Archive for October, 2009


 

TKI di Malaysia Unjuk Rasa Protes LSM Indonesia (ANTARANEWS 12 Oktober 2009)

 

Dalam demo itu, para TKI yang bekerja di sektor pertanian, konstruksi, dan pembantu rumah di sekitar Cameron Highlands, membawa pamflet yang di antaranya bertuliskan, “Kami Aman di Malaysia”, “Terima Kasih Pahang & Malaysia”, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan NTR (Najib Tun Razak) pemimpin terbaik”. Para TKI itu menyesalkan sebagian rakyat Indonesia yang kurang menerima penjelasan mengenai isu tari Pendet Bali hingga menimbulkan sentimen anti-Malaysia.

Belakangan ini aksi organisasi2 pembenci Malaysia di tanah air memang makin marak marah-marahnya. Sudah buka posko, pasang poster, dan menerima pendaftaran relawan-relawan (mencapai 1500) yang siap dikirim menghancurkan musuh (dan rela pulang dalam bodybag). Dendam kesumat warga Indonesia ini adalah sentimen kolektif yang menyebar dan berbuah “pengorganisasian patriotisme” dalam bentuk rencana penggalangan massa untuk invasi Kuala Lumpur. Tapi, mengapa justru TKI yang rencananya kita bela dengan nyawa itu malah sewot? Ada apa?

 

Ada dua kemungkinan yang bisa menjelaskan.

Pertama: orang Indonesia menganggap bahwa budaya itu properti material. Ketika pendet diaku sebagai milik Malaysia maka kita bayangkan persoalan copyright, hak paten, hak properti intelektual yang tak pernah diurus negara bagi properti budaya. Wacana yang berkembang kemudian adalah pencurian budaya. Tapi apakah budaya bisa dicuri? Di sini kita marah dan terpicu sentimen nasionalisme-nya. Alih-alih ingin menegakkan harga diri, sebetulnya yang diharapkan para relawan anti-Malaysia adalah kebijakan negara Indonesia yang membuat semua budaya menjadi properti ekonomi dalam paradigma kapitalisme. Dalam sistem ini, segala hal bisa dibuat menjadi komoditas, di-objektivisasikan, diberi harga dan dilindungi hukum berupa sanksi pelanggaran terharap pencurian. Menempatkan budaya sebagai komoditas itu sama dengan menyamakannya dengan minyak bumi, ikan, dan hasil-hasil bumi lainnya. Tegasnya, budaya diturunkan derajatnya jadi sekedar materi

Kedua: orang Indonesia (di negeri sendiri) menganggap bahwa fasisme dan rasisme adalah ideologi yang tepat. Ini adalah sikap bangsa yang cenderung xenophobia. Kita ingin menjadi bangsa besar yang naik panggung sendirian. Bangsa terbaik dari segala bangsa. Bangsa paling berkualitas. Oleh karena itu purifikasi sangat penting dimana segala hal menyangkut “ini milik kita” dan “ini milik mereka” harus sejelas perbedaan hitam dan putih. Pelanggaran terhadap hal ini artinya baku-hantam. Sejarah peradaban dan studi antropologis justru menunjukkan bahwa purifikasi budaya adalah obsesi para utopis yang kalaupun terjadi akan bersifat sangat artifisial, mematikan kreativitas, memiskinkan dialog dan melahirkan tindakan-tindakah khas orang kalah: radikalisme, genosida, fanatisme, dan terorisme.

Gabungan dari dua kecenderungan diatas sangat relevan dengan skema-skema neo-liberalisme. Memetakan semua hal menjadi komoditas sumberdaya yang harus direbut, dijaga, diakumulasikan dan dihitung seperti kapital ekonomi bertaruh nyawa. Inilah strategi ekonomi dunia sekarang yang menempatkan segala ruang sebagai arena gladiator ekonomi. Bagi saya hal ini sangat mengkhawatirkan, menjijikan dan patut dikasihani.

Apa yang krusial dilupakan oleh para relawan yang siap pulang dalam body-bag itu adalah kemampuan budaya sebagai alat diplomasi dan dialog yang terbukti dalam sejarah peradaban. Seharusnya, semakin tersebar sebuah unsur kultural, maka semakin terujilah kemampuan diplomatisnya sebagai bahasa yang menjembatani banyak perbedaan. Bagi saya, seharusnya kita bangga dan sangat bangga jika unsur budaya Indonesia bukan hanya dipakai tapi diakui negara lain. Sebab segala hal kultural bergerak bersama dengan dengan dinamika manusianya. Melalui perantau, para migran, musafir, kolonialisme, dan kaum diaspora dimanapun dimuka bumi budaya berkembang, menyebar dan meresap ke dalam berbagai lokalitas di berbagai tempat menjadi budaya setempat. Masalah pengakuan tidak dapat diterjemahkan sebagai tindak pencurian, sebab tidak ada sama-sekali kerugiannya. Kontribusi kultural Indonesia jauh lebih penting daripada menempatkan properti budaya sebagai fosil yang dikultuskan.. sebagai magnet bercahaya bagi turis (yang bawa duit?).

suka atau tidak, (Retro) Ganyang Malaysia adalah sakit hati khas para NeoLib.. yang anehnya teriak-teriak anti Neo-Lib.

 

Aku ingin main gitar berjam-jam sampai senar yang perih terhapus oleh bahagia aneh seperti berada di antara surga dan neraka, dan menghentikannya adalah kematian.

Aku ingin bernyanyi tentang perasaan marah yang tersembunyi dengan nada-nada manis yang menyiratkan temaramnya senja sehingga tenagaku habis dan berakhir dengan mantra-mantra kesumat cinta.

Aku ingin menciptakan lagu yang sejujur celoteh bayi dan semerdu tangisan laparnya sehingga tidak lagi membutuhkan nada, lirik dan alat musik.

Aku ingin bertemu kakekku di djl. Mangga 30, yang tak marah ketika aku mencuri main biolanya. Dia malah mengajariku “Burung Hantu”.

Aku ingin menyiapkan makan malam untuk orang-orang tercinta karena aku rindu dengan sisi keibuanku yang belepotan bumbu, dan terutama karena jadi lelaki ternyata membosankan.

Aku ingin menulis puisi dengan kata-kata yang terlalu sering diucapkan sehingga tidak punya efek sastra kecuali perasaan mual bagaikan mengulum satu lolipop bekas seribu mulut.

Aku ingin berada di pinggir jendela beku yang dingin putih sampai horizon, lalu kehangatan hanyalah mata basah dan telinga rindu dibakar oleh lagu-lagu Ibu Soed.

Aku ingin meneguk sebotol Corona sekaligus sampai tumpah membasahi dasi dan kemeja seperti ketika aku lulus skripsi di siang hari bolong.

Aku ingin duduk kembali di pinggir sungai yang namanya selalu salah dieja, yang begitu indah dan jernih dan percikannya meluruhkan beberapa kata dalam catatan harian.

Oh ya, aku ingin punya anak perempuan yang rambutnya ikal dan dia suka naik pohon.

Hari ini aku tidak produktif, malas mengajar, terlalu banyak kolesterol, bosan membaca, dan seperti biasa bertemu dengan orang-orang yang berharap banyak. Konsultasi, menyiapkan silabus ancangan aplikasi, mimpin diskusi, bicara di depan kelas seperti boneka tolol.

 

27 Sep. 05

© 2012

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache