Archive for April, 2009


iwan politikanaHari ini 29 april, sub-headline Kompas yang membuat kepala gatal. Baru saja dua hari lalu Demokrat-PKS berkoalisi, dan hari ini Golkar-Hanura mencetuskan capres-cawapres…

Politik Indonesia yang tidak memuaskan…

diselipkan lewat berita outbreak Flu babi dengan gaya bahasa retorik yang sebetulnya kurang jurnalistik, tapi bagi saya membawa hati nurani rakyat.

Koalisi 2009 = babi…!

Hore masuk headline politikana..!

Multikulturalisme adalah prinsip politik yang mengutamakan pentingnya ruang publik terbuka bagi dialog-dialog perbedaan budaya. Ekspresi kultural memiliki sejarah, keunikan, dan makna khusus bagi penganutnya yang telah menjadi identitas budaya. Ruang publik terbuka berisi banyak identitas-identitas kultural yang idealnya mendapatkan jaminan perlindungan sehingga satu identitas betapapun kecilnya mendapat tempat untuk dihormati, didengarkan dan ditampilkan. Sistem politik yang baik menjamin terbukanya ruang publik bagi segala perbedaan. Asumsinya perbedaan adalah untuk dipahami melalui dialog-dialog antar-budaya. Multikulturalisme berarti juga prinsip untuk menerima dan menghormati adanya perbedaan di sekitar kita.

Antropologi adalah ilmu yang memberikan ruang bagi identitas-identitas budaya milik komunitas untuk ditampilkan dalam tulisan etnografi. Antropologi menyadari bahwa komunitas kecil atau golongan minoritas memiliki cerita sejarah dengan proses-proses yang penting untuk dipelajari, dicatat, dan dipahami. Etnografi memberikan perangkat untuk pendokumentasian konsep-konsep emik lokal. Tinggal masalahnya adalah untuk tujuan apa etnografi dituliskan. Kepentingan studi dan dokumentasi museum? Kepentingan pelaksanaan proyek kolonialisasi dan modernisasi dalam program pembangunan? Atau bisa lebih daripada itu?

Melalui pemahaman multikulturalisme, ada kesadaran baru dalam mengarahkan kontribusi antropologi untuk lebih memberikan pemahaman akan perbedaan-perbedaan kultural. Tulisan etnografi dengan nafas multikultural tidak lagi menciptakan satu budaya, melainkan dialog melibatkan banyak budaya. Dialog inter-kultural, pembongkaran stereotype, komunikasi lintas perbedaan tentunya menjadi data utama ketimbang pelukisan mendalam terhadap satu suku bangsa secara mendalam. Untuk mencapai pemahaman lintas-kultural tersebut, metode etnografi dituntut untuk lebih melibatkan perasaan personal dan subyektivitas peneliti sebagai aktor yang terlibat langsung dalam perbedaan-perbedaan kultural. Subyektivitas dan bias kultural serta etnosentrisme yang hinggap dalam benak peneliti justru menjadi cara untuk memahami, cara untuk berdialog dan cara untuk berefleksi.

Ketika trend multikulturalisme bersintesa dengan metode etnografi eksperimental, saya rasa masa depan antropologi akan semakin menarik, menegangkan dan menghasilkan produk-produk kolaboratif yang melibatkan keakraban antara banyak subjek: para informan dan antropolog menjadi partner yang hadir dalam teks-teks etnografis polifonik. Saya ingin terlibat dengan eksperimen ini..

Asosiasi profesi bagi antropolog di Indonesia ada tapi absen 15 tahun lebih. Munculnya asosiasi-asosiasi keilmuan sosial-budaya seperti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), dan Asosiasi Prehistori Indonesia (API) adalah fenomena Indonesia 70-80-an.

Posisi asosiasi profesi ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan membentuk kekuatan dalam zeitgeist Orde Baru. Peran besar dalam pembangunan adalah tiket untuk mencapai kekuasaan dan pengakuan negara. Antropologi dan asosiasinya saya duga demikian juga. Antropologi Indonesia tahun 80-an mengusung wajah pembangunanisme yang kental, yakni bagaimana universitas dan awaknya harus bersanding dengan negara dalam merencanakan dan mengevaluasi pembangunan. Tidak ada yang salah dengan ini. Hanya saja pada masa 90-an akhir, masalah pembangunanisme sudah kehabisan modal dan kehilangan kredibelitas. Apa yang lebih diperlukan seterusnya adalah sebuah asosiasi keilmuan untuk menguatkan daya kritik terhadap pembangunan itu sendiri.

Besar dengan teori sistem, nilai budaya serta hal-hal formulatif yang mengarah pada tatanan sosial stabil, antropologi di Indonesia memang tidak punya daya kritik kecuali bila keyakinan akan konstituen multi-etnis yang dipelihara harmonisasinya dipandang sebagai kritik. Maka, Asosiasi Antropologi Indonesia yang dibangun dalam suasana politik kekuasaan yang kental pun jadi bingung. Para pendirinya yang berlatar belakang politisi tentunya tidak terlalu siap akan angin baru, teori baru, arus bawah. Marxisme dan ekonomi politik yang menemukan gairah di Indonesia masa reformasi seakan menjadi hantu yang tidak cocok lagi dengan jiwa awak Asosiasi ini dibuat. Mungkin ini yang bisa menjelaskan mengapa sebuah asosiasi keilmuan penting bisa vakum selama 15 tahun lebih.. dan entah sampai kapan.

Antropologi dituduh bisu dan tidak tampil. Sangat sedikit tokoh professionalnya yang dikenal. Terlalu banyak orang bertanya: Apa kontribusi antropologi bagi Indonesia. Pada saat yang sama, sangat sedikit orang yang bertanya mengapa ilmu sebesar ini tidak punya asosiasi yang berjalan. Padahal salah satu kunci perkembangan keilmuan adalah adanya etika profesionalisme bagi insan-insan yang terlibat di dalamnya.

Minimnya perolehan suara untuk partai-partai bernuansa Islam dalam perhitungan suara sementara pemilu 2009 kali ini menimbulkan pertanyaan: mengapa 80 persen penduduk muslim di Indonesia hanya memberikan angka dibawah 10 persen untuk partai-partai Islam, bahkan untuk PKS yang berkampanye paling progresif? Apakah artinya umat muslim kurang religius? Dalam menjelaskan ini kita harus memahami dimensi sosial kehidupan religius yang mengarah pada sentimen kebangsaan atau lazim disebut sebagai Civil Religion.



Apakah Civil Religion itu?
Civil Religion tidak secara langsung mengartikan religion sebagai agama dalam pengertian teologis. Sosiologi agama sering menggunakan konsep ini untuk menjelaskan adanya ritual-ritual dalam ruang publik yang memiliki pondasi moral, sejarah, dan budaya yang berfungsi sebagai simbol perekat masyarakat dalam kehidupan bernegara. Tiap negara mempunyai civil religion sendiri yang merupakan esensi dari peradaban mereka yang tertuang dalam: monumen-monumen, ritual kenegaraan misalnya inaugurasi, parade-parade, karnaval, bendera, ornamen-ornamen kesenian dominan dan ekspresi linguistik. Pengalaman kontak antar-peradaban yang melahirkan asimilasi, sinkretisme, difusi kultural di masa lalu kiranya membentuk apa yang kita kenal sebagai civil religion itu. Oleh karena itu Jaques Rosseau mengatakan bahwa Civil Religion juga memiliki “Tuhan”, namun bukan dalam bentuk Tuhan dalam kitab suci (Perjanjian Lama-Perjanjian Baru, Al-Qur’an), tapi “Tuhan yang ada di belakang Tuhan Teologis” yang bekerja membuat ikatan-ikatan emosional menuju ke sentimen kebangsaan. Tuhan yang membangun budaya politik untuk kepentingan hidup bernegara dan bukan kepentingan akhirat.

Civil Religion dapat berwajah sekuler sekaligus saleh
Civil Religion memang bisa bersumber dari agama teologis, namun tetap mengambil sumber sejarah yang dominan dalam peradaban untuk keperluan sentimen kebangsaan. Walau Amerika Serikat adalah negara modern yang mengutamakan demokrasi dan praktik kapitalisme dalam kehidupan sehari-hari, Calvinisme Protestanisme sebagai sumber teologis adalah nilai yang dijunjung tinggi. Kehidupan demokrasi di Amerika bersenyawa dengan religiusitas yang kental yang terbawa ke ruang publik kehidupan warganya. Religiusitas dalam pengertian Civil Religion hanya penting untuk kehidupan politik kenegaraan terutama jika negara sedang dalam keadaan krisis. Kita semua masih ingat akan peristiwa 9/11 yang membuat satu negara Amerika yang taat maupun tidak untuk berdoa bersama. Bukan untuk meminta pertolongan Tuhan, namun untuk memperkuat solidaritas kolektif dalam kemalangan nasional. Dalam argumen yang sama, Perancis yang sebetulnya merupakan ranah Katholik tetap memperlihatkan unsur pra-Katholik yang kental sebagai ‘agama sipil’ penguat identitas kebangsaannya yang sangat terlihat dari ornamen, monumen kota. Bahkan simbolisasi Kristen dapat mudah jadi penghias dalam ruang-ruang publik yang sekuler.

Adakah Tempat bagi Partai Agama dalam Civil Religion Indonesia?
Menurut Ben Anderson (dalam Spectre of Comparisons), Indonesia memperlihatkan gejala nasionalisme yang sangat modern dari awal pembentukannya yang bahkan lebih baik dari Eropa. Kenapa? Di saat bangsa-bangsa Eropa masih saling membunuh atas nama etnis dan perbedaan agama, kawasan Asia Tenggara sudah sangat terbiasa dengan keanekaragaman etnis termasuk menerima dengan lapang hati sinkretisme sebagai praktek kultural yang wajar. Untuk Indonesia, tidak pernah akan ada tempat bagi “kemurnian”, “keaslian”, “puritanisasi”. Sesuatu yang mempermudah Soekano dalam membangun suatu bentuk nasionalisme sebagai sentimen nasional yang berwajah civic tanpa melupakan keanekaragaman sebagai kultural kapital yang menjadi sendi utama kebangsaan.
Pada masa Indonesia pra-kolonial atau “abad kerajaan”, Hindu dan Buddha baru berhasil menjadi agama “nusantara atau nasional” ketika telah me-lokal dan mengalami sinkretisme dengan berbagai budaya lokal selama ratusan tahun. Tidak terkecuali dengan Islam sebagai pendatang baru. Mayoritas muslim sebanyak 80 persen berhasil diraih dengan menjadikan Islam sebagai budaya yang kontekstual dengan tradisi kultural setempat yang merupakan sedimentasi dari budaya-budaya sebelumnya. Sebagai contoh adalah gaya nyantri di pesantren yang sebetulnya merupakan warisan khas cara belajar yang dikenal bangsa ini sejak zaman Hindu, meski sekarang terasa Islami. Maka tak heran bila kita masih bisa menjumpai elemen Hinduistik, Budhistik di kawasan muslim terbesar di dunia ini sebagai sesuatu yang wajar: Patung Garuda, wayang, gamelan, batik, ritual selametan dll. Maka, Islam dalam pengertian normatif, tekstual yang sempit apalagi terselenggara untuk kepentingan politik praktis, tidak akan mendapat tempat dalam ‘agama sipil’ bangsa kita yang terlalu multikultur. Namun sebaliknya, aktivitas keagamaan apapun yang mempertajam spiritualitas dan sensitivitas dalam menerima perbedaan akan bertahan lama.
Untuk konteks yang lebih kini, maraknya artikulasi simbol Islam di ruang-ruang publik, pemakaian ruas-ruas jalan raya untuk ceramah massal malam hari, serta kemunculan kekuatan politis partai-partai bernuansa Islam menjadi tanda tanya. Dapatkah mereka mengakar dalam monolog yang mempertebal dinding perbedaan agama? Gerakan purifikasi agama yang didasari atas “ketuhanan teologis” tidak pernah terlalu populer dalam sejarah bangsa yang terbiasa dengan kehidupan multikultural sebab tidak sesuai dengan religiusitas publik yang merindukan Bhinneka Tunggal Ika. Alih-alih ingin mendapat suara banyak, partai-partai yang ingin tampil progresif dengan purifikasi agama justru memperbesar peluang kekalahannya dalam pemilu.

Universitas manapun adalah perusahaan. Semakin kaya perusahaan, maka semakin runcing polariasi kelas yang terjadi. Guyonan lama setengah petuahnya begini: Waktu muda boleh Marxis, tapi kalau tua, Kapitalis . Universitas akan semakin besar: World Class University, global rated university. Itu diiklankan. Prinsip sosialisme, kesejahteraan vertikal boro-boro jadi iklan. Dijalankan saja jarang.

Di tengah-tengah simbol ini saya merasa gamang. Maybe it’s time to stop.

Hari ini aku benar-benar sampai pada titik terendah dari segi semangat. Bener-bener kosong. Pekerjaan menumpuk sebagai dosen belum selesai semua. Karena uangnya tidak seberapa, kelihatannya tumpukan itu akan makin bertambah tinggi menggunung, malas sekaligus jahat, seperti lingkaran setan.

Seorang dosen, pada akhirnya memang selalu sendirian.

Kuliah Analisa Faktor Sosial dalam Pembangunan membicarakan issue-issue besar globalisasi, developmentalisme-modernisation Inkeles-Rostow, dependencia theories Gunder-Frank, world system theory Wallerstein, culture-matters Huntington, mentalitet pembangunan Koentjaraningrat..

tapi..

Bagaimana mengaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari sebagai antropolog? Apa terobosan metodologis sehubungan dengan adanya pembacaan teori-teori non-antropologis di atas? Terutama apa pengaruh bacaan-bacaan itu terhadap pengertian dan imajinasi kita tentang kebudayaan yang sering kita anggap secara obsesif sebagai penemuan dahsyat seorang antropolog?

 

masih sangat kaku…dan tempat nampang doang…. Cita-citanya sih ingin menjadikan kelakuan nulis jadi kebiasaan sehari-hari. Sederhana tapi manis dan mencatat hal penting. Kalo ga penting ga usah.

Place fuses the real with the mythical, the virtual with the actual; it is a space which encourages flights of imagination..

Place allows particular localities to be defined in terms of their history and social use, investing them with cultural meanings and values and making them available for active intervention and transformation…

Apa yang dipelajari dan dipahami dari Master Globalisation, Identity, Technology

Culture – geography ‘ placemaking, sense of belonging, home, culturalscapes, politics of space, borderzones, displacement people, refugees, diasporic societies (Roger Bromley)
Culture – identity1 ‘ identity making, construction-deconstruction of cultural identities, process of articulation, narrativity, ethnographic representation (Richard Johnson)
Culture – identity 2 ‘ gendered identities, queers, masculinism, bodies, femininities (Nigel Eadley)
Culture – globalisation ‘ globalscapes (seeing and being seen simultaneously), flowing ideas, interconnectedness (Roger Bromley)
Culture – Cosmopolitanism ‘ pan European global visions, worlding processes, global cities) (Mike Featherstone, John Tomlinson, Eleanore Koffman).
Culture – ideology ‘ how ideology operates through media, how ideology is (being) continuously constructed, hegemony -British politics. (Richard Johnson).
Globalisation – Islam ‘ Marxist approach to global clash-civilization, very American hatred issues, history of colonial invasion in middle east, Secularization, muslim and its backwardness, searching for democratic thoughts (Ali Mohamadi).
Migration – globalisation ‘ history of big migrations, colonialism and migration, flowing of people, how postcolonial region maintains its colonial migration links, how Europe has long became honey pot for their colonial subjects. (Eleanore Koffman, Roger Bromley).
Technology – virology ‘ global deseases, the narrative of virology, virus as actants (non-human actors) (Joost van Loon).
Technology – bodies ‘ portabilities, implants, human-machine relationships (Joost van Loon)
Technology – cultural vision, meanings, perceptions ‘ techno determinism pro and con, utopian and dystopian vision: Marx, Heiddeger, Mc Luhan, Postman (Neil Turnbull).
Technology – its social shapes ‘ how people use technological appliances, technology as social construction (Joost van Loon)

Methods – Narrative Methods, using Ricoeur theories, narrative articulations for (possibly autoethnography!) traumatic experiences (Richard Johnson).

Methods – Novel analysis, novel as ethnographic data (Roger Bromley).

Methods – discourse analysis ‘ how to deeply analyse discourse in (daily) conversations, very linguistic, not recommended for cross-cultural project (Nigel Eadley).

Hard issues for me to comprehend:

Global Governance, international politics ‘ I don’t understand why it is included in course (Chris Ferrands).
Fordism ‘ dull topics, how the West gains effective industrialisms by placing global scale fordism, but it is useful to explain why one brand has many components from global sources (Chris Ferrands)

Methods – epistemological issues ‘ others, hard subjects I don’t understand (Neil Turnbull).

What I need more, and I did not get much from courses.

Global inequalities, more political issues on globalisation for the Third World.
Development issues

imagesAngklung dalam Keindonesiaan Kita
Iwan Meulia Pirous

Sentimen kebangsaan selalu membutuhkan serentetan ikon budaya kongkret. Banyak orang Indonesia yang khawatir bahkan bersikap reaktif terhadap tangkasnya negara tetangga kita Malaysia yang mengakui angklung, batik, reog sebagai kesenian nasional mereka. Kekhawatiran ini mengarah pada harapan bahwa negara harus kongkret melindungi kesenian khas bangsa Indonesia untuk kepentingan identitas nasional. Intinya, jika ingin mengangkat properti budaya yang khas menjadi identitas yang representatif bagi bangsa, maka syarat utamanya adalah properti tersebut harus terlibat dalam kesejarahan bangsa untuk memenuhi visi otoritas ke masa lalu, sekaligus juga populer dalam imajinasi kolektif pada waktu sekarang untuk visi masa depan. Bangsa-bangsa modern yang tangguh setia mempertahankan prinsip ini untuk lestari. Angklung adalah elemen budaya yang terlibat dalam dua gaya tarik tradisional-modern sehingga menarik diisyukan sebagai ikon bangsa yang potensial dan kongkret.

Dialog “tradisi” dan “modernitas” dalam Angklung
Dalam bentuknya yang tradisional, angklung dikenal secara terbatas di Jawa sebagai alat musik ritual perladangan padi yang dimainkan berkelompok. Para pemain menggetarkan angklung lebih pada tujuan menciptakan ritmik yang membangun atmosfir upacara penghormatan pada Dewi Sri, bukan berkesenian, apalagi membawakan komposisi. Sebagai alat musik tradisional di masa kolonial abad ke-20 pun, angklung bukanlah merupakan alat musik populer, bahkan hampir punah dan hanya dimainkan oleh pengemis. Sampai pada tahun 1938, seorang guru muda yang sangat musikal di Kuningan bernama Daeng Soetigna melakukan inovasi dengan membuat satu set angklung yang membawakan tangga nada diatonis kromatis. Angklung baru yang kemudian dikenal dengan nama Angklung Padaeng dapat menghasilkan melodi dan juga akord yang menjadi pondasi musik modern dan dapat membawakan komposisi sistem “do-re-mi-fa-sol”. Sang guru muda tadi yakin bahwa anak hanya dapat belajar termasuk berlatih disiplin kalau hatinya riang gembira, misalnya dengan cara bermain musik dengan lagu-lagu yang disukai. Maka baginya angklung adalah media pendidikan modern yang terus diperjuangkannya sehingga menjadi sangat populer di sekolah-sekolah hingga saat ini.
Dalam wujudnya yang modern, angklung Padaeng tetap menunjukkan ciri tradisional yang kental. Pertama: cara memainkan angklung secara komunal tetap dipertahankan sebagaimana angklung Sunda dulu kala. Walau secara teoretis satu set angklung yang digantung berbaris dapat dimainkan oleh satu orang demi tujuan efisiensi, gagasan modern tentang angklung tetap berpegang pada asas solidaritas dan komunalitas yang selalu ada dalam konteks kehidupan masyarakat tradisional. Angklung adalah musik pertunjukkan dengan nilai individualitas minimal dimana setiap pemain sekaligus menonton dirinya sendiri pada pemain lainnya. Kedua, bentuk angklung, bahan, dan prinsip mekanika angklung tetap mengandalkan warisan teknologi tradisi yang dipertahankan yaitu resonansi tabung bambu yang digetarkan. Jadi, angklung dalam bentuk modern membawa juga eksotika tradisional yang menunjukkan kontinuitas dengan masa lalunya termasuk juga dalam cara memainkannya. Bahkan, pengembangan angklung ke arah diatonis-kromatis berdampak sinergis terhadap leluhur pentatonis tradisionalnya dengan semakin hidupnya angklung tradisional pada tahun 1960-an sebagai reaksi positif atas popularitas Angklung Padaeng seperti yang dikatakan budayawan Sunda Nano S dalam acara diskusi Kebangkitan Nasional: 100 tahun Daeng Soetigna 20 Desember yang lalu.

Angklung dan Rekacipta Identitas Kebangsaan
Angklung terlibat dalam perjalanan Indonesia menuju bangsa modern berdaulat. Angklung beberapa kali dimainkan dalam peristiwa kesejarahan kita sebut saja Peristiwa Linggarjati 1947, KAA 1955, dan sebagai misi budaya dalam normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia 1967. Tanpa keraguan angklung adalah elemen khas diplomasi kultural Indonesia. Lebih dari itu, angklung juga manawarkan nilai-nilai tradisi seperti solidaritas, toleransi, dan kerjasama dalam angklung yang sejalan dengan ciri khas dan kekuatan cultural capital komunitas-komunitas etnis di Indonesia. Jika bangsa itu harus modern berorientasi kedepan sekaligus juga bersifat sebagai recent vintage yang dibungkus dengan tradisi-tradisi yang diramu dari masa lalu untuk melanggengkan kekuasaan dan kewibawaannya, maka angklung hadir sebagai komponen budaya yang memenuhi syarat untuk menjadi ikon nasional. Dialog modern-tradisional yang sinergis dalam dunia angklung sungguh terasa. Maka, dalam hal ini negara dapat berperan sebagai agen yang melakukan “rekacipta tradisi” atau dengan kata lain serangkaian usaha “rekayasa” untuk menciptakan elemen simbolik yang khas dan berwibawa dengan kesadaran untuk memperkuat sentimen kebangsaan. Dalam rekacipta ini unsur masa lalu dipertahankan demi kepentingan otentik, sementara unsur primordial etnis yang tidak kondusif dalam usaha membina sentimen kebangsaan dapat dikesampingkan.

Dalam tahap lebih kongkret, angklung masih memerlukan aspek perlindungan hukum, promosi, festival, ruang tampil, dan usaha konsisten mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pendidikan nasional sebagai aset bangsa. Tokoh-tokoh penerus angklung seperti Obby A.R yang berjuang agar angklung terus hadir dalam dunia pendidikan dasar dan Alm. Udjo Ngalagena yang berkiprah mempromosikan angklung sebagai industri budaya mengisi ruang kosong yang strategis tentang perlunya identitas dan branding sebagai bangsa. Angklung hanyalah satu titik dari sekian banyak usaha menemukan kembali keindonesiaan kita yang hilang. Akhirnya, keindonesiaan sebagai sesuatu yang kita butuhkan di masa krisis, selamanya adalah konstruksi budaya-politik yang harus senantiasa dipelihara oleh negara untuk memperkuat sentimen kebangsaan rakyat kita.

© 2012

Kamar Iwan Pirous is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache