Archive for July, 2010


Antropologi , Pendidikan dan Karakter Bangsa
Pembicara: Prof. Dr. Sri Ahimsa Putra dan Teuku Kemal Pasya, MA
Moderator: R. Yando Zakaria | Perumus: Iwan Meulia Pirous

Studi-studi tentang budaya dan kepribadian berkembang dalam disiplin antropologi untuk mencari watak khas etnis dan juga bangsa.Tapi perkembangannya lambat dan problematik. Bagaimana memetakan keanekaragaman kepribadian 800 etnis, kecuali dengan membangun mitos hasil abstraksi tentang kepribadian?

Ciri khas menarik tentang “watak Indonesia” dapat dilihat dari ciri-ciri kebudayaan-kebudayaan etnis yang digali dari berbagai etnografi yaitu keterbukaan terhadap pengaruh asing yang dijadikan milik sendiri. Ada unsur sinkretisme dan akulturasi yang dianggap wajar. Tapi benarkah demikian?

Karakter bangsa adalah sesuatu yang kabur, mitos dan selalu dicari wajah jelasnya di tiap zaman. Perdebatan keindonesiaan di Indonesia dalam wacana tercatat bertahap. Episode pertama: Perdebatan Keindonesaan pertama: Polemik Kebudajaan (1930an) tentang wajah Barat vs Timur. Episode kedua: Episode kedua: Mochtar Lubis Manusia Indonesia yang merupakan otokritik pedas tentang kemunafikan orang Indonesia. Episode ketiga: Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Masa pasca reformasi adalah episode keempat, segala wacana yang pernah ada nampak hancur dan sentimen keindonesiaan untuk solidaritas masuk dalam titik nadir terendah.

Konstitusi Indonesia dengan jelas menekankan bahwa pluralitas adalah hal alami bagi karakter Indonesia yang demokratis. Hak warganegara termasuk hak kultural dan akses terhadap pendidikan dilindungi sebagai tanggungjawab sosial negara terhadap warga.
Tapi, dalam praktiknya, prinsip-prinsip demokratis tidak ditanamkan melalui sistem pendidikan. Dalam kenyataan, pendidikan belum jadi instrumen pembangunan kebudayaan nasional. Dialog inter-kultural, pengakuan terhadap perbedaan dan penguatan hubungan-hubungan sosial semakin absen.

Sistem pendidikan saat ini berorientasi pada pencapaian standar angka yang individual terlebih dengan masuknya kapitalisme mutakhir. Kompetensi yang ditawarkan dalam pendidikan sangat individual, tidak bersifat komunal. Pendidikan yang seharusnya memperkuat relasi sosial yang diambil dari unsur-unsur sangat lokal telah berubah menjadi penguatan individual. Pendidikan di Indonesia sangat tidak demokratis. Konsep demokratisasi justru dimatikan oleh pendidikan itu sendiri.
Apa yang harus dilakukan ke depan

Antropologi harus kritis. Antropolog bisa menginventarisasi arena sosial seperti apa utk pendidikan kita? Kita perlu peka terhadap variasi budaya dan pemetaan terhadap arena sosial. Sekolah hanya satu komponen saja, sementara sosialisasi “kongkret” berlangsung di ruang publik yang berperan dalam pendidikan. Pertanyaan antropologis dan pendidikan antropologi macam apa yang harus kita ajukan agar kita mengerti? Antropologi memang perlu berkontribusi, tapi kontribusi dalam bentuk seperti apa yang dibutuhkan sekarang?

SEKIAN.

01IMG 6829

resume Seminar Antropologi Terapan:

Re-Invensi Antropologi Indonesia di Era Demokrasi dan Globalisasi 22 Juli 2010

Sejauh mana Re-invensi Antropologi?

