Archive for May, 2009


Identitas: hubungan sosial tidak pernah cukup.

Menanggapi siaran Roby Muhamad, saya tulis tanggapan singkat.

Relasi sosial dalam artian hubungan jaring-menjaring memang turut membentuk identitas seseorang. Ini sesuatu yang penting sekali dipahami untuk menjelaskan pada kaum esensialis (pemuja keutuhan identitas) bahwa identitas selamanya fluktuatif dan sementara sebagaimana hubungan sosial sangat dinamis.

Namun apa yang ingin saya tawarkan, adalah sisi lain dari identitas yang berada dalam proses pencarian terus-menerus dalam mengisi subjek (personhood, katakanlah). Ini menyangkut pada persoalan esensi bagaikan botol air yang tak pernah penuh. Keindonesiaan adalah contoh yang baik. Apa yang Roby Muhamad tawarkan adalah rasa kenyamanan karena relasi sosial. Namun bagaimana menjelaskan keinginan sangat subjektif (individual basis) untuk terus menggali keindonesiaan dalam diri terlepas dari banyaknya teman friendster+facebook kita?

Di sini kita menghadapi persoalan-persoalan layer “geologis” berhubungan dengan sejarah, konstelasi politik dan kategorial lain menyangkut kultural dari mulai agama sampai etnis yang berhimpitan dalam diri sebagai subjek. Negara memberikan imposed identity seperti cap pos (lewat pancasila, MUI, penataran P4, label agama di KTP), juga memberikan pengalaman untuk ditempel dalam memori (“komunis itu jahat”, “indonesia merdeka tahun 1945, mari kita peringati”). Biografi kultural pun berperan (sebagai urang Sunda, pengalaman masa kecil di surau, dll). Lapisan-lapisan ini pun bekerja membentuk rasa identifikasi diri kita sebagai bangsa. Lalu karena pengalaman terus bertambah dengan membaca buku, menulis, bergaul, terlibat organisasi, terlibat gerakan separatis… maka penggambaran identitas pun selalu berkembang. Selalu mencari.

Mencoba untuk mencari sintesa antara pendapat saya dan Roby, tentu relasi sosial tetap penting untuk membentuk identitas, tapi bukan saja kehangatan hubungan dan sharing persamaan kultural yang terjadi. Sebaliknya benturan-benturan prinsipil pun tak dapat terhindarkan yang terjadi karena ada “social relations” yang lahir dari serangkaian perbedaan paham terhadap konsep, agama, kepercayaan, bahkan benda-benda. Contoh perdebatan politikana antara kaum “agamis” dan “sekuler” yang sepintas saling serang-menyerang dan adu kebenaran, sebetulnya adalah pertarungan alami antar kelompok itu untuk selalu mencari identitasnya, merekonseptualisasi dan menafsirkan ulang. Ketika salah-satu pihak berhenti mencari… maka perlahan sebetulnya merekalah yang berubah menjadi fosil (baik fundamentalisme agama, ataupun fundamentalisme sekuler).

Maka saya, Roby… terus mencari… terus haus.. terobsesi.. dan semoga menulis (siaran) terus.

tabik (sayang tidak punya webcam). :)

saur-sepuh1Tutup mata dan bayangkanlah visualisasi Indonesia. Apa yang tergambar? Batik, Borobudur? Pohon Kelapa? Perempuan coklat? Saur Sepuh? Sekarang buka lagi mata dan tutup lagi: Mall? Fastfood? Bioskop 21? Blackberry? Sour Sally?

Sulit mendapatkan gambaran utuh sintesa masa lalu dan masa kini dalam visualisasi Indonesia demi sebuah national cultural branding. Adakah tipografi yang khas Indonesia? Ornamen? Suara? Bau?

Keindonesiaan selamanya obsesif dan sugestif. Kita merasa tidak punya dan terus mencarinya, tapi kita juga sangat yakin itu ada. Sesuatu yang sangat Indonesia seperti merah putih, garuda yang jelas nongkrong secara resmi adalah identitas formal. Katakanlah konsensus. Tapi kering. Garuda tidak pernah muncul kecuali dibingkai kaca, merah putih terlalu sakral untuk jadi Tshirt-funkee, Indonesia Raya tidak boleh diubah aransemennya, Borobudur, ah cukup Indonesiakah itu? Walau Kecap Borobudur sangat Indonesia banget termasuk Bango, Merak, Udang Sari.

Membayangkan bangsa bagaikan ditarik kebelakang seperti khayalan Muhammad Yamin sekaligus dibetot kedepan seperti sabda St. Takdir. Ditambah dengan kesialan kolonialisme, angan-angan Indonesia semakin eksotis saja: tempat istirahat seperti kartupos yang damai, bersenja temaram, (Visit Indonesia the mooi indie). Sekaligus juga developmentalis berat: hypermart, jalan tol, lagi2 mall tiap sentimeter, kebon sawit, logging..

Kata Ernest Gellner, antropolog:

sentimen kebangsaan adalah tipe kebudayaan yang secara otomatis akan berkembang setelah negara mencapai industrialisasi, tahap kesejahetraan ekonomi, pembagian kerja terdiferensiasi dan birokrasi massal yang efektif dan menjangkau ruang publik.

Identitas nasional merupakan buah paling manis.. ketika negara bisa percaya diri untuk claiming banyak hal melalui dukungan kebijakan tentang soal2 remeh: kecap, bakso, pecel, borobudur, ikan asin, tuak. Jadi jangan harap bangsa punya identitas nasional kuat, jika kinerja negara lemah, tidak sistematis, lambat, ribet sama pemilu, dan miskin pelayanan publik… Maka kita tak akan punya cultural branding seperti Wine bagi Perancis, Curry untuk Inggris. Apalagi sebuah sinkretisme antara past-future, antara Yamin dan St Takdir.. antara Sour Sally dan Saur Sepuh..

Buku kontroversial Ilusi Negara Islam yang ditulis oleh tim LibForAll Foundation berdasarkan studi dokumen dan wawancara mendalam isinya adalah kekhawatiran akan Wahabisme Global, suatu pandangan garis keras dalam memahami ajaran Islam berdasarkan penerjemahan literer Al-Qur’an. Wahabisme berupa “purifikasi ekstrem” yang tadinya minoritas, kemudian menjadi tafsiran nasional di Kerajaan Saudi Arabia semenjak 1920-an (400 ribu muslim dibunuh, dieksekusi publik, diamputasi, termasuk wanita dan anak-anak hal. 76).

Di Nusantara, infiltrasi garis keras paling awal mulai dari Gerakan Padri di Sumatera Barat awal abad-19. Mereka militan dan sampai membunuh keluarga bangsawan yang sebenarnya telah memeluk Islam dari abad ke-16 dengan alasan mereka kafir (hal. 76, 96). Yang menarik buat saya, peristiwa terjadinya kekerasan politik Wahabi awal di Saudi Arabia dan di Minangkabau kira2 waktunya barengan awal abad ke-19. Waduh Globalisasi dan radikalisme-terorisme adalah kenyataan pra-modern industrial juga.

Masih menarik, sampai tahun 1920-an penetrasi Wahabisme (terkecuali kasus Padri) masih kecil sehingga pendiri Muhammadiyah dan NU pun tidak membawa ajaran garis keras itu ke Nusantara. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasjim Asy’arie tidak membangun organisasi keagamaan utama di Nusantara ini dengan tafsiran yang kaku (hal 76). Tapi tafsiran kaku itulah yang secara sistematis berkembang di Indonesia dan menjadi besar dengan tampil secara terbuka lewat agenda organisasi sospol Islam yang jamak di tanah air: FPI, FUI, Laskar Jihad, JI, Majelis Mujahiddin Indonesia, PKS, dan lain-lain termsuk organisasi trans-nasional: Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan Wahabi sendiri (hal 97).

Sebagai paparan sejarah singkat ini buku lumayan serius. Para Politikaners sudah membangun opini yang jika disederhanakan menjadi kubu yang menolak buku (mengaggap ini buku cari masalah), kubu yang mengapresiasi dengan optimis (ini buku menawarkan cakrawala baru), kubu yang terlalu kritis bin pesismis (buku ini bagus, tapi tidak bisa dibedakan dengan promosi diri Gus Dur dengan perlawanan lebay-nya yang sangat paranoid-subjektif, seakan Wahabi itu pengikut setan).

Literalisme dan Kontekstualisme dalam dunia penafsiran memang rawan konflik. Di Politikana artinya adalah mari berdiskusi dengan baik walau bisa jadi alot. Saya tergugah dengan catatan kaki di halaman 64, tentang sebuah joke yang terinspirasi hadis nabi yang mengharuskan umat Islam hati-hati dalam menuduh kafir saudaranya sendiri. Kata Joke tersebut, kalau kamu tetap sabar setelah 41 orang menuduhmu kafir, maka kamu Wali Tuhan.

Dikutip dari Ilusi Negara Islam catatan kaki no. 9, hal. 64

(9) Sebagai ilustrasi, kâfir menurut Ibn ‘Abdul Wahab sangat jauh berbeda dari kâfir menurut Ibn ‘Arabi. Bagi yang pertama, kâfir adalah lawan dari muknim (sic!) dan kemudian halal darahnya untuk ditumpahkan. Sedangkan bagi yang kedua, kâfir adalah suatu kondisi tertutup atau menolak kebenaran sejati, atau bahkan sumber kebenaran sejati. Bisa jadi, penolakan ini disebabkan sifat takabbur atau terbatasnya pengetahuan. Karena itu, mereka tidak boleh dimusuhi, apalagi diputuskan halal darahnya. Masih menurut yang kedua, kâfir juga bermakna tertutup dari apapun selain Allah Swt,.. Maka kâfir dalam makna ini adalah salah satu tingkat tertinggi wali Allah Swt. Konon, dalam tradisi tasawuf dikenal joke bahwa siapapun yang sudah dikafirkan oleh 41 orang, dan dia tetap bersabar, tidak melakukan perlawanan, apalagi mengkafirkan, maka sebenarnya dia adalah Wali Allah Swt.

Kalau ini serius sekali, kenapa pengarang menyebutnya Joke???

Saya teringat pada karya Mikhail Bakhtin seorang pemikir dan kritikus sastra Rusia yang dipaksa masuk camp konsentrasi oleh Stalin karena kemerdekaan berpikirnya sebagai seorang Marxist. Stalin adalah Marxist garis keras dan kejam, sementara Bakhtin mengangkat sisi humanitas dari Marxisme. Dalam bukunya Dialogic Immagination Bakhtin menganggap bahwa rakyat yang tertindas penguasa akan bereaksi dengan kodrat lemahnya yang sekaligus sangat powerful yaitu parody. Tidak ada penguasa besarpun yang bisa tahan terhadap parodi, satir, cemoohan.. sebab versi resminya (versi non-parodi, versi formal) sudah mengakar di otak dan dihafal banyak orang.. Maka pemirsa yang sudah kadung hafal, benar-benar sangat rentan dan sensitif terhadap “penyimpangan-penyimpangan” sedikit saja dari pakem. Maka itu, tanpa perlu cara kasar, sebuah kontradiksi cerdas sudah sangat membuat orang paham, dan tertawa terbahak-bahak…sekaligus masuk kedalam pemahaman internal-nya dengan sukarela. That’s the power of parody. Di Rusia, pemikiran Bakhtin ini memang telah menjadi budaya nasional dan ciri khas bangsa, sehingga kita mengenal buku legendaris popular: Mati Ketawa Cara Rusia.

Penutup. Maka itu, joke, tertawa, sindiran, dugaan, kritikan, dagelan… adalah sarana baik dalam proses pembelajaran. Sebab menawarkan dua pilihan untuk sampai ke satu muara: Mau mendarat di lantai keras (marah2), atau di kasur empuk silahkan saja: tapi otakmu jadi mikir. Setelah 41 kali dikafirkan, tokh hanya Tuhan yang punya hak mengadili jiwa kita apakah di surga atau neraka.

Semoga bermanfaat.

Mengkritik adalah hal biasa. Siapapun melakukan. Malah ini sebagai satu cara mengajak orang lain melihat dari sisi yang berbeda. Maka kritik harus diterima secara positif. Ada orang-orang yang sudah terbiasa dianggap benar. Maka dia tidak tahu kalau dirinya bisa salah. Ada juga orang yang selalu disalahkan. Maka ketika dia berbuat benar, dia tidak merasakannya. Kritik menyeimbangkan itu.

Tapi tidak semua orang biasa dengan kritikan. Keseringan dianggap benar, dianggap hebat, dianggap kaya, dianggap sempurna membuat orang tidak siap dengan sisi-sisi “opposite”, dalam dirinya. Ketika kritik datang reaksinya jadi berlebihan. Padahal apa sih ruginya? Uangnya jadi kurang? Pamornya jadi hilang? Nasibnya jadi jelek? Cantiknya jadi pudar? Saya pikir tidak. Malah seharusnya otaknya jadi mikir.

Hanya karena kita hidup enak, mudah, kaya, dan berlebih, sering kita anggap dunia tidak ada persoalan. Hanya ketika kita mujur, selamat, sehat, berdeposito, berasuransi, ber-blackberry, ber-facebook haha-hihi. Kita lupa ada orang sekarat dan sakaratul maut dengan kemiskinan entah dimana. Dan puncak ajaibnya, hanya karena kita mengalami semua keberuntungan dunia dan merasa paling kuat, justru kita paling lemah pada satu hal. Apa itu? Kritik.

Dunia sekitar saya seperti itu. Maka saya mengkritik. Untuk kebaikan kita, juga untuk kebaikan saya.

Tahun ’90-an. Saya pernah membeli barang2 kelontong di toko yang dikelola Darul Arqam Depok dulu banget. Dilayani perempuan bertutup lengkap kain hitam kecuali di bagian mata aja. Uang pas tidak ada, maka pembayaran dengan uang besar. Sewaktu saya hendak mengambil kembalian receh dari tangan penjual, tiba-tiba dia kaget terus uangnya dilempar sehingga bersebaran lah di lantai. Suaranya: “Grompyang kleneng ting ting..!!!” Matanya,cuma matanya yang saya bisa lihat, sepertinya marah.

Kemudian senyap.
Jantung rasanya berhenti. Campuran antara kaget, marah, malu.

Saat itu saya merasa seperti orang difitnah lepra dengan jari putus-putus kehitaman menjijikan. Terus-terang saya tersinggung.

Tapi mungkin saja dia lebih tersinggung: Ini laki-laki kurang ajar, tidak tahu agama, pendosa tak bermoral dll.

Oke..

Bayangkan peristiwa remeh-temeh begini terjadi dalam konteks negara Eropa liberal (atau satu pojok imajiner di negeri sendiri dimana bhinneka tunggal ika masih dipercaya). Kawasan-kawasan dimana etika keramahtamahan tidak mengenal partisi kelamin, dimana toko-toko dimaknai sebagai ruang publik terbuka, dan bersalaman lain jenis adalah perwujudan persahabatan, dimana social proximity sangat dekat.

Maka tentunya tidak mudah untuk menerima cadar, veil, burkha, jilbab serta pelarangan bersentuhan sebagai satu ITIKAD baik yang menawarkan persahabatan. Dialog multikultural, saling curhat, saling ketemu, mengobrol dan membicarakan perbedaan atas nama ruang publik memang saya akui sangat sekuler, tapi setidaknya dia menawarkan pemahaman atas hak berbudaya dan beragama di ruang publik tanpa rasa takut. Tiap ekspresi budaya dan agama terlindung dan wajib dihormati dalam kehidupan kewargaan dan kewarganegaraan.

Konon kabarnya tiap agama mengajarkan kasih, tapi kita sibuk membuat ruang pengadilan sendiri, membeda-bedakan orang, bermain Tuhan dan merasa bangga dengan kesalehan-kesalehan sebagai investasi “rumah” masa depan.

Yvonne Ridley adalah contoh bahwa dialog inter-kultural, lintas agama bukan omong-kosong. Tapi buat saya renungan atas pengalaman diculik, disiksa dll..kok terasa sangat dangkal ya… semacam “Tuh kan, jilbab emang oke..!” “Eh, niqab bisa buat anti asap rokok lho..”,”Scottish aja pake rok (kilt), masa jilbab aneh”, “Bule pake Jilbab, lho. Padahal yang saya ingin dengar adalah sisi spiritualitas, refleksi diri, sesuatu yang mengarah pada totalitas. Bosan dengan komparasi partikular mana yg Islam, lebih Islam, kurang Islam, rada-rada Islam dlsb. Pendekknya: bosan ekonomisasi agama ketika semuanya dihitung-hitung.

Berpakaian selama-lamanya adalah political. Bisa jadi statement politis membangkang, bisa juga statement tunduk pada sistem.

Dari SMA kita diajari tunduk pada sistem…. tapi jaman gue SMA anak cewe membangkang dng memendek2an rok-nya…Rok seksi dan prestasi tinggi ternyata serasi dalam statistik sekolah kami. Bahenol but bright..!

Sekarang… ohh untung aku bukan SMA lagi…menjemukan saudara2… begitu hampa begitu hampa…. sekolah adalah siksaan lahir batin, ekonomi, politik, seni dan budaya…

Kalangwan Seingatku, begitu. Guru-guru yang mampu menggugah semangat dan etos murid-muridnya, pastilah seorang subversif. Ia bisa subversif pada apa saja: bisa pada pemerintah yang korup, pada sistem pendidikan yang abal-abal, juga pada realitas sosial di sekitar, bahkan bisa juga pada agama yang telah jadi banal.

Knalpot Putih Idealnya, guru adalah peran intelektual untuk membuka pikiran banyak orang. Mata murid yang terbuka selamanya adalah mata subversif yang kritis termasuk pada gurunya sendiri. Kalaupun kemudian dia “ditiru” atau “dikultuskan”, itu adalah efek samping dari nilai feodalisme yang menyejarah. Atau bisa jadi karena dia ganteng atau cantik. Saat kini masih banyak guru2 berkepala database yang feodal yang ingin mencetak murid2 yang berpikiran mirip dia.. Guru yang baik justru ingin membuat murid2nya menjadi individu unik yang menyadari potensi diri sendiri untuk terus maju dan mencerahkan “dunia”.

Boy Avianto Ah, sepakat sekali! Penyeragaman, penanaman doktrin serta stigmatisasi kesalahan (yang sebenarnya bukan salah tapi tidak sesuai dengan pemikiran dan panduan sang guru). Keunikan justru dianggap sebagai hal yang tidak bisa dipercaya dan seterusnya.

Tugas guru makin sulit saja… sudah ngajarin kok ya boleh dikritik ; ).

page 33Pola “Banking Education” dianggap sebagai pola pendidikan ideal semenjak masa kolonial. Dari kecil kita diajari banyak hal di sekolah. Otak yang “kosong” ini diisi terus oleh orang-orang dewasa: guru-guru kita sendiri, agar mejadi “mereka”. Di tengah kebutuhan standar global, sekolah menjadi mentereng mahal, prestisius dan menampung kelas ekonomi mampu agar menjadi “aktor global keren”.

Paulo Freire sudah mengingatkan sejak tahun 1970-an bahwa dunia pendidikan tidak pernah memberikan otonomi bagi anak. Tujuan pendidikan sudah melenceng dari kebutuhan menciptakan generasi kreatif, bahagia, dan bermental bebas menjadi seperangkat metode menciptakan buruh-buruh industri siap kerja dalam sebuah kelas stagnan.

Bahkan sistem Ki Hadjar Dewantara: di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung” yang diciptakan olehnya dalam konteks kebencian pada kolonialisme yang menciptakan kelas budak berjiwa kerdil sudah kalah oleh tuntutan industri yang membutuhkan sekrup-sekrup baru “kelas pekerja”. Sebuah dehumanisasi massal yang memiskinkan batin.

Anak kecil bukan orang dewasa kecil. Anak memiliki daya imajinasi luar biasa dan otonom. Mereka adalah subjek bebas yang kreatif. Beri dia pinsil maka dia akan menggambar, beri dia sekumpulan kardus bekas maka Ia membangun sarang, rumah-rumahan atau bahkan benteng pertahanan. Lalu bubur kertas jadi gunung berapi, dan satu rak sepatu jadi barisan kapal-kapal perang di Pearl Harbor. Kalau ingat Laskar pelangi, murid-murid Taman Siswa mungkin kucel dari luar, tapi batinnya kaya di dalam.

Tapi surga anak kecil pun tega direnggut atas nama standardisasi modern. Dari kecil otonominya dalam menentukan pilihan dipenjara dalam dunia politically correct orang dewasa. KidzaniaMetro

Sumber: http://www.bpkpenabur.or.id/userfiles/image/SDK%209/KIDZANIA/KidZania16%20092.jpg

Sebuah dunia yang berbahasa ekonomi pasar-global. Bahkan dengan cara-cara canggih yang sistemik, yang bermuka manis “edutaiment”. Sebuah wahana bermain “Taman karir” dibangun di mall kota Jakarta. Isinya adalah kota virtual penuh lapangan kerja dewasa yang hampir realistis, sehingga anak tidak perlu mengeluarkan energi untuk berimajinasi kreatif. Profesi standar sudah tersedia bagaikan cetakan yang siap membentuk otak polos sang anak sesuai dengan “gambaran ideal peradaban”. Dengan modal sekitar 100 ribu rupiah, imajinasi itu tersedia di Kidzania. Instant!!

Aku melihat anakku membuat cumi-cumi raksasa, kapal bajak laut dan pesawat terbang dengan modal kertas bekas. Aku tak mau kreativitasnya tercuri oleh imajinasi instan Kidzania. Sebuah penghinan yang tak bisa aku terima. Aku juga masih berhutang padanya: membantunya membuat rumah di atas pohon (kami tidak punya pohon), serta sebuah go-kart kayu (nah ini karena belum ada waktu, Bapak buruh yang sibuk).

Selamat hari Pendidikan Nasional semoga masa depan anak Indonesia lebih baik lahir dan batin.

(lihat di politikana )

pilihan moderator

MayDay..!

Bukan hari libur. Mayday itu hari kerja ketika semua yang merasa sebagai kelas buruh secara kolektif MOGOK dan STOP selama sehari.

 

MayDayCartoon lg2

gambar dari http://sf.curbed.com/archives/2008/05/01/workers_of_the_world_unite_curbed_sfs_guide_to_may_day_madness.php

 

Kapitalisme ragu, sosialisme setengah-hati. Banyak yang suka kalau 1 Mei itu libur..!

© 2011

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache