Rites of Passage dan Perpeloncoan

Kasus kematian pada saat acara penyambutan mahasiswa baru sering terjadi.  Kita semua mengutuknya termasuk saya.  Kenapa selalu ada acara khusus untuk mahasiswa baru yang menggunakan kekerasan fisik dan mental yang mengakibatkan kematian? Masyarakat terdidik macam apa ini yang justru meneruskan rantai kekerasan Orde Baru ke dalam kehidupan akademiknya? Oleh karena itu wajar sekali bahwa reaksi keras berdatangan sehingga berkali-kali juga kita dengar bahwa kampus melarang kegiatan penerimaan mahasiswa baru dengan garis bawah jelas. Perpeloncoan adalah kekerasan yang tak dapat ditolerir. Saya setuju.

Tulisan ini bermaksud menempatkan istilah “perpeloncoan”sebagai fenomena yang lazim dalam banyak kebudayaan di dunia ini. Perpeloncoan yang diamini dan diwajibkan dalam budaya. Dalam literatur Antropologi, perpeloncoan adalah satu subjek yang penting dan turut menyumbang pemahaman pada adanya ‘ritus peralihan’ atau rites of passage dalam siklus kehidupan manusia yang berbudaya. Arnold van Gennep dan Victor Turner melalui kasus-kasus di banyak suku-suku di Afrika melihat banyaknya upacara yang disebutnya “inisiasi” yang dilakukan sebagai tanda bahwa seseorang selalu berada dalam peralihan status dari tahap muda menuju dewasa, sehingga diterima sebagai anggota penuh dari kelompok. Peralihan terjadi dalam tiga tahap yaitu separasi, transisi, dan reinkorporasi. Pada masa separsasi, seseorang dihapuskan statusnya, sehingga masuk dalam periode in-between-status. Mereka tidak di sana, dan tidak di sini, berada dalam keadaan ambigu, gamang, galau, dan gelisah. Periode ini dinamakan masa liminal. Situasi absurd yang tidak menyenangkan dan penuh penderitaan. Masa liminal adalah periode berbahaya dan sangat disadari oleh kelompok yang melakukan upacara. Masa liminal dianggap adalah simbol yang dekat dengn kematian, dekat pada kelahiran, dibayangkan sebagai rahim ibu yang gelap atau bulan yang tertutup gerhana. Sehingga pada suatu titik terbawah secara mental dan psikologis, kelompok (atau istilah Turner “communitas”), akan menyelamatkan mereka, memeluk, memestakan dan memberi mahkota dan menerima dengan suka cita anggota masyarakat baru yang dianggap sudah dewasa.

Contoh:  pada masa separasi, kelompok pemuda yang belum dianggap dewasa dipisahkan dari kampung. Mereka diisolasi dan tidak boleh berkontak dengan dunia luar. Mereka harus menjalankan banyak sekali tugas-tugas berat yang datang dari kaum dewasa. Misalnya hidup tanpa makan cukup, tinggal di hutan dan digigit serangga. Mereka dipisah secara ekstrim dari status lamanya. Dalam periode segregasi ini biasa terjadi hal-hal seperti modifikasi tubuh seperti pembuatan tattoo, mengiris atau menoreh kulit untuk meninggalkan bekas luka, penyunatan alat kelamin, memasang anting-anting, dan lain-lain. Juga termasuk penelanjangan, dan pembotakan kepala perempuan seperti yang terjadi di suku Okiek Kenya dalam upacara koroseek. Sepertinya rasa sakit adalah bagian yang penting dari upacara. Sakit menandakan satu periode waktu pergantian status karena kemudian akan ada masa sembuh. Detailnya bisa dibaca di http://www.stthomasu.ca/~parkhill/rite101/ireps/gennep.htm

Jadi kemudian mengapa itu semua harus dilakukan? Antropolog percaya bahwa tujuan akhir dari ritus adalah memperkenalkan simbol-simbol baru dalam kehidupan bermasyarakat. Seseorang mendapatkan pengetahuan simbolis baru tentang solidaritas kelompok, dan nilai-nilai kedewasaan dan nilai hierarki sosial. Dalam tiap upacara, banyak sekali simbol-simbol yang dipergunakan. Biasanya simbol universal seperti darah (kelahiran, kehidupan), atau hal berasosiasi dengan putih (kehidupan-sperma, kesucian, kebersihan).  Apapun yang dapat “dikendarai” sebagai penyampai pesan simbolis.

Victor Turner membawa persoalan inisiasi atau rites of passage ini dalam konteks modern. Masyarakat modern tetap melakukannya dalam suasana komunitas yang mirip. Budaya korporasi mengenal drama-drama upacara seperti ini bagi para manajer muda yang harus dipelonco dulu. Kehidupan organisasi akademik pun melakukannya dengan memperkenalkan liminalitas pada mahasiswa yang disiksa dengan serangkaian tugas akhir yang gila-gilaan. Penutupan upacara ritual akademik dalam tahap hidup mahasiswa kemudian kita kenal sebagai upacara graduasi. Kita pun melakukannya dalam ritual perkawinan misalnya (ada pengasingan, ada liminal, ada pesta juga).

Tentu saja ini lain dengan bullying. Tidak ada kematian. Tidak ada kekerasan tanpa dasar. Apa yang ada adalah dramaturgi dalam kehidupan yang wajar.  Saya rasa komunitas yang masih mempraktikkan rites of passage dengan “benar” (atau konseptual) misalnya adalah jurusan-jurusan antropologi di seluruh dunia, termasuk 11 universitas negeri Indonesia. Ya, sebab mereka memang belajar hal ini sebagai bagian dari kuliahnya.

 

Semoga cukup menjelaskan.

 

 

 

 

 

Ujian Essay Bahasa Kebudayaan Kognisi.

UJIAN TENGAH SEMESTER ANTROPOLOGI INDONESIA

-          Dosen     : Ezra M. Choesin dan Iwan Meulia Pirous

-          Tanggal Ujian: Selasa 18 Juni. Dikumpulkan tanggal 24 Juni 2013 jam 10.00 melalui email dan softcopy.

-          Ujian dalam bentuk essay minimum 1000 kata, maksimum 1500 kata.

-          Jangan lupa kepustakaan. Kerjakan sendiri-sendiri.

 

Pendekatan Antropologi Linguistik formal memahami praktik kebahasaan sebagai sebuah struktur yang dapat dianalisa untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai media penyimpan pengetahuan dan digunakan dalam memahami dunia.  Pada akhirnya antropologi linguistik memahami bahwa fenomena kebahasaan dapat digunakan untuk memahami bagaimana kebudayaan bekerja. Namun, ada hal-hal yang tidak diperhatikan oleh pendekatan ini, yaitu bagaimana dimensi sosial politik dalam  kebahasaan.  Kita perlu memahami bagaimana konteks sosial, politik, dan ekonomi yang melingkupi praktik-praktik kebahasaan ketika digunakan dalam praktik.  Ada persoalan ideologi, stratifikasi sosial, posisi politik, pemilihan strategi penggunaan kata yang khas di luar urusan struktur formal kebahasaan yang juga penting untuk dipahami.

 

Tontonlah video pidato Ibu Tien Soeharto( durasi 7 menit) dalam pembukaan Taman Mini Indonesia Indah tahun 1975 dan buatlah analisa dalam opinimu. Kemukakan sebanyak mungkin hal-hak yang tersirat di balik narasi khas kekuasaan Orde Baru. Seraplah tiap pemilihan kata dan hubungkan dengan representasi-representasi visual yang dapat diamati. Gunakanlah artikel-artikel yang saya berikan untuk mempermudah analisis Anda. Pikiran segar ditunjang dengan teori sangat diharapkan.

Gunakan search engine dengan kata kunci: “Taman Mini, Tien Soeharto, Pidato”, atau langsung saja tonton di sini.

Ini videonya:

Selamat bekerja dengan giat!

Iwan Pirous.

UTS Etnisitas.

UJIAN TENGAH SEMESTER HUBUNGAN ANTAR SUKU-BANGSA.UT

  • -          Dosen  : Dr. Irwan Martua Hidayana, Drs. Iwan Meulia Pirous, MA
  • -          Tanggal Ujian: Senin 4 sampai  11 April 2013
  • -          Ujian dalam bentuk makalah dikerjakan di rumah.

 

Ketentuan teknis:

  1. Soal dikerjakan sendiri-sendiri. Tidak boleh ada kerjasama antar teman.
  2. Anda dapat menggunakan referensi teks dari buku, jurnal atau koran. Gunakan cara-cara pengutipan yang baik.
  3. Kemampuan analisis yang padat sangat diharapkan. Maka itu panjang jawaban tiap soal 300-400 kata.
  4. Serahkan ujian melalui e-mail (iwan.pirous@gmail.com) dan sekretariat dalam bentuk hard-copy tanggal 11 April 2013 pukul 11.00. Jangan terlambat.

 

  1. Etnis dan ras memiliki klasifikasi yang berbeda, tapi ada hal-hal yang sama. Bagaimana dua hal ini dijelaskan dalam memahami fenomena hubungan antar sukubangsa?  Kemukakan melalui contoh kasus.
  2. Kawasan perkotaan yang sudah modern tidak lepas dari konflik antar-warga. Jakarta adalah contoh bagaimana kota ini menjadi wilayah konflik antar-kelompok. Berikan satu contoh konflik antar-kelompok yang terjadi di Jakarta atau kota-kota besar lainnya dan kemukakan analisis Anda berdasarkan pendekatan etnisitas.
  3. Komponen kultural yang digunakan untuk membentuk identitas etnis menjadi ciri pembeda antar kelompok masyarakat atau kelompok etnis. Selain digunakan untuk mendefinisikan kekhasan kelompok, ciri-ciri tersebut digunakan dalam kebutuhan relasi sosial. Apa maksud pernyataan in dan gunakan kasus kasus yang relevan dalam penjelasan Anda.
  4. Agama menjadi ciri khas dari identitas etnis. Anda dapat setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan ini. Kemukakan pendapat Anda menggunakan contoh-contoh kasus.

 

Selamat bekerja.

 

Survey Terbuka

SURVEY TERBUKA PEMETAAN MASALAH PERKULIAHAN

Departemen Antropologi FISIP-UI.

Departemen Antropologi membuat survey  terbuka untuk mengetahui problem-problem yang dihadapi mahasiswa saat ini dalam menjalani perkuliahan. Hasil survey ini akan disampaikan dalam Raker Departemen tanggal 30 – 2 Februari 2012 untuk peningkatan kualitas pengajaran.. Untuk keleluasaan dalam berpendapat, maka nama Anda boleh tidak mencantumkan identitas. Harap mengembalikan formulir yang sudah diisi melalui email ke iwan.pirous(at)gmail.com dengan subject “survey pendapat mahasiswa”, selambat2-nya tanggal 27 Januari 2013. DOWNLOAD DISINI (Ms Word 2007).

AntropGlobalisasi diskusi anarkisme-antropologi.

Besok jam 08.30 kelas Antropologi Globalisasi yang sudah membaca artikel David Graeber “Fragment of Anarchist Anthropology” harap berdiskusi.
Dibawah ini adalah empat pernyataan yang merupakan trigger atau pemicu diskusi. Kalian dapat setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan-pernyataan dibawah ini.
  1. Pertukaran pasar yang dianggap biasa dan adil itu sebetulnya tidak bermoral.
  2. Marxist ingin melakukan revolusi secara strategis, Anarchist ingin hidup revolusioner dan sangat memperhatikan moralitas.
  3. Masyarakat sederhana-tradisional memperlihatkan pola kehidupan anarkis. Kita harus miskin, hidup sederhana untuk jadi anarkis.
  4. Akumulasi kekuatan dan kekayaan (baik itu kekuatan ekonomi ataupun kekuatan sosial) dianggap sebagai ancaman.
  5. Anarkisme melawan struktur apapun, maka dia sebetulnya kriminal.

 

Bahan Etnografi Indonesia JAWA.

Presentasi:
Kemukakan hal-hal penting tentang kebudayaan Jawa dalam hubungannya dengan:
1. Makna harmonis
2. Makna kekuasaan
3. Bagaimana hirarki Sosial terbentuk lewat pengasuhan anak dalam keluarga Jawa.

Bahan berikut dapat digunakan untuk membuat power-point kelompok. Semua ada di perpustakaan Puska Antropologi atau Perpus Pusat.

Kodiran. (2002). Kebudayaan Jawa. Dalam Koentjaraningrat, Manusia dan
Kebudayaaan Indonesia (329-352). Jakarta: Penerbit Djambatan.

Geertz, Hildred. (1983). Keluarga Jawa. Jakarta : Grafiti Pers

Javanse Conception of Power: http://air.lib.akita-u.ac.jp/dspace/bitstream/10295/546/3/kk9-5.pdf

Mulder, Niels. (1985). Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Jakarta: Sinar Harapan,
Anggota IKAPI. Slamet Ds, Trias Yusuf

bahan etnografi indonesia

 

Minggu 5 (9 Oktober).

Toraja: Ritual, Kosmologi dan Identitas sosial

Referensi:

Pakan, Priyanti (1977) “Orang Toraja: Identifikasi, Klassifikasi dan Lokasi”, Berita Antropologi: Majalah Ilmu Sosial dan Budaya. 9(32-33):21—49.

Volkman, Toby A (1987) “ The Periphery and The Past: Identity in Tana Toraja”, Southeast Asian Tribal Groups and Ethnic Minorities. Cultural Survival Reports 22. Hlm.97—108.

Waterson, Roxana (2000) “Holding Back the Mountain: Historical Imagination & the Future of Toraja Bugis Relations”, Antropologi Indonesia.24(63):65-81.

Aragon, LorraineV(2000) “Can Central SulawesiChristian  and Muslims Get Along? An Analysis of Indonesian Regional Conflict”, Antropologi Indonesia.24(63): 54-64.

Donzelli, Aurora(2003) ”Diversity in Unity: Multiple Strategies of a Unifying Rhetoric. The Case of Resemanticisation of Toraja Rituals: From ‘Wasteful Pagan Feasts’ into ‘Modern Auctions’”, Antropologi Indonesia 28(72):38–57.

Audio Visual: Film Puya .

Minggu 4 Batak: Batak dan Referensi Kekerabatan dalam Kehidupan Multikultural (2 Oktober 2012)

Referensi:

Bruner, E.M. (1974) ”The Expression of Etnicity in Indonesia”, dalam A. Cohen (peny.) Urban Etnicity. London: Tavistock. Hlm.251—288.

————– (1986) ” Kerabat dan Bukan Kerabat”, dalam (T.O Ihromi penyun.) Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia. Hlm159-179.

Purba, Mouly (2000), ”Gereja dan Adat: Kasus Gondang Sabangunan dan Tortor”, Antropologi Indonesia 26(62):25—41.

Harahap, Irwansyah (2000), ”Rasionalisasi Religius dalam Diskursus Keagamaan di Indonesia: Kasus Parmalin Batak Toba”, Antropologi Indonesia 26(61):26—36.

Singarimbun, Masri (1975) Kinship, Descent and Alliance Among  The Karo Batak. California: University of California Press. Hlm 1-12, 33-54,70-96, 189-198.

Minggu  3 (25 september 2012)

Minangkabau: Perubahan Sosial dan Pembentukan Identitas Etnis

Referensi

Marzali, Amri (2000), ”Dapatkah Sistem Matrilineal Bertahan Hidup di Kota Metropolitan”, dalam Antropologi Indonesia. 24(61):1—15.

Beckmann, F Benda & Keebet von Benda Beckmann (2002) ”Recreating The Nagari: Decentralization in West Sumatra”, dalam Proceeding Jurnal Antropologi Indonesia. Klik disini

Kato, Tsuyoshi (1978) ”Change and Continuity in the Minangkabau Matrilineal System”. Indonesia (25): 1-15. Klik disini

(Indrizal, Edi (2005) ”Problematika  Orang Lansia Tanpa Anak  di dalam Masyarakat     Minangkabau, Sumatra Barat”, Antropologi Indonesia. 29(1):69—92.)

Chadwick, R.J. (1991)  ”Matrilineal Inheritance and Migration in a Minangkabau Community”, dalam Indonesia, Vol. 51. pp. 47-81 (klik disini).

 

Minggu 2 Papua: Papua dan Masalah Penguatan identitas etnis dan pemekaran

Referensi:

Suparlan, Parsudi (1998) “ Kesukubangsaan dan Primordialitas: Program  Ayam di Desa Mwapi, Timika, Irian Jaya”, Antropologi Indonesia 21(54):38—61.

Visser, Leontine (2001), ”Remaining Poor on Natural Riches: The Politics of Environment in West Papua” Antropologi Indonesia 25(64):56—67.

Suparlan, Parsudi (2001), ”Orang Kamoro: Perubahan Kehidupan dan Lingkungannya”, Antropologi Indonesia 25(64):84—90.

Timmer, Jaap (2001) “Government, Church and Millenarian Critique in the Imyan Tradition of the Religious Papua”, Antropologi Indonesia 25(65):40—59.

 

Minggu 1:

Definis Etnografi, Self-Others, Metode Komparatif

Referensi:

Fay, Brian (2002) Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer. Yogyakarta: Jendela. Bab 1 & 11.

Suparlan, Parsudi (2002), “Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural”, Antropologi Indonesia. 26(69):98—105.

(2004) Antropologi Indonesia 28(75).

Gay y Blasco, P., & Wardle, H. (2006). How to read ethnography. Abingdon [England] ;New York: Routledge.

Boas, Franz (nd) The Limitation of Comparative Method (http://www.anthrobase.com/Browse/home/hst/cache/bocomp.html)

Hammersley, M. and P. Atkinson (1995). Ethnography : principles in practice. London ; New York, Routledge.

 

Tuan Presiden, rakyat hanya ingin bahagia

“Saya menolak memaksa mahasiswa untuk membayar lebih banyak atau menghapus tunjangan kesehatan orang miskin, cacat, dan berusia lanjut, dan terus akan menolak pemotongan pajak untuk orang-orang yang kaya”

“Selama saya jadi presiden saya takkan pernah minta pada keluarga kelas menengah untuk membayar pajak lebih besar hanya semata-mata untuk bantu orang kaya membayar kewajiban pajak mereka!” Kenapa begitu? Sebab itu bukan Amerika yang kita mau!”

Kutipan di atas adalah pidato penerimaan Presiden Obama untuk ikut kembali pemilihan periode 4 tahun ke depan dalam acara Konvensi Demokrat 2012 hari Kamis tanggal 6 September lalu. Obama menggetarkan bukan karena menggunakan bahasa biasa, matematika biasa dan logika yang gampang dicerna. Dia tahu apa yang harus dikatakan dan yang tidak. Menggetarkan karena dia meyakinkan rakyat pemilihnya bahwa Amerika bisa berubah ke arah yang lebih baik. Dia tunjukkan rute-nya lewat program-program yang paling mendasar: kepastian tentang keadilan sosial yang bisa dilalui bersama. Menggetarkan karena dia hangat, bersemangat, dan merangkul pendengarnya.

Menyaksikan Obama bicara 39 menit menukik ke persoalan paling penting yaitu kewarganegaraan, kepala penuh dengan pertanyaan sederhana: Apakah saya sudah merasa dilindungi di negara sendiri? Apakah presiden saya sudah melindungi saya seperti bapak melindungi anak-anaknya? Apakah dia memikirkan saya yang berpenghasilan pas-pasan dengan pengeluaran terlalu banyak? Apakah dia memikirkan dana pensiun rakyat? Apakah dia resah dan berdoa untuk keselamatan rakyatnya yang 200 juta lebih? Apakah Undang-undang Dasar 1945 digunakannya untuk melindungi hak-hak dasar saya?

Saya tidak yakin. Raut wajah presiden terlalu muram di depan publik, dan malah cenderung pemarah. Mungkin dia bahagia ketika mencipta lagu, tapi rakyat tidak butuh itu. Saya membutuhkan pemimpin yang memberikan harapan bahwa bahagia itu tidak terlalu jauh di depan mata. Presiden yang bisa membangkitkan harga diri. Bukan dengan monolog mitos-mitos romantis bangsa besar, bukan dengan pencapaian statistik, bukan dengan instruksi-instruksi moralitas di depan TV, tapi presiden yang bisa memahami perasaan rakyat yang terlalu lama menunggu perbaikan nasib setelah merdeka 67 tahun.

Tentu saja Indonesia tidak sama dengan Amerika. Tapi kesamaan mendasar sebagai negara modern pasti ada. Sama-sama percaya pada demokrasi walau dikuasai korporasi, kerepotan dengan hutang dan jumlah pengangguran rakyat tinggi, serta diancam oleh terorisme. Bahkan secara kultural ada miripnya: sama-sama religius, phobia komunisme, dan secara alamiah multi-etnis. Kita sama-sama jatuh-bangun, sakit, dan terancam oleh “musuh” dari luar dan dari dalam. Bedanya, Amerika berusaha sembuh dan bangkit, kita tidak. Bedanya, Amerika tidak membiarkan rakyatnya berjuang sendirian. Kita semua tahu presiden bukanlah Superman, tapi setidaknya dia harus terbiasa menepuk-nepuk punggung rakyatnya agar rileks menghadapi kehidupan keras.

Kewarganegaraan lebih penting dari Nasionalisme
Perasaan kebangsaan berawal dari mitos-mitos heroik revolusioner. Tapi itu tidak kekal. Nasionalisme sesungguhnya harus dipelihara dari perlakuan baik negara pada rakyatnya. Maka kewarganegaraan ini apa artinya jika tidak ditunjang dengan pelayanan publik? Kemana pajak yang dibayar itu, apakah dikembalikan dalam bentuk pelayanan dan pemberian rasa aman? Apa yang hilang dari Indonesia adalah rasa aman sebagai warganegara. Dalam hal ini rakyat sudah berada dalam kondisi bahaya. Kita bisa dibunuh karena kebebasan beragama, bisa mati di jalan karena hukum rimba lalulintas, bisa kelaparan karena uang belanja habis atau tidak ada uang berobat. Bahkan kita mungkin saja dihilangkan karena terlalu galak pada negara. Keamanan satu-satunya tersisa dalam lingkup kecil keluarga, kerabat, dan tetangga, itupun jika ada. Keluarga adalah teritori hangat yang tidak membutuhkan negara dan presiden.

Mungkin presiden saya tertekan oleh banyak beban sejarahnya sendiri. Dia terpilih karena koalisi-koalisi dan lobi-lobi yang membuat posisinya sulit. Mungkin dia punya “masalah kebudayaan sendiri” karena harus memihak para patron politiknya serta keluarganya sebagai balas-budi dan sopan-santun. Mungkin dia takut dibunuh oleh organisasi teroris seperti yang pernah diakuinya di televisi. Jangan-jangan Tuan Presiden merasa sendirian juga ketika menuju ke puncak kekuasaan sehingga tidak perlu memandang pada tangan-tangan rakyat yang membawanya ke puncak itu. Saya hanya menduga karena dia tidak pernah cerita.

Maka saya butuh presiden baru yang tak punya beban-beban yang membuatnya tersandung. Orang jujur yang membuka sejarah diri dan bangsanya pada publik. Seorang figur yang cepat minta maaf jika melakukan salah atau meleset dalam menjalankan program. Orang yang memberikan rasa aman, ketika perbaikan nasib sedang dilakukan. Presiden yang berani memihak pada kebenaran, sekalipun mengancam kredibilitas. Seorang presiden yang mencintai dan menegakkan hak asasi manusia tanpa pandang bulu. Seorang Presiden yang malu terhadap korupsi. Seorang presiden yang yakin untuk memulai segala hal dari kejujuran yang bersih. Seseorang yang bukan bagian dari masalah kronis Indonesia. Seseorang yang membuat saya bahagia.

