Category: Scrapbook


Kritik itu biasa

Mengkritik adalah hal biasa. Siapapun melakukan. Malah ini sebagai satu cara mengajak orang lain melihat dari sisi yang berbeda. Maka kritik harus diterima secara positif. Ada orang-orang yang sudah terbiasa dianggap benar. Maka dia tidak tahu kalau dirinya bisa salah. Ada juga orang yang selalu disalahkan. Maka ketika dia berbuat benar, dia tidak merasakannya. Kritik menyeimbangkan itu.

Tapi tidak semua orang biasa dengan kritikan. Keseringan dianggap benar, dianggap hebat, dianggap kaya, dianggap sempurna membuat orang tidak siap dengan sisi-sisi “opposite”, dalam dirinya. Ketika kritik datang reaksinya jadi berlebihan. Padahal apa sih ruginya? Uangnya jadi kurang? Pamornya jadi hilang? Nasibnya jadi jelek? Cantiknya jadi pudar? Saya pikir tidak. Malah seharusnya otaknya jadi mikir.

Bahenol but bright

Berpakaian selama-lamanya adalah political. Bisa jadi statement politis membangkang, bisa juga statement tunduk pada sistem.

Dari SMA kita diajari tunduk pada sistem…. tapi jaman gue SMA anak cewe membangkang dng memendek2an rok-nya…Rok seksi dan prestasi tinggi ternyata serasi dalam statistik sekolah kami. Bahenol but bright..!

Sekarang… ohh untung aku bukan SMA lagi…menjemukan saudara2… begitu hampa begitu hampa…. sekolah adalah siksaan lahir batin, ekonomi, politik, seni dan budaya…

Catatan diskusi guru di politikana

Kalangwan Seingatku, begitu. Guru-guru yang mampu menggugah semangat dan etos murid-muridnya, pastilah seorang subversif. Ia bisa subversif pada apa saja: bisa pada pemerintah yang korup, pada sistem pendidikan yang abal-abal, juga pada realitas sosial di sekitar, bahkan bisa juga pada agama yang telah jadi banal.

Knalpot Putih Idealnya, guru adalah peran intelektual untuk membuka pikiran banyak orang. Mata murid yang terbuka selamanya adalah mata subversif yang kritis termasuk pada gurunya sendiri. Kalaupun kemudian dia “ditiru” atau “dikultuskan”, itu adalah efek samping dari nilai feodalisme yang menyejarah. Atau bisa jadi karena dia ganteng atau cantik. Saat kini masih banyak guru2 berkepala database yang feodal yang ingin mencetak murid2 yang berpikiran mirip dia.. Guru yang baik justru ingin membuat murid2nya menjadi individu unik yang menyadari potensi diri sendiri untuk terus maju dan mencerahkan “dunia”.

MayDay..!

Bukan hari libur. Mayday itu hari kerja ketika semua yang merasa sebagai kelas buruh secara kolektif MOGOK dan STOP selama sehari.

 

MayDayCartoon lg2

gambar dari http://sf.curbed.com/archives/2008/05/01/workers_of_the_world_unite_curbed_sfs_guide_to_may_day_madness.php

 

Kapitalisme ragu, sosialisme setengah-hati. Banyak yang suka kalau 1 Mei itu libur..!

iwan politikanaHari ini 29 april, sub-headline Kompas yang membuat kepala gatal. Baru saja dua hari lalu Demokrat-PKS berkoalisi, dan hari ini Golkar-Hanura mencetuskan capres-cawapres…

Politik Indonesia yang tidak memuaskan…

diselipkan lewat berita outbreak Flu babi dengan gaya bahasa retorik yang sebetulnya kurang jurnalistik, tapi bagi saya membawa hati nurani rakyat.

Koalisi 2009 = babi…!

Hore masuk headline politikana..!

Antropologi dan multilkulturalisme (outline)

Multikulturalisme adalah prinsip politik yang mengutamakan pentingnya ruang publik terbuka bagi dialog-dialog perbedaan budaya. Ekspresi kultural memiliki sejarah, keunikan, dan makna khusus bagi penganutnya yang telah menjadi identitas budaya. Ruang publik terbuka berisi banyak identitas-identitas kultural yang idealnya mendapatkan jaminan perlindungan sehingga satu identitas betapapun kecilnya mendapat tempat untuk dihormati, didengarkan dan ditampilkan. Sistem politik yang baik menjamin terbukanya ruang publik bagi segala perbedaan. Asumsinya perbedaan adalah untuk dipahami melalui dialog-dialog antar-budaya. Multikulturalisme berarti juga prinsip untuk menerima dan menghormati adanya perbedaan di sekitar kita.

titik terendah

Universitas manapun adalah perusahaan. Semakin kaya perusahaan, maka semakin runcing polariasi kelas yang terjadi. Guyonan lama setengah petuahnya begini: Waktu muda boleh Marxis, tapi kalau tua, Kapitalis . Universitas akan semakin besar: World Class University, global rated university. Itu diiklankan. Prinsip sosialisme, kesejahteraan vertikal boro-boro jadi iklan. Dijalankan saja jarang.

Di tengah-tengah simbol ini saya merasa gamang. Maybe it’s time to stop.

Hari ini aku benar-benar sampai pada titik terendah dari segi semangat. Bener-bener kosong. Pekerjaan menumpuk sebagai dosen belum selesai semua. Karena uangnya tidak seberapa, kelihatannya tumpukan itu akan makin bertambah tinggi menggunung, malas sekaligus jahat, seperti lingkaran setan.

sharing kuliah..

Kuliah Analisa Faktor Sosial dalam Pembangunan membicarakan issue-issue besar globalisasi, developmentalisme-modernisation Inkeles-Rostow, dependencia theories Gunder-Frank, world system theory Wallerstein, culture-matters Huntington, mentalitet pembangunan Koentjaraningrat..

tapi..

Bagaimana mengaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari sebagai antropolog? Apa terobosan metodologis sehubungan dengan adanya pembacaan teori-teori non-antropologis di atas? Terutama apa pengaruh bacaan-bacaan itu terhadap pengertian dan imajinasi kita tentang kebudayaan yang sering kita anggap secara obsesif sebagai penemuan dahsyat seorang antropolog?

 

belum terasa spontan…

masih sangat kaku…dan tempat nampang doang…. Cita-citanya sih ingin menjadikan kelakuan nulis jadi kebiasaan sehari-hari. Sederhana tapi manis dan mencatat hal penting. Kalo ga penting ga usah.

Place, space.. and myself..

Place fuses the real with the mythical, the virtual with the actual; it is a space which encourages flights of imagination..

Place allows particular localities to be defined in terms of their history and social use, investing them with cultural meanings and values and making them available for active intervention and transformation…

Powered by WordPress | Theme: Motion by 85ideas.

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache