic, yang sebenarnya itu cara-cara yang sangat Barat dalam mengolah hal-hal yang asing non-Barat… Masalahnya kalau industri desain dikelola dengan kemasan super kapitalis, maka apapun produk hasilnya pastilah berwajah kapitalis juga…walaupun ada gambar borobudur…itu sekedar bumbu eksotisme-nya…

Model 3: Desain Indonesia adalah problem khas Indonesia. ‘ bersambung kapan2.

Bapak Pembangunan

Ben Anderson mengatakan bahwa perbedaan antara kekuasaan dalam cara pandang Barat dan Jawa terletak di wujudnya. Bagi kebudayaan Barat, kekuasaan seorang pemimpin selalu abstrak dan hadir karena legitimasi. Makanya kekuasaan di akumulasikan lewat pemilihan umum. Sangat berbeda dengan Jawa, dimana kekuasaan haruslah empiris dan memiliki wujud konkret dan merupakan anugerah non-legitimasi. Kekuasaan datang dari langit dan memilih orang-orang yang tepat sebagai eksekutornya. Alam pikiran Jawa inilah yang kemudian dianggap sebagai sumber kekuasaan yang paling penting dan mengalahkan proses pemilihan demokratis. Tentu saja dong.. Kekuasaan kan datangnya dari “dunia atas”, artinya itu adalah petunjuk yang harus diemban oleh para pemimpin. Sebagai energi eksternal yang non-democratic, kekuasaan akan menempel terus pada seseorang selama alam mengkhendaki dan selama manusia mampu membaca “sasmita alam”.

Sedikit banyak kita menyukainya juga kok. Kita menyukai sesuatu yang kongkret: misalnya “harga beras murah” dan kita membenci yang abstrak misalnya: “hutang luar negeri tanpa konsultasi ekonomi jangka panjang”. Rakyat Indonesia kemungkinan besar tidak butuh pemimpin politik modern, yang dibutuhkan adalah pemimpin kharismatik yang mampu memberikan efek psikologis berupa keamanan dapur dan keterjangkauan harga. Cinta ribuan rakyat pada $oeharto adalah kecintaan terhadap realitas perut.. Hidup cari aman, nurut pada pemimpin, jangan terlalu banyak protes. Cinta ribuan rakyat pada $oeharto adalah cinta pada nostalgia “hidup normal” yang sangat kongkret tanpa pernah mau tahu akan bayang-bayang ketergantungan hutang luar negeri yang menggunung.

Cinta pada Bapak adalah cinta pada hidup semu yang nampak berkilat. Bahkan kita tidak paham bahwa kemewahan hidup generasi 80-an . dan kegetiran hidup generasi 2000an memiliki hubungan kausalistik yang sangat terang!

Life was so easy that time:
(gue inget masa satu dollar sama dengan seribu, gue inget juga sebungkus gudang garam filter Rp. 350)

Ketika kita harus bayar kesalahan OrdeBaru pada saat ini, ketika subsidi tiada, ketika bensin naik, ketika sawah ciut, ketika Djisamsoe 10.000,- kita juga cari pembenaran yang juga “sumbu pendek” tanpa nalar: “Oh, SBY gagal, Oh.. lebih enak jaman $oeharto.

Dan kita begitu mendadak sedih Bapak meninggal…
Dan kita berpaduan suara: Bapak jasanya sangat banyak, maafkanlah.

Selamat jalan Bapak Pembangunan!

Diskusi Bulanan
Puska Antropologi UI 14 Okt. 2005

 

“Di manapun di dunia, globalisasi adalah tabrakan dua proyek besar: Arus dari atas yang mengglobalkan komformitas, sinisme, kebodohan, perang, pembinasaan, kematian dan amnesia, dan arus dari bawah yang mengglobalkan pemberontakan, harapan, kreativitas, kecerdasan, imajinasi, hidup, ingatan, membangun sebuah dunia yang cukup luas untuk menampung banyak dunia” – Sub-comandante Marcos, Zapatista Army of National Liberation, pernyataan untuk Via Campesina, Cancun, Meksiko, 2003.

Gerakan sosial adalah sumber sekian banyak alternatif, harapan, dan teori tentang bagaimana dunia dapat dibuat berbeda dari sekarang (Arturo Escobar, 2001).

