In every moment the “others” in my life reflect who I am (Deepak Chopra).

Pengalaman Teater Modern kita
Kata teater dalam perbendaharaan olah seni pertunjukan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengalaman kemoderenan bangsa ini. Modus berpikir tentang makna kemoderenan di seluruh dunia pasca perang adalah berpikir rasional, progresif, efisiensi, objektivikasi, dan ekonomisasi yang diadopsi dengan sukarela dengan keyakinan penuh sekaligus harapan. Keperluan cepat untuk mengisi identitas modern diatasi dengan menyuntikkan filosofi generik modernisme sebagai modernisasi di berbagai sektor kehidupan bagaikan nafas yang memberi hidup. Secara konseptual, pengalaman kemoderenan adalah sesuatu yang menagasikan pengalaman tradisional. Sebagaimana di lapangan seni formal lain seperti seni rupa, keindonesiaan modern diterjemahkan dalam bentuk teater melalui bahasa kurikulum generik yang membentuk pemahaman kita tentang esensi teater yang sejati melalui dikotomi klasik antara modern dan tradisional bagaikan iya dan tidak. Karakteristik estetika formal yang dilabelkan menjadi teater modern yang berbahasa dan berkurikulum “universal” sudah dimulai pada masa ATNI yang melahirkan tokoh-tokohnya seperti Usmar Ismail, Asrul Sani, dan kelanjutannya yang kemudian menjadi pendiri kelompok-kelompok teater mainstream di Indonesia seperti Teater Populer, Teater Lembaga, Teater Koma, Studiklub Teater Bandung, Teater Kecil. Intelektualitas yang dibangun dari pengalaman akademik seni yang mengutamakan skenario baku, rigiditas, metode latihan menjadi pola umum bagi teater dengan identitas modern ini (Dahana, 2007: 19). Melihat sejarah teater kita, maka teater modern Indonesia adalah kulminasi pengalaman bangsa lain yang kita adopsi dan masuk dalam kehidupan modern berteater kita sekarang. Berbagai saduran teater yang kita tonton dari kelompok-kelompok di atas menyajikan tokoh-tokoh yang diturunkan dari dunia lain. Masih lekat dalam ingatan saya ketika masih SMP diajak menonton Teater STB dengan lakon King Lear di gedung teater Rumentang Siang Bandung (bekas bioskop Rivoli) belakang Pasar Kosambi yang kumuh. Sebuah penerjemahan yang sangat asing.

Modernitas harus terus kontekstual
Maka menarik untuk bertanya pengalaman apa yang terbentuk dalam kepala penonton ketika menyaksikan teater? Atau persisnya apa yang terjadi dalam pikiran orang-orang biasa yang menyemut memenuhi gedung? Apakah berupa sederet informasi baru dari beberapa potongan dialog atau kumpulan “kutipan” yang begitu berkesan? Atau suatu kenikmatan akan berbagai efek dari narasi-narasi yang lebih banyak terdengar daripada tercerna? Atau perubahan transformatif yang memberikan pengalaman-pengalaman baru dari sebuah pertunjukan sehingga dirinya merasa tercerahkan, teremansipasi dan terwakili? Tentu teater tetap merupakan sesuatu yang serius. Tapi apakah kita dapat serius pula belajar daripadanya? Siapakah kita dalam pengertian dunia teater ini?
Bagi kalangan awam, teater adalah dunia yang (sangat) serius. Mendengar nama teater kita membayangkan sebuah organisasi dengan pembagian kerja yang meliputi sutradara, pemain, pekerja-pekerja belakang panggung. Juga naskah, panggung, make up, kostum, lampu, musik, dan kalau perlu katalog. Keseriusan teater juga terasa dari suguhannya. Teater selalu dibayangkan dalam suasana formal dan intelektual. Ceritanya tidak boleh biasa, bertuturnya tidak biasa, pemilihan bahasa tuturnya pun menggunakan strategi-strategi untuk menyampaikan hal-hal simbolik dengan retorika yang artistik dan puitis. Maka Ia dibayangkan sebagai pertunjukkan drama dalam pengertian emosional, sentimentil, dengan dialog-dialog yang dituturkan dengan volume suara yang magis. Jangankan ketika berbicara tegas, ketika berbisik pun sang aktor mampu menghipnotis penonton sampai baris kursi belakang. Keterampilan pemain, ditopang kedahsyatan naskah dan arahan sutradara, akan membangun suasana mencekam yang fokus.
Pengalaman kemoderenan terkait dengan definisi modernisme itu sendiri. Dalam konteks Eropa, kemoderenan adalah akumulasi pengalaman dan kesejarahan, termasuk mitos dan memori publik dari masa Yunani, Romawi, Rennaissance, sampai Modernisme yang telah mengambil jalan esensial mengedepankan rasionalitas, teknologi, dan objektivitas. Maka apapun yang berdiri di seberang rasio, teknologi dan naluri saintifik tidak masuk dalam golongan modern. Sehingga dalam usaha berteater, kemoderenan Indonesia diciptakan dengan cara menghadirkan tipikal teater Eropa dalam kehidupan berkesenian kita, termasuk kostum, lakon, bahkan gedung berakustik baik, penonton yang menduduki kursi, serta panggung yang berjarak menciptakan keagungan. Tapi kemoderenan merupakan kata yang cair dan mencari akar. Jika para tokoh pendahulu seperti Suyatna Anirun menjadi King Lear dengan berusaha meresapkan kesedihan dan kemarahan sang Raja dengan memukau sebagai suatu pencapaian esensial yang akan ditemukan oleh para pemeran King Lear yang berpengalaman di seluruh dunia, maka ekspresi teater-teater yang lebih baru seperti Teater Koma dan Gandrik merasakan kegelisahan untuk terus mencari mana nilai keindonesiaan. Dalam konteks mencari Indonesia, kemoderenan berarti melepaskan identitas lama yang terbelenggu universalisme hegemoni teater modern. Tentunya pemaknaan terhadap kemoderenan yang dibentuk oleh memori publik, kesejarahan, tragedi, proklamasi, revolusi sampai elemen budaya lokal sebagai adonan yang khas. Dimasukkannya elemen-elemen yang sudah dikenal sebagai bagian dari tradisi lokal dalam teater formal adalah suatu jalan mencari identitas yang lebih membumi.
Belajar dari penelitian James Peacock dalam The Rites of Modernization (1968, 1987) kita melihat bahwa teater tradisional dalam kasus ludruk justru sangat merespons geliat modernisasi. Alam tradisi yang dibayangkan mandeg dalam drama ludruk menjadi alat perjuangan kelas yang menawarkan simbol-simbol yang menjembatani alam tradisi ke alam modern. Kisah-kisah ludruk yang khas di masa itu seperti tentang Tuan tanah yang lalim, suami yang meninggalkan istri di desa dan tersesat dalam dunia hedonistik, tak hanya sekedar sebagai alat propaganda partai kiri tapi juga membawa isu yang lebih besar dan universal seperti perasaan solidaritas tentang kebangsaan dan keadilan. Menonton teater ludruk adalah berkaca tentang diri sendiri sebagai penonton yang merasa terwakili. Apalagi kelompok-kelompok ludruk yang ditulis dalam etnografi Peacock benar-benar sadar bahwa penonton sangat menunggu-nunggu mereka untuk membawakan kisah-kisah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari yang membumi. Terlepas dari kenyataan bahwa teater ludruk merupakan “anomali” dalam historiografi formal teater modern, fungsi teatrikal-nya berperan dalam transformasi sosial masyarakat yang sedang mencari identitasnya sebagai bangsa. Sehingga dalam konteks waktu 1960-an, bisa kita katakan bahwa ludruk merupakan teater yang sangat modern untuk zamannya.
Kembali pada persoalan sekarang. Apakah persoalan identitas teater saat ini selesai dengan membawa semangat dialog tradisional yang dianggap membawa kearifan? Saya pikir kearifan tidak harus terkait dengan nilai-nilai tradisi dan persoalannya lebih pelik dari sekedar kearifan. Tradisi dan modernisasi hanyalah dua label yang bekerja pada saat yang bersamaan. Ketika sebuah ekspresi yang kita rasakan sangat modern dapat bertahan dengan panjang, dapat selalu dimainkan dan diperdengarkan, maka dia perlahan menjadi tradisi yang dipahami bersama. Sebaliknya, tradisi yang selalu kita bayangkan sebagai hal-hal yang menyangkut dengan sejarah masa lalu yang arif, penuh dengan simbol pengetahuan lokal yang baik juga mengalami kontekstualisasi yang aktif. Tapi sayangnya hanya kacamata antropologis yang dapat mengerti hal ini. Misalnya dalam urusan ketoprak atau wayang. Bagi orang Sunda atau Jawa, jelas bahwa pertunjukkan itu bersifat realis yang dekat dengan kenyataan sehari-hari mereka, namun bagi kacamata kritik seni formal, karya yang dimaknai secara realis itu masuk dalam kategori surealis. Sementara ketika teater kita menyajikan mencoba menyajikan hal surealis, justru malah dianggap sebagai epigon yang tidak orisinal. Maka dengan barometer Stanislavskian atau Shakespearian, kita tidak pernah benar-benar merasa memiliki tradisi realis ataupun surealis. Justru kita harus belajar pada semangat teater-teater tradisi seperti Ketoprak, Ludruk, yang rata-rata selalu penuh (dengan kapasitas penonton secukupnya, tapi penuh).

Adanya Stereotipe Teater
Masalah yang sesungguhnya menghadang teater kita baik yang tradisional maupun yang modern adalah stereotipe-stereotip yang direproduksi terus menerus dan susah untuk dibongkar. Meminjam apa yang dipikirkan Afrizal Malna dalam “Tubuh Tari dan Tubuh Teater Masa Kini”, teater menjebak subjek-subjeknya dalam kategori-kategori yang stagnan. Dalam kasus tari, misalnya sanggar-sanggar tari telah melakukan apa yang disebut sebagai “salonisasi tradisi”. Tradisi menjadi beku dan formal serta mengerucut menjadi gerak-gerak yang harus dihafalkan selayaknya koreografi. Tari tidak lagi milik penari yang sedang melakukan pertunjukkan, tapi menjadi kumpulan hafalan-hafalan yang harus ditiru dan dipertahankan estetika etnisnya. Kita melihat perhiasan yang berlebihan dan tubuh-tubuh yang semakin dipersolek sehingga menjadi sangat rupawan. Tradisi dianggap identik dengan penampilan etnis yang terlalu dekoratif. Padahal tari berfungsi secara kultural untuk menyampaikan pesan-pesan kultural dengan intensif melalui performance gerak yang sangat personal (Malna, 2007:11). Saya pikir teater bisa jadi mendapatkan ancaman yang sama juga. Terjebak oleh pakemnya sendiri sehingga berteater berarti menyuguhkan penonton performance yang ekstrem. Kata Afrizal, tubuh aktor bekerja dengan memori untuk memasuki peran. Ketika memori dipenuhi dengan stereotip maka yang terjadi adalah beban-beban yang berlebihan dari gerak tubuh, penghayatan peran yang jangan-jangan membuat teater semakin jauh dari usaha-usaha menyampaikan pesan sebab terlalu sibuk dengan strategi cara-cara memerankan bagi tiap pemainnya.
Apa yang perlu kita lihat sebagai krisis adalah ketika kapitalisme berhasil menciptakan selera-selera yang menempatkan segala urusan teater dan hal-hal kultural lainnya merosot menjadi komoditas. Teater menjadi sarat beban pagelaran sehingga berlangsung secara besar-besaran. Pencapaian artistik pagelarannya menjadi sangat maksimal dan kita tidak bisa membedakan mana pentas musik, mana pentas tari, dan mana pentas teater. Eksplorasi tingkat tinggi yang memang menjadi kunci kreativitas menjadi harus diungkapkan dengan mementingkan media keindahan dan efek-efek buatan secara maksimal daripada (sekali lagi) pesan-pesan yang ingin ditampilkan. Jadi jika pertanyaannya adalah bagaimana strategi kita dalam mencari bahasa baru yang kontekstual untuk zaman sekarang? Saya lebih melihat bahwa kita mengalami kelebihan bahasa, tapi belum mampu mengolahnya dengan baik dan komunikatif. Perlu adanya usaha-usaha insan teater untuk justru kembali ke kesederhanaan dengan melihat kembali siapakah dirinya (self) sebagai subjek yang merdeka. Lalu apa yang bisa dilakukan melalui teater pada masyarakat sekitar sehingga mereka bisa menemukan jati diri lewat dunia teater dan merasa bagian dari teater yang ditontonnya. Sering saya membayangkan apakah para tukang makanan di sekitar TIM dapat turut serta mengalami transformasi atau penyadaran diri melalui banyak masterpiece yang diciptakan institusi itu? Dengan teater saya ingin menemukan diri saya dari kursi penonton daripada terjebak dengan efek teatrikal yang sulit saya bawa pulang kecuali sebuah kesenangan sehabis menonton pertunjukkan.

Jakarta, 2 September 2009