Dari tujuh tema yaitu:
1. Pembangunan Hukum di Indonesia
2. Otonomi Lokal dan Ketahanan Nasional
3. Antropologi, Pendidikan, dan Karakter Bangsa
4. Agama, Etnisitas dan Multikulturalisme
5. Gender, dan Migrasi Global
6. Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat
7. Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam

Kita dapat menemukan kegelisahan akademik teman-teman dalam menggeluti fenomena kehidupan yang terjadi dalam kapasitas sebagai antropolog. Wacana yang berkembang dalam makalah dan diskusi menggambarkan adanya friksi yang semakin keras di antara kelompok sipil, negara, adat, kepentingan bisnis dalam memperebutkan dan menguasai sumberdaya. Friksi ini diperkirakan semakin mengeras dan mengakibatkan yang menunjukkan krisis yang meluas dalam kehidupan masyarakat kita.

Juga kita melihat betapa landscape etnografis kita telah menjelma menjadi semakin kaya dan memperlihatkan ciri khas: migrasi intensif dan ekstensif, menguatnya kapitalisme mutakhir, pengentalan dan resistensi identitas, adanya pertentangan kelas sosial yang semakin terbuka, intervensi negara, parpol, dan organisasi non-pemerintah.

Ada kegalauan dalam hal bentuk kontribusi yang tepat sebagai antropolog. Antropologi memang perlu berkontribusi, tapi kontribusi dalam bentuk seperti apa yang dibutuhkan sekarang? Antropolog memang dituntut untuk pandai membaca masyarakat, tapi apakah kita sudah membaca dengan benar? Kegalauan ini menuntut kita untuk mengkritik diri.

Dalam berbagai tema yang disajikan terlihat adanya gairah kawan-kawan untuk tanpa tanggung-tanggung terjun menjadi intelektual yang memfasilitasi dan mengadvokasi pemberdayaan komunitas. Di sisi lain, berpikir diluar kotak-kotak ideologis keilmiahan kita tidak mudah, dan masih saja kita terjebak dalam cara-cara yang pernah kita pikir tepat, sesungguhnya merupakan daur ulang periode sebelumnya.
Dalam dua hari perdebatan, ada tiga peta yang hadir:

  1. Wacana esensialis tentang karakter budaya ideal, kearifan lokal, sebagai suatu yang menjadi titik sentral bergerak sebagai antropolog.
  2. Wacana dialogis tentang hubungan inter-kultural, antar-perbedaan, dan pentingnya hak-hak berbudaya sebagai titik sentral antropolog.
  3. Wacana aktivisme yang membumikan teori-teori menjadi akal sehat untuk untuk melakukan transformasi sosial.

Langkah ke depan
Reinvensi antropologi saat ini adalah membuatnya menjadi lebih kritikal termasuk mampu untuk lebih memberdayakan diri sendiri dan orang lain. Antropologi ditantang bukan berdebat-tulis, tapi menulis utk menimbulkan aksi. Antropologi punya kesempatan untuk melakukan ruang sadar diri dengan melakukan refleksi.

Kita perlu lebih sering duduk bersama dan saling berbagi pengalaman dengan suasana terbuka dan siap menerima kritik dari orang lain.
Perlu memilih paradigma (teori dan metodologi) karena akan berkonsekuensi pada posisi antropolog dalam profesi dan komunitasnya. Pilih dulu posisi paradigma, baru kemudian kerja.

Antropologi punya kemampuan spesial memahami diferensiasi, tapi ini tidak akan ada manfaatnya kalau kita tidak dapat menempatkan diri dalam dinamika keberagaman yang kita hadapi sebagai kegiatan reflektif yang harus dilakukan terus-menerus.

Cisarua, 22 Juli 2010

Tim Perumus Seminar Antropologi Terapan “Antropologi dalam Lintasan Pembangunan Indonesia”, Seminar Nasional Antropologi 2010

Ketua Perumus: Iwan Tjitradjaja

Anggota Perumus:

- Ruddy Agusyanto
- Yulizar Syafri
- Iwan Pirous
- Irwan Martua
- Haswinar Arifin
- Nursyirwan Effendi
- Fikarwin Zuska

View full article »

© 2012

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache