kemana saja diri kita? Jarang kelihatan.
Apa menghilang di balik tumpukan koran, ampas kopi dan asap hitam bus?
Atau terjebak dalam serabut kabel seribu urusan dan percakapan?
Aku merindukanmu seperti pelamun memandang matahari jingga yang sedang ditelan malamnya lautan.
Beberapa catatan tentang dimensi kultural dan sejarah untuk pengembangan museum Tsunami Aceh
Pembukaan
Kata museum seringkali mengingatkan pada segala sesuatu yang bersifat kuno. Sesuatu yang berhubungan erat dengan persoalan barang antik, sejarah-sejarah lama yang tersimpan dalam bentuk koleksi yang dipamerkan. Maka itu kita yakin dan percaya bahwa jika ingin mengetahui tentang asal-muasal, pergilah ke museum. Maka tidak heran apabila orang sering merasa malas pergi ke museum. Buat apa sering-sering pergi melihat peninggalan berdebu yang tidak ada hubungannya dengan masa kini? Pengunjung museum tidak dapat disalahkan, karena memang sedemikian banyak museum-museum di Indonesia yang membosankan bagi masyarkat awam. Museum-museum yang “membosankan” ini tidak bisa dipungkiri merupakan warisan zaman dulu, ketika museum memiliki fungsi yang sangat terbatas yaitu untuk kepentingan dokumetasi ilmu pengetahuan, bagi segelintir orang berpendidikan, bagi para sarjana arkeologi, antropologi, geologi, senman dan kolektor, yang tentunya memang tidak mementingkan aspek lain diluar kepentingan dokumentasi ilmu pengetahuan. Catatan kecil ini bermaksud membuka wawasan pembaca bahwa fungsi museum yang dibatasi sebagai sarana dokumentasi ilmiah semata telah lama ditinggalkan orang. Namun cara pandang ini masih dominan dalam berbagai praktek permuseuman di Indonesia–bahkan untuk museum-museum penting . Read more... (3326 words, 1 image, estimated 13:18 mins reading time)
“Antropologiwan dan Budayalog” menembus stereotipe
Iwan Meulia Pirous Read more... (2273 words, estimated 9:06 mins reading time)