Seorang praktisi iklan yang saya wawancarai melalui surat dengan pertanyaan sekitar signifikansi keindonesiaan dalam komunikasi visual, adverstising dan desain mengatakan dengan keyakinan penuh bahwa identitas Indonesia dalam desain kita sangat diperlukan:

Bagi banyak praktisi periklanan (termasuk gw tentunya), ke-Indonesiaan adalah sesuatu yang penting. Kenapa? Karena kita bicara pada komunitas target khalayak bernama Indonesia. Best practice selama ini membuktikan (universal); semakin kita bisa mengenal dan bicara dalam ‘bahasa’ yang sama dengan target kita maka kegiatan pemasaran dan terutama periklanan akan terasa lebih berhasil.

Apa yang khas atau yang paling Indonesia dari sebuah desain Indonesia? Banyak sudah polemik tentang hal ini. Sebagian menganggap bahwa identitas desain Indonesia tidak ada (dan mungkin tidak pernah ada) sebab desain sendiri tidak pernah mengenal negara dan bangsa-desain adalah bahasa universal. Sebagian lain menganggap bahwa seharusnya ada, tapi sulit berkembang karena macam-macam hal: globalisasi, tekanan industri, tidak adanya dukungan pemerintah, tidak ada kepribadian bangsa, dan lain-lain. Ada juga kelompok yang menawarkan jalan yaitu apapun yang dibuat, dirancang, dan diproduksi oleh orang Indonesia (maksudnya warganegara) di Indonesia adalah khas milik Indonesia, titik. Dari semuanya, tidak ada jawaban yang jelas merujuk pada satu model yang khas: Desain Indonesia. Maka itu, saya ingin memberikan pembedahan dari sudut lain yaitu melihat masalahnya bukan terletak pada desain secara intrinsik, tapi pada “kualitas” keindonesiaan yang ditanamkan padanya.

Keindonesiaan yang ideal?
Keindonesiaan itu sendiri adalah mozaik imajinatif. Dia menawarkan gagasan politik, gagasan etnis, gagasan ekonomi, gagasan historis, spiritual dan lain-lain-yang memperkaya imajinasi kita tentang Indonesia. Sebagai gagasan politik Indonesia dibayangkan sebagai kedaulatan utuh yang dipelihara oleh negara beserta aparatusnya. Sebagai gagasan ekonomi, Indonesia dibayangkan sebagai bangsa yang menganut ekonomi sosialisme. Sebagai gagasan historis, Indonesia dibayangkan sebagai keberlanjutkan dari Nusantara yang romantis. Sebagai gagasan etnis, Indonesia adalah kumpulan dari berbagai golongan etnis. Terakhir sebagai gagasan spiritual, Indonesia dibayangkan sebagai bangsa monotehisme, berketuhanan yang Maha Esa. Model ini diambil dari UUD 45, jadi tentunya merupakan sumber yang sahih. Tapi, apakah imajinasi itu melahirkan satu konsensus bulat? Suatu imajinasi yang sama? Jika forum ini bisa menjawab bahwa konsensus bulat itu ada, maka tidak ada masalah dengan urusan keindonesiaan kita. Saya menduga bahwa konsensus menyangkut di atas belum ada, sehingga perdebatan tetap berlangsung.
Model 1: sebuah negara yang aktif menyusun program “desain nasional”
Studi antropologi yang membahas tentang kebangsaan sudah dilakukan dan ada kecerahan dari sana semoga bisa membantu memecahkan masalah. Menurut Ernest Gellner (1983), bangsa sebagai kenyataan yang tidak terlepaskan dari industrialisasi yang bersifat masif yang ada pada sebuah negara. Negara menciptakan bangsa dan bukan sebaliknya (Gellner, 1987b :59). Secara singkat, sentimen kebangsaan adalah tipe kebudayaan yang secara otomatis akan berkembang setelah negara mencapai industrialisasi, tahap kesejahetraan ekonomi, pembagian kerja terdiferensiasi dan birokrasi massal yang efektif dan menjangkau ruang publik. Maka tidaklah mungkin mengharapkan bahwa perasaan kebangsaan akan muncul dalam masyarkat yang masih berada dalam tahapan bertani. Lanjutnya, kebangsaan merupakan proyek intelektual yang dibina oleh negara, dibangun secara akademis yang disebarluaskan ke seluruh populasi melalui kekuasaan negara melalui industri pendidikan, yang kelak juga menciptakan birokrat terdidik dan tenaga kerja terampil dalam roda industri. Dengan metode ini, negara mempromosikan apa yang disebutnya ‘kebudayaan publik yang tinggi’, maksudnya adalah hal-hal yang dianggap esensial dan ideal bagi identitas bangsa harus dikomunikasikan sehingga terjadi konsensus. Cara-cara produksi modern-tentunya termasuk desain grafis, industri periklanan-pun berperan mensejahterakan ekonomi, dan di atas semua inilah basis masyarakat yang matang terbentuk untuk mencapai bentuk suatu bangsa (Gellner, 1987b :95). Usaha-usaha intelektual untuk menciptakan identitas nasional selalu adalah proyek rekayasa kultural yang canggih. Banyak bukti-bukti menunjukkan bahwa segala sesuatu yang kita anggap “asli dan tradisional” dan “khas” sebetulnya merupakan rekacipta baru, namun dibuat sedemikian rupa menggunakan unsur-unsur kesejarahan sehingga publik mempercayai bahwa ada satu nilai kontinuitas dengan masa lalu yang dapat digunakan menjadi pembenar sejarah. Contoh paling mudah adalah Indonesia yang baru ada tahun 1945 dapat ditelusuri sejarahnya sampai ke Majapahit melalui seperangkat atribut kultural yang diseleksi oleh para founding fathers: Merah putih atau jargon nusantara. Seharusnya usaha-usaha seperti ini terus diperbaharui dan dicari kemungkinan lain selain dari imperial Majapahitan yang membosankan. Hal-hal semacam ini kurang diperhatikan oleh Indonesia.

Model 2: Indonesia ditengah kancah global?
Globalisasi memberikan akselerasi cepat terhadap arus-arus menyangkut hubungan ekonomi, teknologi komunikasi, migrasi, nilai-nilai. Pendeknya terjadi suatu keterhubungan luar-biasa yang memberikan dampak sosial, ekonomi, serta politik. Identitas keindonesiaan kemudian dianggap terancam oleh globalisasi. Terjadi dikotomi yang semakin kuat antara Barat yang diidentikan dengan kapitalis dan Timur yang diidentikan dengan Negara Dunia III yang secara ekonomi politik beroperasi menciptakan ketergantungan. Alih-alih bahwa segala bentuk bahasa desain grafis adalah universal, perusahaan-perusahaan besar tidak merasa bersalah ketika menyamakan efektivitas komunikasi desain ke dalam satu gaya saja. Mungkin ada saja desainer kita yang setuju, namun juga saya mendapatkan reaksi yang sangat lokal dari seorang pekerja iklan di perusahaan besar:

“Tahu apa mereka tentang rural orang Jawa di Bromo? Tahu apa mereka tentang pola hubungan suami istri Indonesia?”

Barat sendiri atau “Timur” sendiri apakah “SeBarat” dan SeTimur” yang kita duga? Gue ragu tuh jika Barat dan Timur benar2 terpisahkan oleh dinding. Negara Barat banyak mengambil elemen Ketimuran lalu dibaratkan dan dijadikan milik mereka, dan kemudian disebarkan ke seluruh penjuru dunia..Makanya ada pengertian exotic, yang sebenarnya itu cara-cara yang sangat Barat dalam mengolah hal-hal yang asing non-Barat… Masalahnya kalau industri desain dikelola dengan kemasan super kapitalis, maka apapun produk hasilnya pastilah berwajah kapitalis juga…walaupun ada gambar borobudur…itu sekedar bumbu eksotisme-nya…

Model 3: Desain Indonesia adalah problem khas Indonesia. ‘ bersambung kapan2.