7 September 2012

Hitung-hitungan antara warga Jakarta dan warga negara

Faisal Basri kalah terus gimana? Pada putaran pertama Pilkada 2012-2017 hati saya bulat dengan Faisal Basri dengan harapan bahwa “gubernur twitter” yang berani maju tanpa dukungan partai bisa jadi kenyataan memerintah Jakarta secara bersih. Tentu saja calon saya kalah secara terhormat. Sisanya adalah kandidat hitam-putih. Foke yang mewakili suara konservatif, dan Jokowi yang mewakili perubahan. Di atas kertas seperti calon Republican lawan Democrat. Di sini masalahnya mulai.

Tidak mau Foke. Orangnya pemarah, otoriter, dan kebijakannya memihak pada pembangunan komersial dan menomorduakan fasilitas publik. Jalan kaki di Jakarta saja saya bisa mati dilindas mobil, ditabrak motor atau digilas bis. Dia potensial membunuh warga pejalan kaki. Oke sudahlah.

Jokowi identik dengan keberhasilan efisiensi birokrasi kota Solo sampai ke tingkat radikal. Jokowi ingin melayani warga dan mempermudah hidup orang dalam urus ini urus itu. Juga berpihak pada ruang publik untuk pejalan kaki. Solo menjadi rindang dan kaya oksigen. Jokowi terbuka terhadap kenyataan bahwa Solo memiliki masalah kemiskinan yang harus dibenahi. Maka ada harapan akan perubahan Jakarta. Warga sudah terlalu capek dengan kotanya yang tak manusiawi. Dia juga berpenampilan mirip tetangga sebelah: kerempeng, merakyat dan sederhana. Kesederhanaan yang elok.  Cocok sebagai figur pemimpin rakyat—terutama mewakili rakyat miskin. Kita untuk pertama kalinya punya pilihan cocok!

Tapi saya bimbang. Jokowi maju sebagai anggota partai PDI-P dan berkoalisi dengan Gerindra. Saya  patah arang dengan iklim kepartaian Indonesia pasca-reformasi. Orang-orang pintar dan baik di partai kok tidak muncul.  Tokoh-tokoh partai yang berpengaruh adalah orang-orang lama yang tidak terlalu ingin mundur. Partai adalah mesin uang, bukan mesin transformasi sosial. Puncaknya adalah Prabowo-Gerindra yang punya masalah dengan pelanggaran HAM dan berambisi jadi presiden masa depan.

Dilematis. Saya capek hidup di Jakarta “biadab” dengan kemacetan, gurita birokrasi, pemerkosaan hak warga terhadap ruang publik. Kalau saya pilih Jokowi maka saya ingin perubahan kota menyeluruh sebagai bagian dari hak-hak saya sebagai warga yang butuh pelayanan publik baik. Kalau saya pilih Jokowi, kemungkinan saya ditabrak di jalan raya mengecil. Pada saat yang sama, Jokowi juga adalah pion Prabowo untuk naik tangga jadi presiden. Kemungkinan warga untuk mati karena kecelakaan lalu-lintas mengecil, tapi kemungkinan Indonesia untuk melakukan pelanggaran HAM terhadap warganegara membesar. Sampai hari ini tidak pernah terdengar Prabowo membicarakan sejarah kelamnya, dan juga tak pernah ada konfirmasi dari Jokowi-Ahok tentang hubungan mereka.

Saya masih bisa tahan macetnya kota, lambannya birokrasi, hancurnya sarana pejalan kaki dan mahalnya ruang publik. Tapi siapa yang tahan hidup dalam ketakutan terhadap pencabutan hak-hak asas manusia? Anda?

Memilih Jokowi itu berjudi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Apa dia bisa membuat Jakarta jadi The  Big Solo? Semoga saja demikian. Semoga saja dia bisa tolak Prabowo dengan keras seperti dulu dia menolak gubernur Jateng Jenderal  Bibit Waluyo yang ingin bikin mall. Maka berilah dia kesempatan membuktikannya. Suara kita sekecil apapun akan berperan terhadap perubahan Jakarta lebih baik.

Tapi memilih untuk tidak memilih juga sama berjudinya. Kita tidak tahu masa depan Indonesia akan seperti apa. Suara kita sekecil apapun untuk Jokowi bisa jadi membawa perubahan terhadap keburukan Indonesia masa depan. Maka sebagai warga Jakarta yang ingin perubahan saya tetap bilang: “tunggu dulu, hati ini tidak enak dan cemas”. Hari ini saya masih belum yakin-yakin amat. Entah Kamis.

Harapan untuk pilkada Kamis 20 September: Jakarta punya gubernur baru. Tapi yang paling penting sanggupkah kita dan warga menjaga gubernur baru itu dengan senantiasa mengingatkannya dengan protes massal dan  keras jika saja dia mulai bersikap lunak terharap rongorongan mafia yang mengganggu program-program baiknya untuk Jakarta Baru. Sanggupkah untuk tidak meninggalkannya repot sendirian menjaga dan memelihara Jakarta?  Karena seharusnyalah kita sayang pada gubernur kita dan selalu ingat bahwa kita punya hak-hak warga yang harus terus disuarakan.

 

 

Faisal-Biem paling sensitif mengenali penyakit Jakarta

Beberapa jam lagi saya akan datang untuk menggunakan hak pilih. Saya pilih hanya mau pilih calon yang sensitif terhadap hal-hal menyangkut kepentingan warga di atas segalanya. Buat saya terjemahan “Berdaya Bareng-Bareng” tepat untuk kota Jakarta yang sakit parah. Maka saya pilih gubernur yang sensitif terhadap penyakit Jakarta seperti di bawah ini:

  1. Pembangunan yang berpihak untuk orang kaya. Hubungan-hubungan sosial sudah digantikan oleh hubungan ekonomi. Siapa yang punya uang banyak, dia yang mendapatkan segala haknya. Bukti, ruang publik umum untuk arena sosial warga menyempit digantikan oleh kawasan mall berbayar dan mini market sebagai “mesin uang” yang semakin banyak tanpa kendali.
  2. Pembangunan identik dengan pengadaan infrastruktur fisik. Tidak ada pembangunan sosial. Gotong-royong, tolong menolong dan hangatnya hubungan antar warga menjadi hal yang asing bagi warga kota. Warga saling tidak mengenal dan sibuk terkotak-kotak dengan kesibukan sendiri-sendiri. Kita tak lagi begitu mengenal tetangga, cemas dengan perbedaan kepercayaan, dan cemas dengan kesendirian dan asing dengan kerjasama ditengah berbagai masalah khas kota besar.
  3. Rakyat kehilangan perlindungan dari rasa takut. Kekerasan antar kelompok sipil dengan atribut etnis dan agama dianggap hal biasa dan remeh. Tidak ada kebebasan dari rasa takut di ruang publik.
  4. Partai (tega) melupakan warga. Sistem kepartaian yang seharusnya melegitimasi kepentingan-kepentingan representatif warga justru dikotori oleh uang dan komisi yang hadir sebagai hutang-hutang budi dalam rangka meraih kekuasaan yang hirarkis itu. Maka terlepas dari aspirasi politik warga, kepentingan warga (selalu) ada dalam prioritas bawah. Saya jenuh dan marah.
  5. Tidak ada mekanisme musyawarah bersama di tingkat balai kota bagi warga untuk menegakkan hak-hak atas air bersih, jalanan lancar, kualitas udara bersih dan lingkungan yang baik. Saatnya warga turut menentukan dengan aksi langsung.

Saya pikir dan percaya Faisal-Biem melihat dengan kacamata yang kurang lebih sama dengan saya dan mereka dapat melakukan perubahan membawa Jakarta yang lebih manusiawi, bersemangat sosial dan memihak warga kalau saja dia diberi kesempatan.

Iwan Pirous

 

Posted in: Uncategorized |