Category: Rizoma


Lagi baca: “Tan Malaka: Aksi Massa, Bab IX” ( http://bit.ly/r2NkBa )
aksi massa yang tak terorganisir dianggap kriminal biasa dari orang-orang demam.
aksi massa harus terorganisir sehingga mendapat dukungan luas. Tidak bisa dari segelintir kelompok yang mimpi sepihak.
Aksi massa tidak lahir dari tindakan heorik seorang tukang rusuh dengan fantasi kosong.
Aksi massa baru bisa terjadi jika identitas kelas buruh jadi bagian kesadaran rakyat Indonesia.
Aksi massa harus mempertimbangkan perasaan dan kesanggupan massa untuk ikut bergerak bersama. Tanpa itu 99 persen akan gagal.
Aksi-massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka
Aksi massa perlu leadership yang menerjemahkan “kemauan massa” menjadi “tindakan massa”
Aksi massa bukan amuk massa. Ia sistematis: demonstrasi, mogok dan rebut.
Hanya “satu aksi massa”, yakni satu aksi massa yang terencana di satu negeri berindustri Indonesia.

Twitter dijadikan Republik? Kenapa tidak?

Berikut ini adalah susunan sementara Kabinet Twitter Republik Indonesia yang mulai dicetuskan tanggal 19 November pukul 21.00 dan masih berlangsung:

  1. Menkominfo @enda #kabinetTwitterRI
  2. Kepala BIN @treespotter #kabinetTwitterRI
  3. Menteri Deradikalisasi Agama @kopiganja #kabinetTwitterRI
  4. Dirjen Pariwisata @nicsap #kabinetTwitterRI
  5. Menteri Ristek @hotradero #kabinetTwitterRI
  6. Menteri Tenaga Kerja @vabyo #kabinetTwitterRI
  7. Menteri Kesetaraan Gender @sillysampi #kabinetTwitterRI
  8. Menteri Hak Keanekaragaman Kultural @jokoanwar #kabinetTwitterRI
  9. Menteri Mitigasi Bencana @devitaharya #kabinetTwitterRI
  10. Ketua KPK @gitaputrid #kabinetTwitterRI
  11. Menteri Keuangan @acopatunru #kabinetTwitterRI
  12. Menteri Pemuda dan Olahraga @sheque #kabinetTwitterRI
  13. Menteri Kesehatan @novariyanti #kabinetTwitterRI
  14. Ketua Dewan Pers @yudapanjaitan #kabinetTwitterRI
  15. Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) @benhan #kabinetTwitterRI
  16. Ketua Bappenas @ujangw #kabinetTwitterRI
  17. Menteri Kelayakan Transportasi Publik @senirupa
  18. Menteri Luar Negeri @bentarabumi #kabinetTwitterRI
  19. Menteri Tata Ruang dan Perencanaan Kota @mkusumawijaya
  20. Menteri Potensi Keanekaragaman Pangan (Menporapan) @BaraTheCook #kabinetTwitterRI
  21. Menteri Pendidikan Multikultural @ulil #kabinetTwitterRI
  22. Ketua Komite Desakralisasi Mitos Bangsa @lurino #kabinetTwitterRI
  23. Menteri Akselerasi Desa Tertinggal @ari_ap #kabinetTwitterRI
  24. Ketua BPPT @yanuarnugroho #kabinetTwitterRI
  25. Jaksa Agung @taufikbasari #kabinetTwitterRI
  26. Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia @LisraSukur
  27. Menteri Sekretaris Negara @mushroomteaser #KabinetTwitterRI
  28. Direktur Revitalisasi TVRI @claralila #KabinetTwitterRI
  29. Menteri Lingkungan Hidup dan Reduksi Karbon @AstroBabes #kabinetTwitterRI
  30. Juru Bicara Kepresidenan @ndorokakung #kabinetTwitterRI
  31. Menteri Pendalaman Nilai Tradisi (Menpenitra) @sudjiwotedjo #kabinetTwitterRI
  32. Meneg Usaha Mikro Kecil Menengah @dodongc #kabinetTwitterRI

Alternatif Menarik:

  1. Menteri Kerukunan antar Umat Beragama @zuhairimisrawi #kabinetTwitterRI
  2. Menteri Pemberdayaan Perempuan @nongmahmada #kabinetTwitterRI
  3. Ketua MUI prof @komar_hidayat #kabinetTwitter
  4. Staf Khusus Moral Bangsa @farry #KabinetTwitterRI
  5. Menteri Urusan Typo dan Peranan Auto Text @lfiany #KabinetTwitterRI
  6. Menteri Negara Urusan Kelempengan @tepatwaktu #KabinetTwitterRI
  7. Menteri Perkara Pengentasan Total (Memperngentot) @sudjiwotedjo #KabinetTwitterRI
  8. Menteri Pertahanan Republik @rahung #KabinetTwitterRI (belum ada kabar).

Demikian yang tercatat….

Jabatan masih kosong:

Kapolri, Menteri Urusan Perbatasan Negara, Menteri Pertahanan, menteri kehutanan, dan tentunya Presiden!

Panitia:

@meulia dan @uberfunk

The Social Network

Zuckenberg is so social minded. He rejected Microsoft offer to buy his freeware long before the Facebook era. #socialnetwork

Lousy with women is not “anti-social disorder”, he’s just reluctant to be associated with “scary” American dating culture. #socialnetwork

Computer mediated social relationship can be as realistic as flesh-to-flesh connections. It is the matter of how to use your brain #socialnetwork

Brain is the most lethal sexual organ. All started from there! #socialnetwork

Internet social media is not virtual reality. It really boost your chance to enhance your real relationships. It’s the reality itself. #socialnetwork

aksara…

Buku itu saling berebut pamor di etalase. Mereka bicara satu sama lain, dalam suara tidak terdengar tentang kita. Sementara saya hanya menganggapnya kumpulan teks yang kita cari bilamana perlu, misalnya untuk kado ulangtahun. Atau pelengkap perhiasan rumah. Sementara kamu, selalu memburuku agar mengerti bahwa tiap buku merekam jauh dari apa yang ditulisnya dan dituliskan tentangnya. Karena mereka menulis tentang dirimu.

Antropologi , Pendidikan dan Karakter Bangsa
Pembicara: Prof. Dr. Sri Ahimsa Putra dan Teuku Kemal Pasya, MA
Moderator: R. Yando Zakaria | Perumus: Iwan Meulia Pirous

Studi-studi tentang budaya dan kepribadian berkembang dalam disiplin antropologi untuk mencari watak khas etnis dan juga bangsa.Tapi perkembangannya lambat dan problematik. Bagaimana memetakan keanekaragaman kepribadian 800 etnis, kecuali dengan membangun mitos hasil abstraksi tentang kepribadian?

Ciri khas menarik tentang “watak Indonesia” dapat dilihat dari ciri-ciri kebudayaan-kebudayaan etnis yang digali dari berbagai etnografi yaitu keterbukaan terhadap pengaruh asing yang dijadikan milik sendiri. Ada unsur sinkretisme dan akulturasi yang dianggap wajar. Tapi benarkah demikian?

Karakter bangsa adalah sesuatu yang kabur, mitos dan selalu dicari wajah jelasnya di tiap zaman. Perdebatan keindonesiaan di Indonesia dalam wacana tercatat bertahap. Episode pertama: Perdebatan Keindonesaan pertama: Polemik Kebudajaan (1930an) tentang wajah Barat vs Timur. Episode kedua: Episode kedua: Mochtar Lubis Manusia Indonesia yang merupakan otokritik pedas tentang kemunafikan orang Indonesia. Episode ketiga: Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Masa pasca reformasi adalah episode keempat, segala wacana yang pernah ada nampak hancur dan sentimen keindonesiaan untuk solidaritas masuk dalam titik nadir terendah.

Konstitusi Indonesia dengan jelas menekankan bahwa pluralitas adalah hal alami bagi karakter Indonesia yang demokratis. Hak warganegara termasuk hak kultural dan akses terhadap pendidikan dilindungi sebagai tanggungjawab sosial negara terhadap warga.
Tapi, dalam praktiknya, prinsip-prinsip demokratis tidak ditanamkan melalui sistem pendidikan. Dalam kenyataan, pendidikan belum jadi instrumen pembangunan kebudayaan nasional. Dialog inter-kultural, pengakuan terhadap perbedaan dan penguatan hubungan-hubungan sosial semakin absen.

Sistem pendidikan saat ini berorientasi pada pencapaian standar angka yang individual terlebih dengan masuknya kapitalisme mutakhir. Kompetensi yang ditawarkan dalam pendidikan sangat individual, tidak bersifat komunal. Pendidikan yang seharusnya memperkuat relasi sosial yang diambil dari unsur-unsur sangat lokal telah berubah menjadi penguatan individual. Pendidikan di Indonesia sangat tidak demokratis. Konsep demokratisasi justru dimatikan oleh pendidikan itu sendiri.
Apa yang harus dilakukan ke depan

Antropologi harus kritis. Antropolog bisa menginventarisasi arena sosial seperti apa utk pendidikan kita? Kita perlu peka terhadap variasi budaya dan pemetaan terhadap arena sosial. Sekolah hanya satu komponen saja, sementara sosialisasi “kongkret” berlangsung di ruang publik yang berperan dalam pendidikan. Pertanyaan antropologis dan pendidikan antropologi macam apa yang harus kita ajukan agar kita mengerti? Antropologi memang perlu berkontribusi, tapi kontribusi dalam bentuk seperti apa yang dibutuhkan sekarang?

SEKIAN.

01IMG 6829

resume Seminar Antropologi Terapan:

Re-Invensi Antropologi Indonesia di Era Demokrasi dan Globalisasi 22 Juli 2010

Sejauh mana Re-invensi Antropologi?

Dari tujuh tema yaitu:
1. Pembangunan Hukum di Indonesia
2. Otonomi Lokal dan Ketahanan Nasional
3. Antropologi, Pendidikan, dan Karakter Bangsa
4. Agama, Etnisitas dan Multikulturalisme
5. Gender, dan Migrasi Global
6. Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat
7. Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam

Kita dapat menemukan kegelisahan akademik teman-teman dalam menggeluti fenomena kehidupan yang terjadi dalam kapasitas sebagai antropolog. Wacana yang berkembang dalam makalah dan diskusi menggambarkan adanya friksi yang semakin keras di antara kelompok sipil, negara, adat, kepentingan bisnis dalam memperebutkan dan menguasai sumberdaya. Friksi ini diperkirakan semakin mengeras dan mengakibatkan yang menunjukkan krisis yang meluas dalam kehidupan masyarakat kita.

Juga kita melihat betapa landscape etnografis kita telah menjelma menjadi semakin kaya dan memperlihatkan ciri khas: migrasi intensif dan ekstensif, menguatnya kapitalisme mutakhir, pengentalan dan resistensi identitas, adanya pertentangan kelas sosial yang semakin terbuka, intervensi negara, parpol, dan organisasi non-pemerintah.

Ada kegalauan dalam hal bentuk kontribusi yang tepat sebagai antropolog. Antropologi memang perlu berkontribusi, tapi kontribusi dalam bentuk seperti apa yang dibutuhkan sekarang? Antropolog memang dituntut untuk pandai membaca masyarakat, tapi apakah kita sudah membaca dengan benar? Kegalauan ini menuntut kita untuk mengkritik diri.

Dalam berbagai tema yang disajikan terlihat adanya gairah kawan-kawan untuk tanpa tanggung-tanggung terjun menjadi intelektual yang memfasilitasi dan mengadvokasi pemberdayaan komunitas. Di sisi lain, berpikir diluar kotak-kotak ideologis keilmiahan kita tidak mudah, dan masih saja kita terjebak dalam cara-cara yang pernah kita pikir tepat, sesungguhnya merupakan daur ulang periode sebelumnya.
Dalam dua hari perdebatan, ada tiga peta yang hadir:

  1. Wacana esensialis tentang karakter budaya ideal, kearifan lokal, sebagai suatu yang menjadi titik sentral bergerak sebagai antropolog.
  2. Wacana dialogis tentang hubungan inter-kultural, antar-perbedaan, dan pentingnya hak-hak berbudaya sebagai titik sentral antropolog.
  3. Wacana aktivisme yang membumikan teori-teori menjadi akal sehat untuk untuk melakukan transformasi sosial.

Langkah ke depan
Reinvensi antropologi saat ini adalah membuatnya menjadi lebih kritikal termasuk mampu untuk lebih memberdayakan diri sendiri dan orang lain. Antropologi ditantang bukan berdebat-tulis, tapi menulis utk menimbulkan aksi. Antropologi punya kesempatan untuk melakukan ruang sadar diri dengan melakukan refleksi.

Kita perlu lebih sering duduk bersama dan saling berbagi pengalaman dengan suasana terbuka dan siap menerima kritik dari orang lain.
Perlu memilih paradigma (teori dan metodologi) karena akan berkonsekuensi pada posisi antropolog dalam profesi dan komunitasnya. Pilih dulu posisi paradigma, baru kemudian kerja.

Antropologi punya kemampuan spesial memahami diferensiasi, tapi ini tidak akan ada manfaatnya kalau kita tidak dapat menempatkan diri dalam dinamika keberagaman yang kita hadapi sebagai kegiatan reflektif yang harus dilakukan terus-menerus.

Cisarua, 22 Juli 2010

Tim Perumus Seminar Antropologi Terapan “Antropologi dalam Lintasan Pembangunan Indonesia”, Seminar Nasional Antropologi 2010

Ketua Perumus: Iwan Tjitradjaja

Anggota Perumus:

- Ruddy Agusyanto
- Yulizar Syafri
- Iwan Pirous
- Irwan Martua
- Haswinar Arifin
- Nursyirwan Effendi
- Fikarwin Zuska

View full article »

Memang yang ditakuti negara adalah kekuatan “kiri terorganisir”, maka mungkin FPI dibiarkan, bahkan dipelihara.

The recent spate of attacks against Christian places of worship could be blamed on a culture of intolerance fostered over the past decade, according to observers.

Ulil Abshar Abdalla, a Nadhlatul Ulama member and the founder of the Liberal Islam Network (JIL), blamed the Indonesian Council of Ulema (MUI) for the rise of conservatism and radicalism in Indonesia.

“They issued an edict in 2005 forbidding pluralism. This makes interreligious dialogue difficult and stigmatizes the people working toward it,” he said, adding that much of the MUI board was conservative.

“Conservatism is a lot easier to digest because it’s simple and doesn’t require much thought. It also gives a false sense of protection from the outside world.”

The country’s socio-economic situation played a role in this too, according to University of Indonesia anthropologist Iwan Meulia Pirous. He said religion had an absolute authority, and the recent economic crisis made people turn to religion.

“People cling to religion in times of crisis, and radical groups use this to mobilize the people, especially those in economic hardship,” he said.

Groups like this also succeed by fomenting a culture of fear and intolerance, Iwan said. “The government fears poverty could also nurture socialism, so it allows the religious right to thrive. That’s why it’s hard to disband such groups, because they’re being nurtured by the government.”

Ulil said the government and Islamic organizations often underestimated groups that promoted intolerance toward other religions.

One hard-line group that has grabbed headlines is the Islamic Defenders Front (FPI). Even with founder and chairman Habib Rizieq jailed for 18 months in October 2008, its ranks are not dwindling.

FPI secretary general Sholeh Mahmud Nasution told the Jakarta Globe on Sunday that the organization would always fight against what it deemed was wrong, and blamed its poor reputation on subjective media coverage that focused only on conflicts rather that their underlying reasons.

“Everything has a process. The FPI now is different. We’re more principled, we accommodate discussion first, and then resort to force, but only if our disappointment has peaked,” he said.

“The public is never told that the FPI tries to pursue peaceful mediation. And sometimes there are provocateurs from outside who want us to riot.”

Dari Jakarta Globe

x2 12d7bd2

KEKERASAN NEGARA TERHADAP HAK KULTURAL WARGA
Undangan Konferensi Pers

Penggusuran warga Benteng tanggal 13 April 2010 ditangguhkan selama 2 minggu untuk memberi kesempatan warga “memaksa diri” meninggalkan rumah-rumah mereka. Artinya waktu mereka tinggal sedikit lagi.
Penggusuran Warga Benteng di pinggiran Kali Cisadane dimaksudkan untuk menggantikan ruang hunian warga Benteng sepanjang 3 kilometer meliputi Kampung Lebakwangi, Tangga Asem, dan Kokun di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Tangerang menjadi jalur pohon hijau. Warga pinggir kali dianggap melanggar perda Tangerang no. 18/2001 tentang K3 (Kebersihan, Keindahan, Ketertiban), perda No 7/2001 tentang Izin Mendirikan Bangunan, dan dan peraturan Walikota Tangerang No 49/7008 tentang struktur organisasi dan tata kecamatan.

Akibat penggusuran ini adalah tergusurnya 350 KK yang identik dengan hilangnya ruang kultural warga dengan cara paksa. Dengan ini segenap warga civitas akademika FISIP-UI menyatakan keprihatinan mendalam atas kegagalan negara dalam memahami hak-hak kultural warganya yang dijamin dalam Konvensi hak-hak dasar Ekonomi, Sosial, Budaya (ECOSOC) Perserikatan Bangsa-bangsa, Pancasila, dan UUD 1945 terutama pasal 28 (amandemen).

Kami mengundang kawan-kawan media untuk hadir.
ACARA

Senin, 26 April 2010 :
Wawancara menyangkut peninjauan langsung di lokasi penggusuran. Press-Release.
Gedung Koentjaranigrat FISIP-UI pukul 10.30 – 12.00

Kamis, 29 April 2010 :
Diskusi Sehari membicarakan Kekerasan Negara terhadap Hak Kultural Warga. Akan hadir sejumlah staf pengajar, peneliti, aktivis dan pemerhati masalah sosial untuk agenda pembicaraan lebih komprehensif termasuk mediasi konflik, dan pengusutan tuntas terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dan perlunya perangkat perundang-undangan untuk membela hak-hak kultural warga. Gedung SSMC (Gedung C), Lantai 3, FISIP – UI. Pukul 14.00 – selesai.

CONTACT PERSONS

  1. Hari Nugroho (Labsosio). 0811807694 – Email: harnugroho(at)yahoo.com
  2. Iwan Pirous (Puska Antropologi) 081389965875 – Email: pirous(at)ui.ac.id
  3. Dave Lumenta (Puska Antropologi) 081382468376 – Email: dlumenta(at)gmail.com

(foto: Dave Lumenta)

Hari ini terjadi tragedi di Tangerang. Komunitas Tionghoa Cina Benteng diusir oleh pemerintah kota. Ini suatu pelanggaran serius terhadap prinsip multikulturalisme, hak berbudaya, dan hak asasi manusia. Prinsip multikulturalisme mengatur hubungan warga dan negara, sebagai prinsip menghargai perbedaan kultural, sejarah, dan pandangan politik sebagai kehidupan wajar di ruang publik warganegara yang harus dilindungi negara melalui undang-undang.

dari detik.com

Sebetulnya, UUD 1945 sudah mengatur bahwa negara bertanggungjawab terhadap kehidupan dan perkembangan kultural. Fakta bahwa Indonesia adalah kawasan multi-etnis, ramah terhadap peradaban asing, melakukan akulturasi dan sinkretisme intensif sepanjang sejarah menjadi iklim khas untuk multikulturalisme sebagai prinsip politik — BAHKAN jauh lebih ideal dan durable dan toleran, dibandingkan peradaban Eropa yang berdarah-darah dengan konflik antar-etnisnya sebelum mereka menjadi bangsa-bangsa.

Kembali ke Tangerang. Kawasan ini telah menjadi hunian bagi keturunan Cina semenjak abad ke-17. Mereka adalah warganegara Indonesia dengan hak-haknya seperti kita. Saya menghimbau agar kita para antropolog dalam posisi sebagai pengajar, peneliti, praktisi, aktivis mengeluarkan suatu pernyataan keras terhadap tindakan diskriminatif yang brutal ini.

Kutipan detik.com:

Jakarta – Pagi ini, seribuan warga Cina Benteng yang tinggal di Kampung Lebak Wangi, Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang akan diusir paksa oleh Pemkot Kota Tengerang, Banten dari rumahnya. Padahal, mereka telah menghuni kawasan tersebut sejak abad ke 17 dan telah berasimilasi dengan penduduk setempat selama berabad-abad.

 

“Pagi ini rencananya Pemkot Tangerang akan menggusur kawasan bersejarah tersebut,” kata pengacara warga dari LBH Jakarta, Eddy Halomoan Gurning kepada wartawan di kantor LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (12/4/2010).

Sebanyak 350 KK atau 1.007 jiwa yang terdiri dari 477 perempuan, 339 anak-anak, 129 laki-laki serta 12 orang penderita keterbelakangan mental terancam kehilangan tempat tinggalnya. Padahal mereka telah melalui proses panjang asimilasi dan akulturasi yang menghasilkan sumbangan besar terhadap kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia.

Tari Cokek dan alunan musik Gambang Kromong merupakan dua dari banyak jenis kesenian hasil perjumpaan dua kebudayaan yang berbeda, tionghoa-betawi. “Pemerintah beralasan, rumah-rumah digusur karena melanggar Perda No 18 tahun 2000, tentang Keindahan, Ketertiban, dan Keamanan (K3) Kota Tangerang,”
tambahnya.

Jika rencana penggusuran ini tetap dilakukan, maka terjadi pelanggaran hak perumahan. Serta di khawatirkan akan berdampak pada berkurangnya atau hilangnya hak atas kesehatan, pendidikan serta hak atas lingkungan yang sehat dan bersih.

“Warga akan bertahan di rumah mereka. Jelas pengusuran paksa ini bersifat diskriminatif,” pungkasnya.
(asp/mok)

 

Tags:

Update:

Warga Kampung Cina Benteng yang diam di bentaran kali dituding melanggar UU no 18 2003 tentang kebersihan, ketertiban, dan keindahan kota. Undang-undang karet yang terlihat sangat memuaskan kebutuhan keindahan optikal aparatus negara akan sebuah pemandangan steril sebagai satu-satunya syarat keindahan.

Kebrutalan masih terjadi sampai sore ini seperti diberitakan Tempo Interaktif.

Sebanyak 250 personil Satpol PP memaksa membubarkan barikade warga. Bahkan mereka menggunakan semprotan air pemadam kebakaran untuk membubarkan aksi penolakan penggusuran kampung Cina Benteng tersebut. Namun warga terutama ibu-ibu bertahan di jalan dan membiarkan tubuh mereka basah kuyup.

Tak hanya korban luka, beberapa warga juga terlihat pingsan dalam aksi penolakan ini. Termasuk koordinator warga Edi Liem. Warga yang ingin mempertahankan kampung leluhur mereka itu bertahan dengan berbagai cara mulai dari bergandengan tangan, duduk jika tak tahan diserang hingga tiduran di jalan.

Secara legalitas, kedudukan warga lemah dengan tiadanya dokumen hukum. Namun perlu dipahami bahwa kekerasan dalam bentuk apapun pada warga sipil adalah salah. Negara harus memahami bahwa suatu kawasan adalah ruang tempat tinggal, sekaligus juga tempat kerja dan tempat melakukan kegiatan-kegiatan sosial termasuk juga bekerja. Di situlah culture hidup.

Jika pemkot Tangerang memang ada maksud baik dan mengerti budaya, maka hal yang harus dilakukan adalah memindahkan warga tanpa menghilangkan hak-haknya akan ruang kultural. Berikan mereka tempat tinggal layak dan juga tempat melakukan pekerjaan.

PM Laksono bilang begini :

Sobat semua,
Hanya satu kata untuk merespon persoalan seperti ini: Lawan!!!!!! Saya kebetulan sudah beberapakali menyaksikan pentas musik gambang kromong mereka dan beberapa kali menonton video komunitas ini. Seharusnya negara pantas berterimakasih atas dedikasi dan kontribusi mereka terhadap kebudayaan kita dengan memperbaiki hunian mereka agar layak tampil di abad ini dan bukan menggusurnya. Banyak cara memecahkan problem arsitektural seperti yang terjadi di sini. Para arsitek pun sudah belajar bersama antropolog memfasilitasi perbaikan pemukiman secara partisipatoris. Mohon teman-teman camkan bahwa keindahan (publik) tidak dapat ditentukan sepihak (oleh pemerintah saja), apalagi menggunakan undang-undang yang embrionya belum ada di abad 18. Kalau tidak salah Ford Foundation bahkan pernah mendukung grup gambang kromong mereka agar terhindar dari kepunahan. Mas Sutamat dari Filsafat/LIPI, saya kira masih aktif bekerja dengan mereka. Saya mau tuh bergabung dengan gerakan para antropolog membela kepentingan para penjaga gawang “benteng kultural” kita di sana.
Salam,
Laksono

Yunita T Winarto juga dukung:

Dear Iwan,

Terima kasih banyak atas breaking newsnya. Wah, betul-betul amat memprihatinkan. Jika memang demikian, saya amat setuju bahwa kita, para antropolog yang mencintai semangat multikulturalisme, berbicara tentang hal itu. Bisakah dicari cara yang ‘elegan’ untuk menyuarakan hal itu? Tentunya perlu dulu dihimpun data lebih banyak tentang hal itu. Bagi mereka yang sempat melakukan browsing atau bisa “lari” ke tempat kejadian untuk menghimpun fakta lebih lanjut mungkin dapat membantu. Setelah itu, mungkin kerabat di media seperti Kompas dapat mengangkat isu itu, sambil mengangkat hasil wawancara dengan sejumlah antropolog yang kalau dapat mewakili berbagai latar belakang ‘etnis’. Rekan kita, Gigin mungkin juga dapat mengundang sejumlah kerabat antropolog untuk ngomong di media Q-TV dan bila perlu: FKAI mengundang suatu press conference bagaimana?

Bu Mely Tan bisa diwawancarai, Melani Budianta juga bisa… lalu antropolog-antropolog lain.

Saya mendukung setiap langkah….
Salam,
Yunita.

Bambang Widianto :

Aku jadi ingat dengan Ali Sadikin, beberapa daerah kumuh tidak digusur tetapi saluran airnya disusun ulang, kemudian kalau gak salah ada rumah susun tanah abang dan kebun kacang untuk kompensasi bagi yang digusur…

Many Black American elders today are still indentifying themselves as negro, census officials said. They just want to be inclusive and the congress agreed a year ago. Is Multiculturalism under threat? What do you think?

negr0

source HERE

© 2011

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache