Category: Scrapbook


 

Aku ingin main gitar berjam-jam sampai senar yang perih terhapus oleh bahagia aneh seperti berada di antara surga dan neraka, dan menghentikannya adalah kematian.

Aku ingin bernyanyi tentang perasaan marah yang tersembunyi dengan nada-nada manis yang menyiratkan temaramnya senja sehingga tenagaku habis dan berakhir dengan mantra-mantra kesumat cinta.

Aku ingin menciptakan lagu yang sejujur celoteh bayi dan semerdu tangisan laparnya sehingga tidak lagi membutuhkan nada, lirik dan alat musik.

Aku ingin bertemu kakekku di djl. Mangga 30, yang tak marah ketika aku mencuri main biolanya. Dia malah mengajariku “Burung Hantu”.

Aku ingin menyiapkan makan malam untuk orang-orang tercinta karena aku rindu dengan sisi keibuanku yang belepotan bumbu, dan terutama karena jadi lelaki ternyata membosankan.

Aku ingin menulis puisi dengan kata-kata yang terlalu sering diucapkan sehingga tidak punya efek sastra kecuali perasaan mual bagaikan mengulum satu lolipop bekas seribu mulut.

Aku ingin berada di pinggir jendela beku yang dingin putih sampai horizon, lalu kehangatan hanyalah mata basah dan telinga rindu dibakar oleh lagu-lagu Ibu Soed.

Aku ingin meneguk sebotol Corona sekaligus sampai tumpah membasahi dasi dan kemeja seperti ketika aku lulus skripsi di siang hari bolong.

Aku ingin duduk kembali di pinggir sungai yang namanya selalu salah dieja, yang begitu indah dan jernih dan percikannya meluruhkan beberapa kata dalam catatan harian.

Oh ya, aku ingin punya anak perempuan yang rambutnya ikal dan dia suka naik pohon.

Hari ini aku tidak produktif, malas mengajar, terlalu banyak kolesterol, bosan membaca, dan seperti biasa bertemu dengan orang-orang yang berharap banyak. Konsultasi, menyiapkan silabus ancangan aplikasi, mimpin diskusi, bicara di depan kelas seperti boneka tolol.

 

27 Sep. 05

Solo – Poltabes Surakarta meminta kepada pengurus Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan di Kota Solo untuk menghentikan program penjualan paket buka seharga Rp 500. Alasannya demi menjaga kondusivitas karena ada sejumlah elemen masyarakat yang tidak setuju dengan kegiatan tersebut. http://is.gd/2Ef4S

Manusia adalah satu spesies yang membeda-bedakan spesiesnya sendiri dengan batas-batas sosial, agama, kelas, ras dan entah apa lagi. Sekelompok orang beragama yang direstui polisi merasa berpahala dan dicintai Tuhan ketika yakin bahwa menerima pertolongan dari umat berbeda agama adalah dosa.

Sungguh mentalitas yang sangat kerdil. Tuhan merekapun mungkin kerdil. Tapi Tuhanku tidak, sebab dia berbisik padaku tanpa embel-embel agama untuk mencintai semua orang tanpa kecuali.

Tapi aku mungkin kerdil juga. Maka aku diam-diam berharap agar Tuhan memasukkan orang-orang yang kuanggap jahanam dan menindas orang miskin atas nama keyakinannya agar masuk neraka. Maafkan, ya Tuhan.

Update:

Program Nasi Murah Peduli Kasih dibuka kembali…Syukurlah. Tapi tidak mencabut kekecewaan saya pada MUI setempat. Silahkan baca: Media Keberagaman. Terimakasih untuk Pammy yg memberitahu perkembangan terbaru..

kecil eec587d4b86d1f47

Catatan sejarah kolusi badan peradilan!

Identitas: hubungan sosial tidak pernah cukup.

Menanggapi siaran Roby Muhamad, saya tulis tanggapan singkat.

Relasi sosial dalam artian hubungan jaring-menjaring memang turut membentuk identitas seseorang. Ini sesuatu yang penting sekali dipahami untuk menjelaskan pada kaum esensialis (pemuja keutuhan identitas) bahwa identitas selamanya fluktuatif dan sementara sebagaimana hubungan sosial sangat dinamis.

Namun apa yang ingin saya tawarkan, adalah sisi lain dari identitas yang berada dalam proses pencarian terus-menerus dalam mengisi subjek (personhood, katakanlah). Ini menyangkut pada persoalan esensi bagaikan botol air yang tak pernah penuh. Keindonesiaan adalah contoh yang baik. Apa yang Roby Muhamad tawarkan adalah rasa kenyamanan karena relasi sosial. Namun bagaimana menjelaskan keinginan sangat subjektif (individual basis) untuk terus menggali keindonesiaan dalam diri terlepas dari banyaknya teman friendster+facebook kita?