Pendahuluan
Makalah ini dibuat sebagai pemancing awal bagi serial diskusi dengan tajuk Globalisasi yang rencananya akan dilakukan rutin oleh Puska Antropologi FISIP UI. Mengapa globalisasi? Singkat saja, globalisasi adalah konsekuensi dari peradaban modern saat ini, dunia tempat kita bernafas hari ini. Antropologi memang terlambat meninjau masalah fenomena globalisasi secara serius, tidak seperti ekonomi, sosiologi dan ilmu-ilmu teknologi yang memancarkan gairah terhadap globalisasi sebagai suatu harapan baru. Apakah benar-benar harapan baru tentang sebuah masyarakat global yang berperikeadilan ini memiliki dasar? Melalui makalah kecil ini, saya hendak meneruskan suara pihak-pihak yang merasa terancam atau setidaknya gelisah terhadap dampak globalisasi. Makalah ini punya struktur, yaitu: pertama, menyingkat cerita soal dampak gelap globalisasi dari berbagai kasus-kasus; kedua: mengangkat kasus protes-protes sosial yang berhasil atau setengah berhasil; ketiga mencari jalan melalui sebuah penciptaan solidaritas anti globalisasi dengan prinsip think globally, act globally. Diskusi semoga mengarah pada kesadaran akan perlunya tindakan sosial, sebuah gerakan kultural yang bisa dilakukan semua orang untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Dalam bayangan tentang dunia yang semakin kacau balau, saya percaya terdapat banyak ruang luas untuk kreativitas, sehingga perubahan radikal menuju dunia yang lebih ramah untuk semua orang, orang-orang biasa seperti kita, bukanlah omong kosong.

Globalisasi dan Kemiskinan
Memang globalisasi telah menjadi perkataan yang keluar masuk mulut dan telinga dengan macam-macam penafsiran. Studi-studi kebudayaan tentang globalisasi memang melahirkan teori-teori penting yang mengemuka. Namun, hari ini prioritas adalah melihat problem yang terjadi secara gamblang yaitu bagaimana globalisasi menciptakan kemiskinan. Kerjasama ekonomi internasional ternyata tidak membawa nasib rakyat biasa mayoritas penduduk dunia menjadi hidup lebih baik. Struktur ekonomi dunia semakin lama mengerucut dengan kekuasaan terbesar ada di pundak organisasi-organisasi ekonomi global seperti IMF, Bank Dunia dan WTO yang percaya pada ideologi neo-liberalisme yang sangat berbau ekonomi. Menurut kaum neo-liberalis, terdapat bukti-bukti yang meyakinkan bahwa kondisi ekonomi dunia mengalami perbaikan terus-menerus semenjak usainya Perang Dunia II sampai saat kini terutama menyangkut pasar bebas. Sebagai contoh: Bank Dunia mencatat bahwa keputusan Cina untuk membuka pintu terhadap perdagangan bebas telah menaikkan pendapatan per kapita dari $1460 pada tahun 1980 menjadi $4120 tahun 1999. Pada tahun 1980 pendapatan per kapita Amerika adalah 12,5 kali lebih besar dari Cina, namun tahun 1999 menurun menjadi 7,5 kali lebih besar. Jurang antara si kaya dan si miskin pun menyempit dengan contoh kasus-kasus di negara Asia dan Amerika Latin. Negara-negara yang mengalami penurunan pendapatan per kapita adalah mereka yang tidak membuka diri terhadap Perdagangan Bebas seperti banyak negara-negara di Afrika.
Negara-negara miskin yang menurunkan tarriff barriers telah mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja disebabkan karena negara mereka telah beralih dari negara importir menuju eksportir . Menurut pandangan ini, segala bentuk subsidi akan memperlemah sektor ekonomi domestik karena tidak ada yang memacu ekspor. Sementara perdagangan pun akan mati karena setiap negara mengenakan pajak bea masuk.

Menurut ekonom-ekonom Marxis, keadaan justru malah sebaliknya. Globalisasi semakin memperlebar jurang kaya-miskin. Berdasarkan laporan UNDP tahun 1999, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, orang-orang yang berpendapatan US$ 1 atau kurang ternyata tetap memiliki pendapatan yang sama. Sementara kelompok orang yang berpendapatan US$ 2 atau kurang telah bertambah dari 2,55 menjadi 2,8 milyar. Pada tahun 1960 negara-negara miskin (80 persen negara di dunia miskin) memiliki pendapatan 60 kali lebih kecil dari negara-negara maju. Adanya kecenderungan ekonomi global memperdalam jurang pendapatan menjadi 82 kali lebih kecil dibandingkan negara-negara maju. Serangkaian bukti menunjukkan bahkan globalisasi ekonomi di negara berkembang merampas hak asasi kaum buruh pabrik dan buruh tani. Akses ke negara miskin diperlukan negara kaya untuk mendapatkan sumberdaya alam dan tenaga kerja yang murah atau dengan kata lain menambah akumulasi modal mereka. Jadi jelas yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Memang kaum pro-globalisasi, para neo-liberalis memiliki statistik-statistik tandingan yang sangat meyakinkan. Tapi senjata mereka hanyalah statistik yang tidak bisa menjawab satu hal mengganggu bahwa kok bisa-bisanya sejumlah negara berkedaulatan dengan penduduk jutaan takluk pada organisasi alias kemauan segelintir orang?

Perlawanan yang berhasil itu sangat mungkin
Tahun 1999 terjadi aksi demonstrasi anti IMF di Seattle dan menjadi berita karena terjadi di Amerika. Aksi ini menjadi ketakutan sekaligus harapan baru. Dampaknya masif dan ternyata lebih besar daripada media bilang. Dari serangkaian aksi sesudah Seattle terbukti adanya karakteristik dari gerakan-gerakan massa yang menentang organisasi-organisasi ekonomi transnasional yaitu (Solnit, 2003):
” radikal
” anonim
” massal
” terorganisir
” bersifat koalisi berbagai tingkatan baik organisasi maupun individual (organisasi-organisasi, para akademis, aktivis dan orang-orang biasa).
” tidak ada international headquarters.
” Spontan
” Tanpa partai politik
” Tanpa pemimpin tradisional
” Bervariasi layak karnaval (multi suara, banyak ras dan ragam bahasa).

Implikasinya adalah aksi massa akan susah sekali dikategorikan bentuknya dan dengan demikian sukar dilumpuhkan. Secara sosiologis sifat koalisi ini sangat penting karena memperlihatkan adanya suatu konsensus yang berskala transnasional sehingga lebih efektif daripada konsensus nasional. Kepercayaan diri yang begitu besar ini tentu saja menciptakan kekhawatiran bagi segelintir pihak yang bertahan dengan agenda perdagangan bebas. Apa yang mereka takutkan adalah gelombang pasang besar dari sekelompok “orang-orang nekat” (mindless people) yang selalu membarikade kongres WTO, IMF, OSA, G8, NAFTA, dan World Bank. Pertarungan sengit ini bisa juga dilihat sebagai kontestasi banyak identitas sosial. Banyak dari para pendukung menyebut gerakan ini sebagai “Anti-Corporate Globalization Movement” Variasi lain yang lebih keras merasa tepat dengan nama “Anti-Capitalist Movement”; dan yang lebih moderat bernada: “Global Justice for All”. Adanya variasi ini menunjukkan bahwa titik masalahnya bukan globalisasi (yang memang tak terhindarkan, sesuai dengan ramalan Marx seratus tahun lalu). Apa yang ditolak adalah adanya dunia yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan dagang yang bertindak tidak adil, arogan terhadap ekologi dan keanekaragaman hayati, merendahkan ras-gender dan kemanusiaan dengan membayar murah tenaga buruh untuk jam kerja panjang, sifat-sifat elitis dan sentralistis yang jauh dari demokrasi langsung yang transparan (offshore corporate veto), hutang-hutang negara berkembang yang tak mungkin terbayar tujuh turunan dan seharusnya dihapuskan. Globalisasi adalah sarana yang justru merupakan kendaraan untuk perjuangan yang dapat diringkas menjadi apa yang disebut ‘globalisasi dari bawah’ (globalisation from below). Sebaliknya, para simpatisan Neo-Liberalism, para pengusaha transnasional, melihat gerakan ini dalam wajah tunggal yaitu: “Anti-Trade” alias kelompok orang yang tak mengerti pentingnya perdagangan dan prinsip-prinsip ekonomi dasar yang universal .

Forum Global untuk gerakan sosial
Terlepas dari pro dan kontra yang sifatnya pragmatis, secara sosiologis gerakan sosial adalah sesuatu yang tak terhindarkan dan sangat lumrah terjadi dalam sejarah. Gerakan sosial bukan juga merupakan sesuatu yang sangat khusus dan dramatis (Touraine, 1978:47) meskipun kadangkala hadir sebagai peristiwa besar yang melibatkan kekuasaan, perjuangan kelas, dan politik identitas (Ghimire, 2005: 2) dan memakan skala global. Kebangkitan gerakan-gerakan buruh adalah contoh yang menggambarkan bagaimana gerakan sosial adalah urusan banyak orang terlepas dari urusan kebangsaan yang terjadi semenjak revolusi industri seabad lalu. Hal lain

Apakah protes identik dengan kerusuhan?
Antara ya dan tidak. Kerusuhan mencakup konflik berdarah antar pasukan pemrotes dan polisi dan tentara dan pengrusakan properti publik dikaitkan erat dengan aksi-aksi, bahkan sekalipun pihak petugas keamanan yang memulai. Sejarah demonstrasi tidak luput dari kerusuhan

 

Apakah yang dimaksud dengan orang biasa itu?

Apaa yaaah…

© 2011

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache