Realitas diberi makna oleh bahasa sehingga nalar bisa mengerti, mulut mampu membicarakannya, dan tangan kita mampu menuliskannya.
Dengan bahasa, realitas menjadi teratur, chaos terhindari dan manusia memahami.
Maka kita mengintip realitas lewat bahasa yang kita pahami. Maka itu juga realitas bagi manusia dibentuk lewat bahasa.
Barang siapa yang kaya berbahasa, dia melihat kenyataan lebih kaya. Barang siapa menguasai banyak bahasa, dia melihat kenyataan dari banyak lensa.
Dengan bahasa kita memahami realitas sebagai sesuatu yang fakta, fiksi, setengah fakta-fiksi.
Maka, barang siapa yang dapat mengontrol orang berbahasa, maka dia juga mampu mengontrol orang melihat realitas termasuk membelokkan realitas.
Category: Scrapbook
Kita paham bahwa warisan budaya itu penting, tapi sekaligus tidak bedaya menyaksikan warisan tersebut semakin menghilang. Kawasan kota-kota besar di Indonesia selalu memiiki areal kota tua diatas 150 tahun. Seringkali juga kawasan tersebut kumuh tak terawat. Kawasan Kota tua di sekitar Jalan Kembang Jepun, Surabaya atau jalan Braga di Bandung dan daerah Pasar Baru Jakarta memang menyisakan beberapa gedung tua yang bertahan. Tapi di kiri-kanannya papan iklan berkilat yang sepertinya baru muncul kemarin. Hampir seluruh kawasan tua terjepit menjadi tidak sesuai lagi dengan rancangan awal dan seakan menjadi asing di tengah derap modernisasi. Penetapan wilayah kota tua oleh pemerintah memang memberikan sedikit ruang bernapas untuk sekedar membiarkan mereka berdiri walau perlahan kehilangan fungsinya dalam kehidupan kota kecuali sebagai artefak pariwisata.
Masih kerja malam dikantor ngedit film Human Trafficking Sabah.

Candles are ready… Main lamps are off.. Kids asking why.. We’re watching countdown 14 mins. #EarthHour
Hiburan akhir pekan…
TKI di Malaysia Unjuk Rasa Protes LSM Indonesia (ANTARANEWS 12 Oktober 2009)
Dalam demo itu, para TKI yang bekerja di sektor pertanian, konstruksi, dan pembantu rumah di sekitar Cameron Highlands, membawa pamflet yang di antaranya bertuliskan, “Kami Aman di Malaysia”, “Terima Kasih Pahang & Malaysia”, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan NTR (Najib Tun Razak) pemimpin terbaik”. Para TKI itu menyesalkan sebagian rakyat Indonesia yang kurang menerima penjelasan mengenai isu tari Pendet Bali hingga menimbulkan sentimen anti-Malaysia.
Aku ingin main gitar berjam-jam sampai senar yang perih terhapus oleh bahagia aneh seperti berada di antara surga dan neraka, dan menghentikannya adalah kematian.
Aku ingin bernyanyi tentang perasaan marah yang tersembunyi dengan nada-nada manis yang menyiratkan temaramnya senja sehingga tenagaku habis dan berakhir dengan mantra-mantra kesumat cinta.
Aku ingin menciptakan lagu yang sejujur celoteh bayi dan semerdu tangisan laparnya sehingga tidak lagi membutuhkan nada, lirik dan alat musik.
Aku ingin bertemu kakekku di djl. Mangga 30, yang tak marah ketika aku mencuri main biolanya. Dia malah mengajariku “Burung Hantu”.
Solo – Poltabes Surakarta meminta kepada pengurus Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan di Kota Solo untuk menghentikan program penjualan paket buka seharga Rp 500. Alasannya demi menjaga kondusivitas karena ada sejumlah elemen masyarakat yang tidak setuju dengan kegiatan tersebut. http://is.gd/2Ef4S
Manusia adalah satu spesies yang membeda-bedakan spesiesnya sendiri dengan batas-batas sosial, agama, kelas, ras dan entah apa lagi. Sekelompok orang beragama yang direstui polisi merasa berpahala dan dicintai Tuhan ketika yakin bahwa menerima pertolongan dari umat berbeda agama adalah dosa.
Sungguh mentalitas yang sangat kerdil. Tuhan merekapun mungkin kerdil. Tapi Tuhanku tidak, sebab dia berbisik padaku tanpa embel-embel agama untuk mencintai semua orang tanpa kecuali.

Catatan sejarah kolusi badan peradilan!
Identitas: hubungan sosial tidak pernah cukup.
Menanggapi siaran Roby Muhamad, saya tulis tanggapan singkat.
Relasi sosial dalam artian hubungan jaring-menjaring memang turut membentuk identitas seseorang. Ini sesuatu yang penting sekali dipahami untuk menjelaskan pada kaum esensialis (pemuja keutuhan identitas) bahwa identitas selamanya fluktuatif dan sementara sebagaimana hubungan sosial sangat dinamis.
Namun apa yang ingin saya tawarkan, adalah sisi lain dari identitas yang berada dalam proses pencarian terus-menerus dalam mengisi subjek (personhood, katakanlah). Ini menyangkut pada persoalan esensi bagaikan botol air yang tak pernah penuh. Keindonesiaan adalah contoh yang baik. Apa yang Roby Muhamad tawarkan adalah rasa kenyamanan karena relasi sosial. Namun bagaimana menjelaskan keinginan sangat subjektif (individual basis) untuk terus menggali keindonesiaan dalam diri terlepas dari banyaknya teman friendster+facebook kita?


