Archive for June, 2009


Dalam sebuah konferensi TI Asia Pasifik 12-14 Juni 2009 di Penang, teknologi wajanbolic yang merupakan parabola dari wajan masak mendapatkan “paten” sebagai khas Indonesia hasil dari pemanfaatan kreatif “kearifan lokal” dapur yg sangat murah. Para peserta konferensi internasional itu pada kagum berat. Tapi kemudian istilah lokal tersebut jadi persoalan dan diganti seperti dimuat di detik.com :

Tentunya akan aneh di luar negeri jika kita menggunakan istilah ‘wajanbolic’ untuk antena parabola buatan Pak Gunadi karena ‘wajan’ adalah bukan bahasa Inggris. Akhirnya, digunakan istilah ‘Wokbolic’ sebagai pengganti ‘Wajanbolic’ dalam bahasa Inggris. Terdengar aneh memang, namun memang begitulah adanya. ‘Wok’ adalah ‘Wajan’ dalam bahasa Inggris. Barangkali ini merupakan kontribusi bangsa Indonesia kepada bahasa Inggris dan dunia internasional.

Saya yang mulanya bangga jadi merasa sebal. Mengapa penemuan lokal yang sudah berhasil merakyat dengan istilah lokal, populer, dan sangat ngindonesia itu justru harus dialihbahasakan lagi ke dalam bahasa yang lebih ramah bagi dunia TI internasional yaitu wok-bolic? Para Bapak-bapak ahli TI dari Indonesia yang hadir di acara itu manggut-manggut bertambah bangga sementara saya merasa masygul.

Mempertahankan kelokalan dalam iklim global adalah harus

Ilustrasi kecil. Dalam dunia operating sistem “kode terbuka” Linux dan variannya, kita tentu pernah mendengar distro Ubuntu yang sangat populer dan malah jadi yang terbaik dan meraih jumlah pengguna terbanyak. Siapapun yang menggunakan Ubuntu Linux dapat menonton sedikit video tentang istilah itu dalam DVD-nya. Tidak tanggung-tanggung, Nelson Mandela sendiri yang menjelaskan apa itu artinya Ubuntu sebagai konsep tradisional Afrika yang berasal dari Bahasa Bantu, yang kurang lebih bermakna ‘I am what I am because of who we all are’. Atau dalam pengertian lain “berbuat baiklah sebanyaknya pada orang-orang sekitar kita dan di situlah makna hidup kita”. Maksud saya, jangankan sebuah kata, sebuah konsep lokal pun punya hak untuk disuarakan secara utuh kepenjuru dunia global tanpa malu kehilangan maknanya.

Wajanbolic mungkin tidak sefilosofis Ubuntu. Dan ketika kini namanya menjadi wokbolic, yang tersisa adalah gambaran tentang bangsa sendiri, yang khawatir akan generasi mudanya yang menjadi kebarat-baratan namun pada saat yang sama terlalu cepat bangga dengan “inggris-sisasi” di segala bidang. Dua hal yang sangat bertolak belakang itu menjadi bagian laten identitas keindonesiaan kita.

Istilah-istilah non-inggris seperti Wok yang kurang lebih artinya alat masak juga diimpor dari bahasa Cina, dan telah masuk dalam kamus Inggris dan oke-oke saja. Seharusnya istilah wajanbolic juga bisa saja dong. Dalam bahasa Inggris terdapat kata bahasa India seperti curry atau kare dari India.

Bahkan dari bahasa Melayu pun ada di perbendaharaan Inggris seperti misalnya amok yang artinya adalah “ngamuk” atau “amuk” (saya tidak berani menggunakan Indonesia karena pada saat kata ini ada, Indonesia pun belum ada dan Melayu tidak selalu berarti Malaysia). Kata ini begitu penting dipertahankan dalam bahasa Melayu-nya untuk kepentingan kosakata Inggris karena memiliki arti sangat spesifik yaitu histeria ngamuk besar-besaran dan brutal yang menjadi pengalaman traumatis kolonial Inggris di Sarawak (Borneo, Kalimantan Utara). Mereka melihat (dan mendengar kisah musafir) tentang suku “primitif” yang disebut Dayak (dyaks) yang gemar berekspedisi dengan perahu dan menyerbu desa-desa untuk memenggal kepala mereka demi kepentingan ritual. Gambaran kengerian ngamuk massal ini berbeda dengan peperangan konvensional. Dalam peperangan ada motif membela kebenaran, sementara dalam amok yang ada adalah pesta kejam yang euforik. Kata amok ini juga digunakan untuk menerangkan histeria ngamuknya orang-orang Aceh melawan Belanda. Dalam catatan-catatan harian serdadu Belanda, terdapat deskripsi peristiwa bagaimana seorang pedagang Aceh di pasar tiba-tiba cabut rencong dan menikam 5 atau 6 orang marsose atau serdadu Belanda yang patroli, padahal sedang tidak ada perang.

Saya yakin bahasa Inggris terbuka terhadap istilah baru, dan di masa kini ketika penjajahan telah (konon) dihapuskan, usaha-usaha pemasukan muatan lokal menuntut partisipasi aktif dari pelaku lokal di kancah global. Dalam konferensi TI tadi, seharusnya gaya lokal wajanbolic itu dengan setengah mati dipertahankan. Contoh, kini kita punya menyaksikan bahwa kata moslem sudah banyak dikoreksi menjadi muslim (bahkan dalam buku teks baku bahasa Inggris). Sesuatu yang remeh namun sangat berarti bagi umat Islam yang membayangkan kata itu hadir bukan saja secara fonemik tapi fonetik dalam bahasa Inggris.

Kemudian pertanyaan gentingnya adalah: Mengapa untuk menceritakan identitas diri sendiri, kita selalu tidak pernah merasa cukup percaya diri untuk menggunakan akar sendiri, bahasa sendiri, pikiran sendiri? Mengapa untuk menceritakan diri sendiri kita selalu meminjam lidah orang lain?

Catatan:

Untuk yth Bapak-bapak TI (Pak Gunadi dan Pak Onno) yang mengembangkan wajanbolic dna RT-RW net, saya sangat bangga dan hormat terhadap dedikasinya dalam mengembangkan budaya internet nasional yang murah dan baik. Tapi, maaf saya tetap menggunakan kata wajanbolic.

This Post has been published with BlogDesk.

kecil eec587d4b86d1f47

Catatan sejarah kolusi badan peradilan!

© 2012

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache