Category: My essays


Dave-03

Cemas sampai kapan?
Masyarakat Warga Benteng di pinggiran Kali Cisadane Tangerang yang ngotot bertahan dari usaha penggusuran masih hidup dalam kecemasan. Penggusuran pertama tanggal 14 April lalu ditangguhkan sampai tanggal 27 kemarin. Tiap malam warga berjaga-jaga tapi sang Satpol belum datang juga sampai detik ini.

“[We] are still looking for a good time [to do the eviction],” Mulyanto, a top official at the administration’s Public Order Agency, said Tuesday as quoted by tempointeraktif.com.

Terlepas dari banyak kemungkinan:”keberhasilan” mediasi, tekanan LSM, Kampus ataupun instruksi Kapolri, penundaan ini merupakan terror psikologis bagi warga. Jelasnya, penundaan belum dapat diartikan sebagai pembatalan sehingga 350 KK atau sekitar 1007 jiwa di sepanjang 3 kilometer bantaran sungai masih jauh dari tenang.

Ada di mana dunia maya itu?

Kita sudah terlanjur setuju bahwa internet adalah realita alternatif. Dia adalah jagad yang tercipta karena relasi-relasi antar mesin, sebuah dunia dibalik monitor LCD. Dia tidak nyata tapi ada. Cyberspace memang dipopulerkan oleh film fiksi ilmiah ketika komputer tidak lagi berdiri sendiri, tapi menjadi jaringan yang saling terhubungkan. Maka ketika listrik mati, ketika jaringan utama collapse, atau bahkan ketika orang-orang log-off, dunia itu menyempit – bahkan bisa bubar. Maka itu internet identik dengan dunia virtual. Atau sesuatu yang (sebatas) meniru persis dunia dan berfungsi sebagaimana dunia, tapi sesungguhnya “menipu” karena dia bukan dunia. Tapi apakah dunia virtual itu benar-benar berbeda dengan dunia tempat kita bernafas sehari-hari?

Menemukan kembali teater di keseharian kita

 

In every moment the “others” in my life reflect who I am (Deepak Chopra).

Perlu Pemahaman Transnasional

– Iwan Meulia Pirous

WILAYAH perbatasan negara sering kali dibayangkan sebagai area pinggiran yang “asing”. Imajinasi kita tentang perbatasan negara adalah garis merah di atas peta nasional sebelum daerah putih. Garis ini merupakan pinggiran kedaulatan, kawasan frontier yang rentan aktivitas ilegal dan penyusupan paham-paham asing.

 

Wokbolic “minder wardeg”

Dalam sebuah konferensi TI Asia Pasifik 12-14 Juni 2009 di Penang, teknologi wajanbolic yang merupakan parabola dari wajan masak mendapatkan “paten” sebagai khas Indonesia hasil dari pemanfaatan kreatif “kearifan lokal” dapur yg sangat murah. Para peserta konferensi internasional itu pada kagum berat. Tapi kemudian istilah lokal tersebut jadi persoalan dan diganti seperti dimuat di detik.com :

Tentunya akan aneh di luar negeri jika kita menggunakan istilah ‘wajanbolic’ untuk antena parabola buatan Pak Gunadi karena ‘wajan’ adalah bukan bahasa Inggris. Akhirnya, digunakan istilah ‘Wokbolic’ sebagai pengganti ‘Wajanbolic’ dalam bahasa Inggris. Terdengar aneh memang, namun memang begitulah adanya. ‘Wok’ adalah ‘Wajan’ dalam bahasa Inggris. Barangkali ini merupakan kontribusi bangsa Indonesia kepada bahasa Inggris dan dunia internasional.

Indonesia: Sour Sally dan Saur Sepuh

saur-sepuh1Tutup mata dan bayangkanlah visualisasi Indonesia. Apa yang tergambar? Batik, Borobudur? Pohon Kelapa? Perempuan coklat? Saur Sepuh? Sekarang buka lagi mata dan tutup lagi: Mall? Fastfood? Bioskop 21? Blackberry? Sour Sally?

Sulit mendapatkan gambaran utuh sintesa masa lalu dan masa kini dalam visualisasi Indonesia demi sebuah national cultural branding. Adakah tipografi yang khas Indonesia? Ornamen? Suara? Bau?

Keindonesiaan selamanya obsesif dan sugestif. Kita merasa tidak punya dan terus mencarinya, tapi kita juga sangat yakin itu ada. Sesuatu yang sangat Indonesia seperti merah putih, garuda yang jelas nongkrong secara resmi adalah identitas formal. Katakanlah konsensus. Tapi kering. Garuda tidak pernah muncul kecuali dibingkai kaca, merah putih terlalu sakral untuk jadi Tshirt-funkee, Indonesia Raya tidak boleh diubah aransemennya, Borobudur, ah cukup Indonesiakah itu? Walau Kecap Borobudur sangat Indonesia banget termasuk Bango, Merak, Udang Sari.

Buku kontroversial Ilusi Negara Islam yang ditulis oleh tim LibForAll Foundation berdasarkan studi dokumen dan wawancara mendalam isinya adalah kekhawatiran akan Wahabisme Global, suatu pandangan garis keras dalam memahami ajaran Islam berdasarkan penerjemahan literer Al-Qur’an. Wahabisme berupa “purifikasi ekstrem” yang tadinya minoritas, kemudian menjadi tafsiran nasional di Kerajaan Saudi Arabia semenjak 1920-an (400 ribu muslim dibunuh, dieksekusi publik, diamputasi, termasuk wanita dan anak-anak hal. 76).

Di Nusantara, infiltrasi garis keras paling awal mulai dari Gerakan Padri di Sumatera Barat awal abad-19. Mereka militan dan sampai membunuh keluarga bangsawan yang sebenarnya telah memeluk Islam dari abad ke-16 dengan alasan mereka kafir (hal. 76, 96). Yang menarik buat saya, peristiwa terjadinya kekerasan politik Wahabi awal di Saudi Arabia dan di Minangkabau kira2 waktunya barengan awal abad ke-19. Waduh Globalisasi dan radikalisme-terorisme adalah kenyataan pra-modern industrial juga.

bosan ekonomisasi agama..

Tahun ’90-an. Saya pernah membeli barang2 kelontong di toko yang dikelola Darul Arqam Depok dulu banget. Dilayani perempuan bertutup lengkap kain hitam kecuali di bagian mata aja. Uang pas tidak ada, maka pembayaran dengan uang besar. Sewaktu saya hendak mengambil kembalian receh dari tangan penjual, tiba-tiba dia kaget terus uangnya dilempar sehingga bersebaran lah di lantai. Suaranya: “Grompyang kleneng ting ting..!!!” Matanya,cuma matanya yang saya bisa lihat, sepertinya marah.

Kemudian senyap.
Jantung rasanya berhenti. Campuran antara kaget, marah, malu.

Saat itu saya merasa seperti orang difitnah lepra dengan jari putus-putus kehitaman menjijikan. Terus-terang saya tersinggung.

Ki Hadjar dan Kidzania

page 33Pola “Banking Education” dianggap sebagai pola pendidikan ideal semenjak masa kolonial. Dari kecil kita diajari banyak hal di sekolah. Otak yang “kosong” ini diisi terus oleh orang-orang dewasa: guru-guru kita sendiri, agar mejadi “mereka”. Di tengah kebutuhan standar global, sekolah menjadi mentereng mahal, prestisius dan menampung kelas ekonomi mampu agar menjadi “aktor global keren”.

Paulo Freire sudah mengingatkan sejak tahun 1970-an bahwa dunia pendidikan tidak pernah memberikan otonomi bagi anak. Tujuan pendidikan sudah melenceng dari kebutuhan menciptakan generasi kreatif, bahagia, dan bermental bebas menjadi seperangkat metode menciptakan buruh-buruh industri siap kerja dalam sebuah kelas stagnan.

Quo-vadis Asosiasi Antropologi?

Asosiasi profesi bagi antropolog di Indonesia ada tapi absen 15 tahun lebih. Munculnya asosiasi-asosiasi keilmuan sosial-budaya seperti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), dan Asosiasi Prehistori Indonesia (API) adalah fenomena Indonesia 70-80-an.

Posisi asosiasi profesi ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan membentuk kekuatan dalam zeitgeist Orde Baru. Peran besar dalam pembangunan adalah tiket untuk mencapai kekuasaan dan pengakuan negara. Antropologi dan asosiasinya saya duga demikian juga. Antropologi Indonesia tahun 80-an mengusung wajah pembangunanisme yang kental, yakni bagaimana universitas dan awaknya harus bersanding dengan negara dalam merencanakan dan mengevaluasi pembangunan. Tidak ada yang salah dengan ini. Hanya saja pada masa 90-an akhir, masalah pembangunanisme sudah kehabisan modal dan kehilangan kredibelitas. Apa yang lebih diperlukan seterusnya adalah sebuah asosiasi keilmuan untuk menguatkan daya kritik terhadap pembangunan itu sendiri.

Powered by WordPress | Theme: Motion by 85ideas.

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache