Buku itu saling berebut pamor di etalase. Mereka bicara satu sama lain, dalam suara tidak terdengar tentang kita. Sementara saya hanya menganggapnya kumpulan teks yang kita cari bilamana perlu, misalnya untuk kado ulangtahun. Atau pelengkap perhiasan rumah. Sementara kamu, selalu memburuku agar mengerti bahwa tiap buku merekam jauh dari apa yang ditulisnya dan dituliskan tentangnya. Karena mereka menulis tentang dirimu.
-
Recent entries
- Meneropong Keindonesiaan dalam Kepapuaan: Menuju Dialog untuk Memutus Siklus Konflik dan Kekerasan di Papua
- Siaran Pers: Perspektif Antropologi melihat Kapitalisasi dan Kekerasan Papua
- Saatnya Memahami Batas Lunak Indonesia Malaysia
- #Aksimassa
- Antara 17 dan 18 yang Membadai
- kebudayaan dan kognisi ujian akhir
- seketika
- Kabinet Twitter Republik Indonesia
- The Social Network
- Dari Yando Zakaria: Bantuan: Wasior, Mentawai, Merapi salurkan disini:
-
Browse popular tags
asosiasi antropologi indonesia Ben Anderson Benteng Clifford Geertz Dewantara ethnography Gunder-Frank Huntington identitas Indiana Jones keindonesiaan kristen malaysia Marx megawati museum Orde Baru Paulo Freire pembangunan rekacipta relasi sosial say no social progress soetigna stereotype teknologi thick description Tionghoa tsunami Wallerstein -
Meta