Di sini kita menghadapi persoalan-persoalan layer “geologis” berhubungan dengan sejarah, konstelasi politik dan kategorial lain menyangkut kultural dari mulai agama sampai etnis yang berhimpitan dalam diri sebagai subjek. Negara memberikan imposed identity seperti cap pos (lewat pancasila, MUI, penataran P4, label agama di KTP), juga memberikan pengalaman untuk ditempel dalam memori (“komunis itu jahat”, “indonesia merdeka tahun 1945, mari kita peringati”). Biografi kultural pun berperan (sebagai urang Sunda, pengalaman masa kecil di surau, dll). Lapisan-lapisan ini pun bekerja membentuk rasa identifikasi diri kita sebagai bangsa. Lalu karena pengalaman terus bertambah dengan membaca buku, menulis, bergaul, terlibat organisasi, terlibat gerakan separatis… maka penggambaran identitas pun selalu berkembang. Selalu mencari.

Mencoba untuk mencari sintesa antara pendapat saya dan Roby, tentu relasi sosial tetap penting untuk membentuk identitas, tapi bukan saja kehangatan hubungan dan sharing persamaan kultural yang terjadi. Sebaliknya benturan-benturan prinsipil pun tak dapat terhindarkan yang terjadi karena ada “social relations” yang lahir dari serangkaian perbedaan paham terhadap konsep, agama, kepercayaan, bahkan benda-benda. Contoh perdebatan politikana antara kaum “agamis” dan “sekuler” yang sepintas saling serang-menyerang dan adu kebenaran, sebetulnya adalah pertarungan alami antar kelompok itu untuk selalu mencari identitasnya, merekonseptualisasi dan menafsirkan ulang. Ketika salah-satu pihak berhenti mencari… maka perlahan sebetulnya merekalah yang berubah menjadi fosil (baik fundamentalisme agama, ataupun fundamentalisme sekuler).

Maka saya, Roby… terus mencari… terus haus.. terobsesi.. dan semoga menulis (siaran) terus.

tabik (sayang tidak punya webcam). :)

Mengkritik adalah hal biasa. Siapapun melakukan. Malah ini sebagai satu cara mengajak orang lain melihat dari sisi yang berbeda. Maka kritik harus diterima secara positif. Ada orang-orang yang sudah terbiasa dianggap benar. Maka dia tidak tahu kalau dirinya bisa salah. Ada juga orang yang selalu disalahkan. Maka ketika dia berbuat benar, dia tidak merasakannya. Kritik menyeimbangkan itu.

Tapi tidak semua orang biasa dengan kritikan. Keseringan dianggap benar, dianggap hebat, dianggap kaya, dianggap sempurna membuat orang tidak siap dengan sisi-sisi “opposite”, dalam dirinya. Ketika kritik datang reaksinya jadi berlebihan. Padahal apa sih ruginya? Uangnya jadi kurang? Pamornya jadi hilang? Nasibnya jadi jelek? Cantiknya jadi pudar? Saya pikir tidak. Malah seharusnya otaknya jadi mikir.

Hanya karena kita hidup enak, mudah, kaya, dan berlebih, sering kita anggap dunia tidak ada persoalan. Hanya ketika kita mujur, selamat, sehat, berdeposito, berasuransi, ber-blackberry, ber-facebook haha-hihi. Kita lupa ada orang sekarat dan sakaratul maut dengan kemiskinan entah dimana. Dan puncak ajaibnya, hanya karena kita mengalami semua keberuntungan dunia dan merasa paling kuat, justru kita paling lemah pada satu hal. Apa itu? Kritik.

Dunia sekitar saya seperti itu. Maka saya mengkritik. Untuk kebaikan kita, juga untuk kebaikan saya.

Berpakaian selama-lamanya adalah political. Bisa jadi statement politis membangkang, bisa juga statement tunduk pada sistem.

Dari SMA kita diajari tunduk pada sistem…. tapi jaman gue SMA anak cewe membangkang dng memendek2an rok-nya…Rok seksi dan prestasi tinggi ternyata serasi dalam statistik sekolah kami. Bahenol but bright..!

Sekarang… ohh untung aku bukan SMA lagi…menjemukan saudara2… begitu hampa begitu hampa…. sekolah adalah siksaan lahir batin, ekonomi, politik, seni dan budaya…

Kalangwan Seingatku, begitu. Guru-guru yang mampu menggugah semangat dan etos murid-muridnya, pastilah seorang subversif. Ia bisa subversif pada apa saja: bisa pada pemerintah yang korup, pada sistem pendidikan yang abal-abal, juga pada realitas sosial di sekitar, bahkan bisa juga pada agama yang telah jadi banal.

Knalpot Putih Idealnya, guru adalah peran intelektual untuk membuka pikiran banyak orang. Mata murid yang terbuka selamanya adalah mata subversif yang kritis termasuk pada gurunya sendiri. Kalaupun kemudian dia “ditiru” atau “dikultuskan”, itu adalah efek samping dari nilai feodalisme yang menyejarah. Atau bisa jadi karena dia ganteng atau cantik. Saat kini masih banyak guru2 berkepala database yang feodal yang ingin mencetak murid2 yang berpikiran mirip dia.. Guru yang baik justru ingin membuat murid2nya menjadi individu unik yang menyadari potensi diri sendiri untuk terus maju dan mencerahkan “dunia”.

Boy Avianto Ah, sepakat sekali! Penyeragaman, penanaman doktrin serta stigmatisasi kesalahan (yang sebenarnya bukan salah tapi tidak sesuai dengan pemikiran dan panduan sang guru). Keunikan justru dianggap sebagai hal yang tidak bisa dipercaya dan seterusnya.

Tugas guru makin sulit saja… sudah ngajarin kok ya boleh dikritik ; ).

MayDay..!

Bukan hari libur. Mayday itu hari kerja ketika semua yang merasa sebagai kelas buruh secara kolektif MOGOK dan STOP selama sehari.

 

MayDayCartoon lg2

gambar dari http://sf.curbed.com/archives/2008/05/01/workers_of_the_world_unite_curbed_sfs_guide_to_may_day_madness.php

 

Kapitalisme ragu, sosialisme setengah-hati. Banyak yang suka kalau 1 Mei itu libur..!

iwan politikanaHari ini 29 april, sub-headline Kompas yang membuat kepala gatal. Baru saja dua hari lalu Demokrat-PKS berkoalisi, dan hari ini Golkar-Hanura mencetuskan capres-cawapres…

Politik Indonesia yang tidak memuaskan…

diselipkan lewat berita outbreak Flu babi dengan gaya bahasa retorik yang sebetulnya kurang jurnalistik, tapi bagi saya membawa hati nurani rakyat.

Koalisi 2009 = babi…!

Hore masuk headline politikana..!

Multikulturalisme adalah prinsip politik yang mengutamakan pentingnya ruang publik terbuka bagi dialog-dialog perbedaan budaya. Ekspresi kultural memiliki sejarah, keunikan, dan makna khusus bagi penganutnya yang telah menjadi identitas budaya. Ruang publik terbuka berisi banyak identitas-identitas kultural yang idealnya mendapatkan jaminan perlindungan sehingga satu identitas betapapun kecilnya mendapat tempat untuk dihormati, didengarkan dan ditampilkan. Sistem politik yang baik menjamin terbukanya ruang publik bagi segala perbedaan. Asumsinya perbedaan adalah untuk dipahami melalui dialog-dialog antar-budaya. Multikulturalisme berarti juga prinsip untuk menerima dan menghormati adanya perbedaan di sekitar kita.

Antropologi adalah ilmu yang memberikan ruang bagi identitas-identitas budaya milik komunitas untuk ditampilkan dalam tulisan etnografi. Antropologi menyadari bahwa komunitas kecil atau golongan minoritas memiliki cerita sejarah dengan proses-proses yang penting untuk dipelajari, dicatat, dan dipahami. Etnografi memberikan perangkat untuk pendokumentasian konsep-konsep emik lokal. Tinggal masalahnya adalah untuk tujuan apa etnografi dituliskan. Kepentingan studi dan dokumentasi museum? Kepentingan pelaksanaan proyek kolonialisasi dan modernisasi dalam program pembangunan? Atau bisa lebih daripada itu?

Melalui pemahaman multikulturalisme, ada kesadaran baru dalam mengarahkan kontribusi antropologi untuk lebih memberikan pemahaman akan perbedaan-perbedaan kultural. Tulisan etnografi dengan nafas multikultural tidak lagi menciptakan satu budaya, melainkan dialog melibatkan banyak budaya. Dialog inter-kultural, pembongkaran stereotype, komunikasi lintas perbedaan tentunya menjadi data utama ketimbang pelukisan mendalam terhadap satu suku bangsa secara mendalam. Untuk mencapai pemahaman lintas-kultural tersebut, metode etnografi dituntut untuk lebih melibatkan perasaan personal dan subyektivitas peneliti sebagai aktor yang terlibat langsung dalam perbedaan-perbedaan kultural. Subyektivitas dan bias kultural serta etnosentrisme yang hinggap dalam benak peneliti justru menjadi cara untuk memahami, cara untuk berdialog dan cara untuk berefleksi.

Ketika trend multikulturalisme bersintesa dengan metode etnografi eksperimental, saya rasa masa depan antropologi akan semakin menarik, menegangkan dan menghasilkan produk-produk kolaboratif yang melibatkan keakraban antara banyak subjek: para informan dan antropolog menjadi partner yang hadir dalam teks-teks etnografis polifonik. Saya ingin terlibat dengan eksperimen ini..

© 2012

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache