Hari ini 29 april, sub-headline Kompas yang membuat kepala gatal. Baru saja dua hari lalu Demokrat-PKS berkoalisi, dan hari ini Golkar-Hanura mencetuskan capres-cawapres…
Politik Indonesia yang tidak memuaskan…
diselipkan lewat berita outbreak Flu babi dengan gaya bahasa retorik yang sebetulnya kurang jurnalistik, tapi bagi saya membawa hati nurani rakyat.
Koalisi 2009 = babi…!
Hore masuk headline politikana..!
Ketika trend multikulturalisme bersintesa dengan metode etnografi eksperimental, saya rasa masa depan antropologi akan semakin menarik, menegangkan dan menghasilkan produk-produk kolaboratif yang melibatkan keakraban antara banyak subjek: para informan dan antropolog menjadi partner yang hadir dalam teks-teks etnografis polifonik. Saya ingin terlibat dengan eksperimen ini..
Besar dengan teori sistem, nilai budaya serta hal-hal formulatif yang mengarah pada tatanan sosial stabil, antropologi di Indonesia memang tidak punya daya kritik kecuali bila keyakinan akan konstituen multi-etnis yang dipelihara harmonisasinya dipandang sebagai kritik.
Menurut Ben Anderson (dalam Spectre of Comparisons), Indonesia memperlihatkan gejala nasionalisme yang sangat modern dari awal pembentukannya yang bahkan lebih baik dari Eropa. Kenapa? Di saat bangsa-bangsa Eropa masih saling membunuh atas nama etnis dan perbedaan agama, kawasan Asia Tenggara sudah sangat terbiasa dengan keanekaragaman etnis termasuk menerima dengan lapang hati sinkretisme sebagai praktek kultural yang wajar.
kelihatannya tumpukan itu akan makin bertambah tinggi menggunung, malas sekaligus jahat, seperti lingkaran setan.
Kuliah Analisa Faktor Sosial dalam Pembangunan membicarakan issue-issue besar globalisasi, developmentalisme-modernisation Inkeles-Rostow, dependencia theories Gunder-Frank, world system theory Wallerstein, culture-matters Huntington, mentalitet pembangunan Koentjaraningrat..
tapi..
Bagaimana mengaplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari sebagai antropolog? Apa terobosan metodologis sehubungan dengan adanya pembacaan teori-teori non-antropologis di atas? Terutama apa pengaruh bacaan-bacaan itu terhadap pengertian dan imajinasi kita tentang kebudayaan yang sering kita [...]
masih sangat kaku…dan tempat nampang doang…. Cita-citanya sih ingin menjadikan kelakuan nulis jadi kebiasaan sehari-hari. Sederhana tapi manis dan mencatat hal penting. Kalo ga penting ga usah.
Place fuses the real with the mythical, the virtual with the actual; it is a space which encourages flights of imagination..
Place allows particular localities to be defined in terms of their history and social use, investing them with cultural meanings and values and making them available for active intervention and transformation…
Apa yang dipelajari dan dipahami dari Master Globalisation, Identity, Technology
Culture – geography ‘ placemaking, sense of belonging, home, culturalscapes, politics of space, borderzones, displacement people, refugees, diasporic societies (Roger Bromley)
Culture – identity1 ‘ identity making, construction-deconstruction of cultural identities, process of articulation, narrativity, ethnographic representation (Richard Johnson)
Culture – identity 2 ‘ gendered identities, queers, [...]
Tanpa keraguan angklung adalah elemen khas diplomasi kultural Indonesia. Lebih dari itu, angklung juga manawarkan nilai-nilai tradisi seperti solidaritas, toleransi, dan kerjasama dalam angklung yang sejalan dengan ciri khas dan kekuatan cultural capital komunitas-komunitas etnis di Indonesia.