
Ben Anderson mengatakan bahwa perbedaan antara kekuasaan dalam cara pandang Barat dan Jawa terletak di wujudnya. Bagi kebudayaan Barat, kekuasaan seorang pemimpin selalu abstrak dan hadir karena legitimasi. Makanya kekuasaan di akumulasikan lewat pemilihan umum. Sangat berbeda dengan Jawa, dimana kekuasaan haruslah empiris dan memiliki wujud konkret dan merupakan anugerah non-legitimasi. Kekuasaan datang dari langit dan memilih orang-orang yang tepat sebagai eksekutornya. Alam pikiran Jawa inilah yang kemudian dianggap sebagai sumber kekuasaan yang paling penting dan mengalahkan proses pemilihan demokratis. Tentu saja dong.. Kekuasaan kan datangnya dari “dunia atas”, artinya itu adalah petunjuk yang harus diemban oleh para pemimpin. Sebagai energi eksternal yang non-democratic, kekuasaan akan menempel terus pada seseorang selama alam mengkhendaki dan selama manusia mampu membaca “sasmita alam”.
Sedikit banyak kita menyukainya juga kok. Kita menyukai sesuatu yang kongkret: misalnya “harga beras murah” dan kita membenci yang abstrak misalnya: “hutang luar negeri tanpa konsultasi ekonomi jangka panjang”. Rakyat Indonesia kemungkinan besar tidak butuh pemimpin politik modern, yang dibutuhkan adalah pemimpin kharismatik yang mampu memberikan efek psikologis berupa keamanan dapur dan keterjangkauan harga. Cinta ribuan rakyat pada $oeharto adalah kecintaan terhadap realitas perut.. Hidup cari aman, nurut pada pemimpin, jangan terlalu banyak protes. Cinta ribuan rakyat pada $oeharto adalah cinta pada nostalgia “hidup normal” yang sangat kongkret tanpa pernah mau tahu akan bayang-bayang ketergantungan hutang luar negeri yang menggunung.
Cinta pada Bapak adalah cinta pada hidup semu yang nampak berkilat. Bahkan kita tidak paham bahwa kemewahan hidup generasi 80-an . dan kegetiran hidup generasi 2000an memiliki hubungan kausalistik yang sangat terang!
Life was so easy that time:
(gue inget masa satu dollar sama dengan seribu, gue inget juga sebungkus gudang garam filter Rp. 350)
Ketika kita harus bayar kesalahan OrdeBaru pada saat ini, ketika subsidi tiada, ketika bensin naik, ketika sawah ciut, ketika Djisamsoe 10.000,- kita juga cari pembenaran yang juga “sumbu pendek” tanpa nalar: “Oh, SBY gagal, Oh.. lebih enak jaman $oeharto.
Dan kita begitu mendadak sedih Bapak meninggal…
Dan kita berpaduan suara: Bapak jasanya sangat banyak, maafkanlah.
Selamat jalan Bapak Pembangunan!

