(dari diskusi Balai Sastra Kecapi, November 2008)
Membaca beberapa puisi Afrizal Malna yang ada di tangan saya, segeralah saya teringat akan pengalaman-pengalaman mendengarkan kisah-kisah, atau membaca transkripsi tentang tuturan “primitif” yang ajaib, aneh tapi memukau. Ketegangan begitu ditampilkan dengan loncatan posisi subjek yang tidak biasa. Misalnya dengan membaca 50 Tahun Usia Kuping, subjek dapat berganti-ganti, mulai dari seorang yang melihat kuping di tembok, kuping yang melihat tembok, sampai tembok yang kemudian menyampaikan pesan tentang kuping yang ada dalam dirinya. Afrizal adalah penyair dan saya mewakili banyak orang-orang yang tidak punya kemampuan membangun sebuah syair yang baik. Dalam beberpa kesempatan penelitian di Kalimantan Barat, di suku terpencil dekat perbatasan Sarawak Indonesia, justru saya banyak menemukan penyair-penyair yang bisa bernarasi banyak dengan bahasa indah tentang cerita-cerita hantu, petara-petara, atau pahlawan-pahlawan mereka. Agak mustahil bagi saya untuk bisa memahami konsep ruang dan waktu dalam narasi-narasi mereka. Tidak ada patokan kalender Masehi, tidak ada lokasi-lokasi yang benar-benar ada dalam peta. Saya cenderung menyepelekan mereka dan ingin menulis yang lebih penting.
Sementara ah! Afrizal. Dia begitu langsung terjun bebas dan malahan mendahului apa yang ingin ditulis oleh antropolog dalam mimpi-mimpinya. Di halaman 97, saya membaca:

